Ada banyak cara untuk mengenal sebuah desa. Bagi 20 awardee BSI Scholarship Unggulan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Diponegoro (UNDIP), salah satunya adalah dengan datang, berinteraksi, dan belajar langsung bersama masyarakat. Selama lima hari, 12β16 Agustus 2026, para awardee melaksanakan Social Project di Kalurahan Semoyo, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai kegiatan disiapkan melalui tiga pilar, yaitu pendidikan, ekonomi syariah, dan kesehatan.
Lima hari tersebut tidak hanya diisi dengan program yang telah dirancang sebelumnya. Para awardee juga berkesempatan mengenal potensi Semoyo di bidang pertanian, peternakan, dan eduwisata herbal melalui kunjungan ke Agromoyo Farm, Rumah Produksi Sereh Wangi Kelompok Tani Bangkit, dan Hermoyo Edupark. Di sisi lain, hasil observasi dan diskusi dengan masyarakat menunjukkan adanya kebutuhan dalam keterampilan digital, pengelolaan keuangan, akses informasi pendidikan, serta pemeriksaan kesehatan rutin.
Mengenal Semoyo dari Potensi yang Dimiliki
Kunjungan ke Agromoyo Farm dan Rumah Produksi Sereh Wangi menjadi salah satu cara para awardee melihat langsung aktivitas dan potensi ekonomi masyarakat. Dari peternakan hingga produksi minyak atsiri, Semoyo menunjukkan bahwa desa memiliki berbagai potensi yang dapat terus dikembangkan.
Interaksi dengan masyarakat juga hadir melalui gotong royong dan kegiatan bersama warga, sehingga Social Project menjadi ruang untuk tidak hanya berbagi, tetapi juga belajar dari lingkungan setempat.
Membuka Akses dan Kesempatan melalui Pendidikan
Pada bidang pendidikan, sebanyak 20 anggota Karang Taruna mengikuti pelatihan CV ATS di Balai Kalurahan Semoyo. Peserta diperkenalkan pada konsep CV ATS, praktik membuat CV menggunakan Kinobi dan DeepSeek AI, serta informasi mengenai Bursa Kerja Khusus. Sebanyak 15 peserta berhasil membuat CV selama pelatihan.
Kegiatan pendidikan juga menyasar siswa sekolah. Di MIS YAPPI Semoyo, para awardee memberikan pengenalan diri dan norma sosial secara interaktif kepada siswa kelas 1β6. Sementara itu, seminar kemerdekaan dilaksanakan di MIS YAPPI Ringin Tumpang melalui aktivitas interaktif dan menyanyikan lagu kemerdekaan. Lebih dari 120 siswa mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Akses informasi pendidikan juga dibawa ke Hermoyo Edupark melalui Booth Konsultasi Beasiswa Kuliah. Sebanyak 20 pengunjung memperoleh informasi mengenai beasiswa, persyaratan, alur pendaftaran, pilihan perguruan tinggi negeri, dan kehidupan perkuliahan.
Belajar Mengelola Keuangan dari Hal Sederhana
Di bidang ekonomi, para awardee melaksanakan dua pelatihan pembukuan, yaitu untuk masyarakat umum dan pelaku UMKM. Keduanya tidak hanya berisi materi, tetapi juga praktik pencatatan secara manual dan digital menggunakan spreadsheet.
Pada 14 Agustus, sebanyak 20 pelajar SMP, SMA, dan lulusan SMA mengikuti Pelatihan Pembukuan Digital dan Fisik untuk Umum. Peserta mempelajari dasar dan pentingnya pembukuan pribadi, kemudian mencoba melakukan pencatatan keuangan secara manual maupun digital.
Sehari setelahnya, 19 pelaku UMKM mengikuti pelatihan pembukuan usaha. Materi mencakup dasar pembukuan, pengkategorian akun, dan tips pencatatan keuangan, dilanjutkan dengan praktik menggunakan spreadsheet.
Sebanyak 90 persen peserta berhasil mengisi template pembukuan yang diberikan. Bagi para peserta, metode digital dinilai membantu karena memiliki fitur rekap otomatis untuk memantau kondisi keuangan usaha.
Pelatihan ini dimulai dari hal sederhana: mengetahui pemasukan, pengeluaran, dan kondisi keuangan usaha secara lebih teratur. Para peserta juga berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan sebagai agenda rutin.
Menjadikan Kesehatan Lebih Dekat dengan Masyarakat
Pada 15 Agustus, Social Project menghadirkan Cek Kesehatan Gratis di Hermoyo Edupark. Sebanyak 100 orang mengikuti pemeriksaan berat badan, tekanan darah, gula darah, asam urat, dan kolesterol. Kegiatan ini dibantu lima kader PKK Semoyo dan dilengkapi edukasi satu lawan satu sesuai hasil pemeriksaan.
Dari 100 peserta, 58 persen merupakan warga Semoyo dan 42 persen berasal dari luar desa. Sebanyak 30 persen peserta merupakan lansia dan 70 persen lainnya orang dewasa. Peserta juga menyampaikan harapan agar pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan secara berkala.
Belajar Bersama, Bertumbuh Bersama

Di luar program utama, para awardee turut mengajar di TPQ Masjid Al-Falah Semoyo, mengadakan lomba Agustusan yang diikuti 35 anak, serta mengikuti berbagai kegiatan bersama masyarakat. Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan selama lima hari berada di Semoyo.
Pada akhirnya, Social Project BSI Scholarship Unggulan UGM dan UNDIP Angkatan 2024 bukan hanya tentang jumlah kegiatan yang terlaksana. Di balik pelatihan, pemeriksaan kesehatan, kegiatan pendidikan, dan interaksi bersama warga, ada kesempatan untuk melihat lebih dekat potensi dan kebutuhan masyarakat.
Dari Semoyo, para awardee membawa pulang pengalaman bahwa kontribusi dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membantu seseorang memahami pencatatan keuangan, memberikan akses pemeriksaan kesehatan, membuka informasi pendidikan, dan hadir bersama masyarakat.


