Selama bertahun-tahun, muncul teori bahwa letusan Toba menyebabkan perubahan iklim ekstrem dan membuat populasi manusia saat itu menyusut hingga berada di ambang kepunahan.
Namun, klaim bahwa Toba hampir memusnahkan manusia tidak bisa dianggap sebagai fakta yang sudah pasti.
Teori tersebut masih menjadi perdebatan ilmiah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dampak Toba terhadap manusia kemungkinan jauh lebih kompleks daripada gambaran sederhana tentang “hampir punah”.
Yang lebih aman untuk dikatakan adalah bahwa Toba merupakan supererupsi luar biasa besar yang berpotensi memberikan dampak lingkungan dan iklim global yang signifikan.
Besarnya letusan gunung berapi biasanya digambarkan melalui Volcanic Explosivity Index atau VEI.
Krakatau berada pada sekitar VEI 6, Tambora VEI 7, sementara Toba diperkirakan mencapai VEI 8.
VEI bersifat logaritmik dan terutama menggambarkan volume material yang dikeluarkan.
Jadi, setiap kenaikan satu tingkat bukan sekadar “sedikit lebih besar”.
Skalanya melonjak sekitar sepuluh kali lipat pada parameter volume material yang digunakan dalam indeks tersebut.
Untuk Toba, penentuan VEI merupakan hasil rekonstruksi geologi karena letusannya terjadi puluhan ribu tahun lalu.
Jika sebuah gunung api bersiap mengalami erupsi besar, manusia tidak memiliki tombol untuk menghentikannya.
Teknologi modern memang memungkinkan ilmuwan memantau aktivitas gunung api dan mendeteksi berbagai tanda perubahan.
Tetapi letusan tidak bisa begitu saja dihentikan. Karena itu, pertahanan terbaik bukan mencoba melawan kekuatan gunung api.
Melainkan mendeteksi bahayanya sedini mungkin dan membuat masyarakat siap menyelamatkan diri.
Mulai dari sistem peringatan dini, pemantauan aktivitas vulkanik, peta kawasan rawan bencana, jalur evakuasi hingga edukasi masyarakat.
Gunung api tidak pernah benar-benar “tidur” dalam pengertian sederhana.
Kita mungkin tidak bisa menghentikan gunung meletus. Tetapi kita masih bisa menyelamatkan lebih banyak manusia dengan memahami tanda-tandanya dan bersiap sebelum terlambat.
copyright by Pekalongan News
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Baca Selengkapnya

