mantiqut tayr dan merak hijau dari utara pFlpiH - News | Good News From Indonesia 2026

Mantiqut Tayr dan Merak Hijau dari Utara

Mantiqut Tayr dan Merak Hijau dari Utara
images info

‎Membaca Mantiqut Tayr dan Merak Hijau sebagai garis alegori-kosmologis — sebuah lintasan makna yang menjahit perjalanan batin, simbol alam, dan keselarasan kosmik.

Mantiqut Tayr (Musyawarah Burung) merupakan alegori-sufistik yang ditulis sufi besar Persia, Fariduddin Attar, pada 1177 M. Berkisah tentang musyawarah para burung dalam mencari Raja Sejati yang mereka sebut sebagai Simurgh. Seperti namanya yang Mantiq, logika kerap dipenuhi ego yang indah nan berlapis kepentingan serupa bulu Merak. Dalam tradisi sufistik Persia, Burung Merak melambangkan keindahan lahiriah, kesadaran dan keakuan yang terselubung pesona diri.

Burung Merak tidak jahat dan buruk, tapi terlalu menyadari bahwa ia indah dan harus selalu diperhitungkan. Sejumlah manuskrip dari era Timurid Persia dan Mughal India, menjadikan Burung Merak sebagai visual utama dalam Mantiqut Tayr. Meski sesungguhnya, Burung Merak hanya salah satu tokoh yang dijumpai Burung Hudhud untuk melakukan perjalanan spiritual. Burung Merak, dalam konteks kisah Mantiqut Tayr, menjadi simbol atas ego yang teramat halus.

Mantiqut Tayr: Burung merak dan rombongan para burung saat berada di atas bukit yang menyimpan bara cahaya (Persian)

Dalam Mantiqut Tayr, perjalanan burung-burung menuju Simurgh adalah proses menanggalkan ego. Dan Burung Merak, adalah simbol rintangan awal: spiritualitas yang masih terpikat citra diri. Baru setelah melewati Tujuh Lembah peleburan ego, para kawanan burung itu akhirnya menemukan Simurgh sang Raja Sejati, yang ternyata sudah berada di dalam diri mereka sendiri.

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.