Konsep Syahadah ala Iran di Mata Malcolm H. Kerr: Sebuah Novel
HARI ITU, sebuah kapal induk Amerika Serikat (AS) sedang bergerak di Selat Hormuz. Namun di hadapan Selat Hormuz yang liar, kapal induk itu terasa bak mainan yang rapuh. Di anjungannya, saat itu, Kapten James Thorne sedang menatap layar radar yang dipenuhi titik-titik merah: kapal-kapal cepat Iran yang berkelebat bak nyamuk besi di gelapnya malam.
Namun, yang membuat James Thorne gemetar bukanlah titik-titik itu. Namun, buku tua di tangan kirinya, “Islamic Reform and Political Vision” oleh Malcolm H. Kerr*: seorang ilmuwan brilian mantan Rektor American University in Beirut. Seorang perwira intelijen membawakan buku itu pagi hari itu dengan catatan, “Tolong baca Bab 5. Mereka tidak berperang seperti kita.”
Sementara itu, di seberang Selat Hormuz, saat itu Letnan Kolonel Reza Yazdani, dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran, sedang berdiri di dek kapal cepat kelas Zolfaghar. Angin laut menampar wajahnya yang keras. Di lehernya, tergantung kalung kecil berisi tanah dari Karbala. Malam itu, misinya sederhana: mengganggu kapal induk AS itu. Tidak menyerang. Tidak menghancurkan. Hanya mengingatkan. Ini seperti yang selalu dikatakan komandannya, “Kita bukan tentara biasa. Kita adalah penjaga narasi.”
Letkol Reza Yazdani bukanlah perwira muda yang fanatik buta. Ia lulusan terbaik Teknik Kelautan Sharif University, Tehran. Namun, tesis masternyalah yang mengubahnya, “Analisis Strategi Asimetris Angkatan Laut Iran dalam Kerangka Konsep Syahâdah Menurut Malcolm H. Kerr.” Dosennya terkesan dan terkejut. “Reza, kau menggunakan ilmuwan kondang AS itu untuk memahami diri kita sendiri?” tanya dosennya. “Ia memahami kita lebih baik daripada kita memahami diri sendiri,” jawab Reza.
Baca Selengkapnya

