armada maritim sriwijaya analisis jangkauan pelayaran hingga madagaskar dan pesisir timur afrika - News | Good News From Indonesia 2026

Armada Maritim Sriwijaya: Analisis Jangkauan Pelayaran hingga Madagaskar dan Pesisir Timur Afrika

Armada Maritim Sriwijaya: Analisis Jangkauan Pelayaran hingga Madagaskar dan Pesisir Timur Afrika
images info

Armada Maritim Sriwijaya: Analisis Jangkauan Pelayaran hingga Madagaskar dan Pesisir Timur Afrika


Kerajaan maritim Sriwijaya dikenal sebagai kekuatan laut terbesar di Asia Tenggara pada masanya. Namun, seberapa jauh sebenarnya jangkauan armadanya?

Sejumlah kajian sejarah, linguistik, dan arkeologi menunjukkan kemungkinan bahwa jejaring pelayaran Sriwijaya tidak hanya menguasai Nusantara, tetapi juga mencapai Madagaskar hingga pesisir timur Afrika melalui jalur perdagangan Samudra Hindia.

Sriwijaya sebagai Kekuatan Maritim Besar di Samudra Hindia

Kerajaan Sriwijaya berkembang sejak abad ke-7 Masehi dengan pusat kekuasaan di Sumatra, terutama sekitar wilayah Palembang saat ini. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan antara India dan Tiongkok menjadikan Sriwijaya simpul penting dalam jaringan maritim Asia.

Sebagai kerajaan maritim, kekuatan Sriwijaya bertumpu pada penguasaan laut, bukan ekspansi darat. Armada lautnya berfungsi untuk mengamankan jalur perdagangan, memungut pajak dari kapal asing, serta menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan lain.

Catatan dari Tiongkok dan India menyebut Sriwijaya sebagai kekuatan besar yang mampu mengontrol Selat Malaka dan jalur pelayaran regional.

Namun, pengaruh Sriwijaya tidak hanya terbatas di Asia Tenggara. Posisi geografis Nusantara yang berada di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia memungkinkan pelayaran jarak jauh mengikuti pola angin muson yang teratur setiap tahun.

Teknologi Kapal dan Kemampuan Navigasi

Kemampuan armada Sriwijaya tidak dapat dilepaskan dari tradisi pelayaran Austronesia yang telah berkembang jauh sebelum kemunculan kerajaan tersebut.

Masyarakat Nusantara dikenal sebagai pelaut ulung dengan teknologi perahu bercadik dan kapal besar yang mampu mengarungi samudra terbuka.

Beberapa relief di Candi Borobudur, meskipun berasal dari periode yang berkaitan dengan Kerajaan Mataram Kuno, memperlihatkan gambaran kapal besar bercadik dengan layar persegi dan struktur kokoh.

Banyak sejarawan meyakini bahwa tipe kapal semacam ini juga digunakan dalam jaringan pelayaran Sriwijaya.

Teknologi navigasi berbasis bintang, arus laut, dan pola angin muson memungkinkan pelayaran lintas Samudra Hindia secara terencana.

Angin muson barat membawa kapal dari Nusantara menuju India dan Afrika Timur, sementara angin muson timur memungkinkan perjalanan kembali. Pola musiman ini menjadi fondasi sistem perdagangan jarak jauh yang stabil.

Jejak Sriwijaya di Madagaskar

Salah satu bukti paling kuat mengenai jangkauan pelayaran Nusantara hingga Afrika Timur adalah keberadaan komunitas Austronesia di Madagaskar. Bahasa Malagasy yang digunakan di sana memiliki kemiripan kuat dengan bahasa-bahasa di Kalimantan, khususnya rumpun Barito.

Mayoritas ahli bahasa sepakat bahwa nenek moyang masyarakat Madagaskar berasal dari kawasan Nusantara yang berlayar melintasi Samudra Hindia sekitar abad pertama milenium Masehi.

Meskipun migrasi awal ini mungkin terjadi sebelum puncak kejayaan Sriwijaya, periode kekuasaan Sriwijaya bertepatan dengan berkembangnya jaringan perdagangan Samudra Hindia.

Kemungkinan besar, armada dan pedagang yang beroperasi dalam orbit Sriwijaya turut memperkuat dan memelihara hubungan antara Nusantara dan Madagaskar. Komoditas seperti rempah-rempah, kayu aromatik, dan hasil hutan tropis sangat diminati di pasar Afrika Timur dan Timur Tengah.

Jaringan Perdagangan yang Mencapai Pesisir Timur Afrika

Selain Madagaskar, pelayaran dari Asia Tenggara juga diyakini mencapai pesisir timur Afrika, termasuk wilayah yang kini menjadi bagian dari Tanzania dan Kenya. Kawasan ini sejak lama menjadi simpul perdagangan internasional yang menghubungkan Afrika, Arab, India, dan Asia.

Sriwijaya berperan sebagai perantara penting dalam perdagangan antara India dan Tiongkok. Dalam sistem perdagangan maritim kuno, tidak selalu satu armada yang menempuh seluruh jarak dari Asia Tenggara ke Afrika.

Namun, jaringan dagang yang terintegrasi memungkinkan barang dan pengaruh budaya bergerak melintasi ribuan kilometer.

Beberapa temuan arkeologis menunjukkan adanya barang-barang Asia di wilayah pesisir Afrika Timur pada periode awal milenium kedua.

Meski sulit membuktikan kehadiran langsung armada Sriwijaya secara permanen, kuat dugaan bahwa pelaut Nusantara menjadi bagian aktif dari jaringan tersebut.

Analisis Politik dan Ekonomi Ekspansi Maritim

Jangkauan luas armada Sriwijaya tidak semata-mata didorong oleh ambisi ekspansi teritorial, melainkan oleh kepentingan ekonomi dan kontrol jalur perdagangan.

Dengan menguasai titik-titik strategis dan menjalin hubungan diplomatik, Sriwijaya mampu menciptakan sistem maritim yang relatif stabil.

Kemampuan menjangkau hingga Samudra Hindia bagian barat menunjukkan fleksibilitas dan daya adaptasi tinggi. Armada maritim bukan hanya alat perang, tetapi instrumen diplomasi dan ekonomi.

Keberhasilan mengintegrasikan jaringan pelayaran Nusantara ke dalam sistem perdagangan global awal menjadikan Sriwijaya sebagai salah satu kekuatan maritim terpenting pada masanya.

Pengaruh budaya dan bahasa Austronesia di Madagaskar menjadi bukti tidak langsung bahwa dunia maritim Asia Tenggara memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada yang sering dibayangkan.

Sriwijaya kemungkinan besar memainkan peran sentral dalam mempertahankan dan memperluas koneksi tersebut selama berabad-abad.

Dengan demikian, analisis jangkauan armada maritim Sriwijaya hingga Madagaskar dan pesisir Afrika Timur memperlihatkan bahwa kerajaan ini bukan sekadar kekuatan regional.

Ia adalah bagian dari jaringan samudra yang menghubungkan Asia dan Afrika, menegaskan bahwa sejak awal sejarahnya, Nusantara telah menjadi aktor penting dalam dinamika perdagangan dan pelayaran global.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

DS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.