Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi dan akademisi Seni Universitas Syiah Kuala
Pernahkah Anda merasa cemas saat kecerdasan buatan mampu menggubah simfoni atau melukis potret dalam hitungan detik? Di ruang-ruang kampus seni Aceh, kegelisahan itu bukan wacana jauh. Ia hadir dalam percakapan sehari-hari. Jika mesin bisa mencipta dengan cepat dan presisi, masihkah proses panjang menjadi seniman memiliki arti?
Barangkali yang perlu ditinjau ulang bukan keberadaan mesin, melainkan cara kita memahami seni itu sendiri. Kecerdasan buatan bekerja dengan pola. Ia menyerap data, mengolah bentuk, lalu menghadirkan ulang dalam variasi yang nyaris tak terbatas. Kemampuannya mengesankan, bahkan sering melampaui keterampilan teknis manusia. Namun ia tidak mengalami. Ia tidak memiliki ingatan yang hidup, tidak berakar pada sejarah, dan tidak tumbuh dari pergulatan batin. Ia dapat menghasilkan karya, tetapi tidak menyimpan kedalaman yang lahir dari pengalaman.
Kita sedang hidup dalam limpahan produksi. Segala sesuatu bisa dibuat, direplikasi, dan disebarkan dengan mudah. Yang mulai langka justru makna. Karya hadir dalam jumlah tak terbatas, tetapi tidak semuanya memiliki isi yang mampu bertahan dalam ingatan.
Di titik ini, posisi sarjana seni perlu bergerak. Penguasaan alat dan teknik tetap penting, tetapi tidak lagi cukup. Peran baru menuntut lebih dari sekadar keterampilan. Kita perlu menjadi pembaca zaman, penafsir realitas, dan penyusun arah. Kita perlu menjadi navigator makna. Mesin dapat menunjukkan apa yang bisa dibuat, sementara manusia menentukan apa yang layak dihadirkan.
Baca Selengkapnya

