Pasbana - Tidak ada yang benar-benar bersiap ketika bus tiba-tiba melambat di Sicincin. Bukan karena pemandangan spektakuler, bukan pula karena pengumuman resmi dari kernet.
Tetapi semua penumpang—entah sadar atau tidak—seakan tahu: sebentar lagi ada jeda. Jeda yang pendek, tapi melekat lama dalam ingatan.
Pada dekade 1980–1990-an, bagi mereka yang rutin menempuh rute Padang–Bukittinggi, Terminal Sicincin bukan sekadar titik administrasi. Ia adalah simpul kecil dari ekonomi rakyat, ruang sosial dadakan, sekaligus panggung bagi para “uniang-uniang pejuang rupiah”.


