CERITA KOTA | Menjelang Ramadan, setiap daerah punya caranya sendiri untuk menyambut bulan suci. Di Teluk Pakedai, tepatnya di kawasan Parit Guru H. Amin, cahaya kecil menyala dari sudut-sudut rumah warga. Bukan lampu hias, bukan pula lampion, melainkan lilin.
Bagi masyarakat Bugis di wilayah ini, menyalakan lilin menjelang Ramadan bukan sekadar tradisi. Ia adalah tanda syukur, harapan, sekaligus warisan leluhur yang terus dijaga.
Tradisi ini telah hidup sejak masa awal orang Bugis bermigrasi dan menetap di Teluk Pakedai. Dulu, cahaya yang digunakan bukan lilin seperti sekarang, melainkan pelita. Bahkan menurut penuturan warga, pernah pula digunakan lilin lebah sebagai bagian dari ritual menyambut bulan puasa.
Namun zaman berubah. Lilin lebah semakin sulit didapat. Warga pun beralih ke lilin putih yang lebih praktis dan mudah ditemukan. Meski bentuknya berbeda, maknanya tetap sama: menerangi rumah dan hati sebelum memasuki Ramadan.
Lilin dinyalakan di titik-titik penting dalam rumah: di depan pintu masuk, pintu dapur, dapur, pelimbahan—tempat mencuci peralatan dapur—serta pedareng, tempat menyimpan beras.
Baca Selengkapnya

