Kehidupan berkelimpahan ternyata tidak selalu membutuhkan lebih banyak—melainkan keberanian untuk berkata cukup.
Di dataran tinggi Gunung Lamu, di tengah lipatan tanah Timor yang keras dan angin yang tak pernah sepenuhnya jinak, hidup orang-orang Boti dengan cara yang tampak sederhana—nyaris purba—namun justru itulah yang membuat mereka terasa radikal di zaman ini.
Di saat dunia berlomba menumpuk, Boti memilih menahan diri. Di saat kota-kota berisik dengan jargon pembangunan, mereka bekerja dalam diam, menanam, menenun, dan menunggu musim dengan kesabaran yang nyaris dianggap kemunduran oleh logika modern.
Saya pertama kali datang ke Boti pada 80-an. Dua minggu hidup bersama mereka terasa seperti memasuki ruang waktu yang lain. Tidak ada listrik, tidak ada televisi, tidak ada jam yang memaksa. Yang ada hanyalah matahari sebagai penanda kerja, tanah sebagai guru, dan tubuh sebagai pengingat batas.
Di sana, swadesi bukan slogan politik atau teori ekonomi yang dikutip di seminar, melainkan praktik harian yang tak perlu dijelaskan: makan dari ladang sendiri, berpakaian dari benang yang ditenun tangan sendiri, membangun rumah dari bahan yang diberikan alam tanpa harus menaklukkannya.
Baca Selengkapnya

