Sebelum candi-candi menjulang, sebelum nama dewa dan arca dari India diperkenalkan, Jawa telah memiliki seperangkat etika-kosmologis yang berlaku. Keberadaannya dijaga dan diselaraskan Para Wiku.
Struktur sosial Jawa Kuno tidak mengenal pemisahan kaku antara sakral dan profan. Namun secara fungsional, peran mereka terbaca secara jelas: Wong tani dan pelaut menggerakkan hidup, Tetua adat mengambil keputusan, dan Wiku menjaga nilai-nilai kosmologis agar tetap seimbang. Wiku sebagai entitas sosial Jawa, tidak muncul pada abad tertentu, melainkan kelanjutan dari tradisi asketik Jawa Kuno yang telah ada sejak zaman prasejarah.
Sebelum agama-agama luar dan aksara hadir di Jawa, Wiku berperan sebagai penjaga kisah asal-usul dan ingatan kolektif masyarakat. Mereka menjaga sumber mata air dan bukit karst agar tetap keramat dan tidak dirusak. Soejono (1984) menyebut, sebelum agama formal datang, perbukitan kapur karst sudah dikeramatkan sejak masa prasejarah akhir (sebelum 5 M). Di sinilah peran Wiku sebagai penyambung antara yang profan dan yang transenden.
Ilustrasi: perbukitan karst dan aliran anak sungai
Wiku tak bergerak dari ruang mandat administratif, melainkan bergerak di ranah pertanda dan keseimbangan kosmologis. Mereka tahu kapan waktu baik untuk menanam, kapan upacara perlu dilakukan, dan kapan manusia harus menahan diri. Wiku membaca musim, pergerakan angin, dan perubahan tanda-tanda alam. Pemahaman itu tak datang dari kitab, melainkan dari pengamatan dan kepekaan turun-temurun terhadap pola irama alam dan waktu.
Baca Selengkapnya

