Oleh: ANDRI SAFRIZAL, S.AB
Alumnus STIAPEN
MERAWAT INGATAN
Biografi Perintis Jalan Damai Aceh
“Merawat Ingatan” ini tak mungkin ditulis orang asing. Bahkan tak mungkin ditulis dari kenyamanan Jakarta. Mungkin hanya kedai kopi khas Aceh yang dapat melahirkannya. Menarik juga saya perhatikan, penulisannya menyeberang jurang antar-generasi. Rangkaian kata-kata merdu yang diciptakan seniman muda dalam buku ini menggambarkan kepahlawanan orang zaman lain yang tak boleh dilupakan. Baik sekali kalau ia bukan yang terakhir, melainkan yang pertama dari sederet buku sejenis. Dunia memerlukannya. Acehpun memerlukannya (Prof. Gerry van Klinken).
Buku ini adalah hasil nyata model kerjasama antar-bangsa dan antar-universitas yang menjadi visi ICAIOS. Hampir semua penulis dalam buku ini adalah alumni sebuah pelatihan masterclass (Rangkang Manyang) yang diselenggarakan ICAIOS bersama Prof. Gerry van Klinken dari KITLV Belanda pada tahun 2010. Mereka berasal dari berbagai universitas dan lembaga yang ada di Aceh. Editornya juga menunjukkan wajah ideal kerjasama yang dicita-citakan ICAIOS. Dr. Saiful Mahdi adalah dosen Universitas Syiah Kuala dengan PhD dari Cornell University. Dr. Reza Idria adalah dosen UIN Ar-Raniry dengan PhD dari Harvard University. Sementara Dr. Muhammad Riza Nurdin pernah menjadi Manajer Program ICAIOS periode 2011-2014 dengan PhD dari UNSW Australia. ICAIOS menjadi jembatan kerjasama antar-bangsa dan antar-universitas sambil terus melahirkan peneliti dan intelektual independen. Kerjasama antar-bangsa dan antar-universitas seperti ini perlu diperbanyak dan diperkuat di masa depan (Dr. Cut Dewi, ST., MT., M.Sc).
Buku ini mengulas proses merintis jalan damai menuju meja perundingan, sekaligus menjadi pengingat atas jasa para pahlawan yang kerap berada di balik layar sejarah. Salah satu hal yang paling menarik perhatian dalam buku ini adalah kehadiran nama-nama penting yang selama ini jarang disorot secara luas, seperti Rosni Idham dengan puisinya yang menggugah, Yusny Saby dan tim elit “nasi bungkus”, Imam Syuja’ sebagai sosok heroik, Nasruddin bin Ahmad, Muhammad Nur Djuli, Teuku Kamaruzzaman sebagai anak birokrat yang memilih jalan perlawanan, hingga Zaini Abdullah. Catatan biografi dalam buku ini disajikan secara ringkas, namun sarat makna, dengan menyoroti beragam peristiwa dan peran penting para tokoh dalam proses perdamaian di Aceh.
Baca Selengkapnya

