Dalam memperjuangkan kemerdekaannya, Indonesia kerap kali diperhadapkan dengan konfrontasi militer, yang mengancam stabilitas keamanan nasional. Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, para pejuang sampai rela mempertaruhkan nyawa demi kepentingan bangsa dan negara.
Mengenai hal ini, kelompok pejuang akan mati-matian memodernisasi senjata tempur yang laik guna memberikan perlawanan yang berarti kepada pihak penjajah. Dengan segala upaya, baik dalam bentuk yang diplomatis hingga perebutan paksa, pahlawan bangsa berusaha mencapai tujuan yang dimaksud.
Kali ini, kita akan berkenalan lebih dekat dengan PT. Pindad. Seperti apa perusahaan alutsista kebanggaan Indonesia ini?
Sejarah Masa Lampau
Dikutip dari web resminya, yaitu sekitar tahun 1808, William Herman Daendels selaku Gubernur Jenderal Belanda yang berkuasa waktu itu mendirikan bengkel (workshop) untuk pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan alat-alat perkakas senjata Belanda bernama Contructie Winkel (CW) di Surabaya.
Inilah yang nantinya menjadi cikal bakal PT. Pindad (Persero) sebagai satu-satunya industri manufaktur pertahanan di Republik Indonesia. Selain bengkel senjata, Daendels juga mendirikan bengkel amunisi berkaliber besar bernama Proyektiel Fabriek (PF) serta laboratorium kimia di Semarang.
Pada perkembangan selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda mendirikan bengkel pembuatan dan perbaikan amunisi serta bahan peledak untuk angkatan laut mereka yaitu Pyrotechnische Werkplaats (PW) pada tahun 1850 di Surabaya.
Pada 1 Januari 1851, penamaan CW diubah menjadi Artilerie Constructie Winkel (ACW). Dua lustrum berselang, dua bengkel persenjataan yang berada di Surabaya, ACW dan PW disatukan dibawah naungan entitas ACW. Dari situlah, ACW memiliki tiga instalasi produksi, antara lain unit produksi senjata serta alat perkakasnya, amunisi dan barang pendukung lain yang berhubungan dengan bahan peledak, hingga laboratorium penelitian mengenai bahan maupun barang hasil produksi.
Memasuki periode Perang Dunia I, pemerintah kolonial mulai mempertimbangkan rencana relokasi sejumlah instalasi penting untuk keamanan. Adapun Bandung dinilai lebih cocok sebagai tempat relokasi karena selain memiliki kontur wilayah berupa perbukitan dan pegunungan sebagai benteng alami, posisinya juga sangat strategis karena sudah memiliki sarana transportasi yang memadai, seperti Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) serta jalur kereta api Staats Spoorwegen yang berada tidak jauh dari Batavia (sekarang Jakarta) sebagai pusat administrasi.
Maka pada rentang waktu 1918-1920, ACW dipindahkan untuk pertama kalinya ke Bandung seturut rencana semula. Proses relokasi ini bersifat menyeluruh, dikarenakan instalasi persenjataan lain seperti PF dan laboratorium kimianya serta Institut Pendidikan Pemeliharaan dan Perbaikan Senjata dari Jatinegara bernama Geweemarkerschool turut terlibat. Semua instalasi yang telah direlokasi ini akhirnya dilebur dibawah naungan Artilerie Inrichtingen (AI).
Pada masa pendudukan Jepang, AI tidak banyak mengalami perubahan, baik pada penambahan instalasi maupun proses produksinya. Perubahan lebih ditonjolkan terhadap tata administrasi dan organisasi sesuai sistem kemiliteran Jepang. Adapun nama pada ACW diubah menjadi Dai Ichi Kozo, Geweemarkerschool menjadi Dai Ni Kozo, PF menjadi Dai San Kozo, PW menjadi Dai Shi Kozo, dan Monrage Artilerie menjadi Dai Go Kozo yang merupakan instalasi pecahan ACW. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, Laskar Pemuda Pejuang berhasil merebut ACW dari tangan pasukan Jepang lalu menamainya dengan Pabrik Senjata Kiaracondong pada 9 Oktober 1945.
Sayangnya, pendudukan oleh para pemuda tidak berlangsung lama karena Belanda kembali ke Tanah Air melalui ‘tumpangan’ Inggris sebagai bagian dari Sekutu. Pabrik Senjata Kiaracondong kemudian dibagi dalam dua instalasi utama, antara lain Leger Produktie Bedrijven (LPB) yang berasal dari peleburan ACW, PF, dan PW serta Central Reparatie Werkplaats yang sebelumnya adalah Geweemarkerschool.
Era Kemerdekaan
Melalui hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yang menyatakan bahwa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) tertanggal 27 Desember 1949, pada akhirnya Belanda pun secara bertahap menyerahkan aset-aset yang ada kepada pemerintah Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Sukarno, termasuk dengan LPB. Selanjutnya, LPB berganti nama menjadi Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM) yang pengelolaannya merupakan tanggung jawab dari TNI Angkatan Darat. Sejak saat itu, PSM mulai melakukan serangkaian percobaan pengadaan laras senjata, dan berhasil memproduksi laras senjata berkaliber 9 mm, yang berikutnya juga berhasil memproduksi laras dengan kaliber 7,7 mm pada November 1950.
Pada 1 Desember 1958, PSM lalu diubah namanya menjadi Pabrik Alat Peralatan Angkatan Darat (Pabal AD). Pabal AD bukanlah sekadar memproduksi senjata dan amunisi, melainkan juga peralatan militer lain agar menumbuhkan kemandirian alutsista di dalam negeri. Banyak anak muda Indonesia yang dikirim ke luar negeri untuk mempelajari teknik pembuatan senjata dan balistik yang lebih mutakhir. Berbagai produk militer berhasil dibuat oleh Pabal AD. Pada titik ini pula, pemerintah Belanda pun menyerahkan Cassava Factory, pabrik tepung ubi kayu di wilayah Turen, Malang, Jawa Timur, yang kemudian berubah menjadi lokasi Divisi Amunisi PT. Pindad (Persero).
Sekitar tahun 1962, Pabal AD mengalami perubahan nama lagi menjadi Perindustrian TNI Angkatan Darat (Pindad). Proses produksi Pindad dilakukan dengan mengikuti kebutuhan dari TNI Angkatan Darat. Serangkaian percobaan maupun evaluasi pembuatan senjata baru pun dilaksanakan dan menghasilkan berbagai Surat Keputusan dari Angkatan Bersenjata untuk menggunakan senjata dari Pindad sebagai senjata standar. Setelah itu, senjata mulai diproduksi secara massal.
Singkat cerita, pada 29 April 1983, Perindustrian Angkatan Darat resmi beralih status dari institusi dibawah naungan Departemen Pertahanan dan Keamanan menjadi Perseroan Terbatas (PT), dengan nama baru adalah PT. Pindad (Persero). Kata “Pindad” di belakang PT bukan merupakan singkatan, melainkan menunjukkan kedudukannya sebagai nama yang utuh. Sejak penandatanganan serah-terima pengelolaan Pindad dari Kasad Jenderal (TNI) Rudini kepada B. J. Habibie pada tanggal yang sama, tanggal ini diperingati sebagai hari ulang tahun PT. Pindad (Persero) hingga kini.
Berbagai Senjata yang Diproduksi
PT. Pindad (Persero) diketahui telah mendiversifikasikan produk militernya dalam beberapa tipe, yaitu jenis senapan serbu, senjata dengan mesin otomatis, mortir, pistol, shotguns, dan lain-lainnya. Senjata seperti SS3-M1, SS2-V5 A1, atau SS Amphibious—itu semua adalah hasil produksi dari perusahaan ini.
Menarik juga, ya, bagaimana PT. Pindad (Persero) berevolusi dari yang awalnya adalah instalasi senjata milik Belanda sampai dengan kehadirannya sekarang sebagai perusahaan alutsista andalan dalam negeri. Apakah ada Kawan GNFI yang tertarik ingin bekerja di PT. Pindad (Persero)?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


