menyelisik fenomena kecerdasan buatan mengasah nalar siswa sebagai wujud sdg 4 - News | Good News From Indonesia 2026

Menyelisik Fenomena Kecerdasan Buatan: Mengasah Nalar Siswa sebagai Wujud SDG 4

Menyelisik Fenomena Kecerdasan Buatan: Mengasah Nalar Siswa sebagai Wujud SDG 4
images info

Peserta didik antusias mengikuti kuis interaktif untuk menguji kembali pemahaman mereka terhadap materi Bahasa Indonesia.


Fenomena kecerdasan buatan menjadi salah satu topik yang diangkat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas XII SMA IT Abu Bakar Yogyakarta. Melalui Praktik Kependidikan (PK), peserta didik tidak hanya diajak memahami isi teks, tetapi juga menyelisik gagasan, menganalisis penggunaan bahasa, serta menyampaikan alasan melalui diskusi dan presentasi.

Rangkaian pembelajaran tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam memahami dan mengolah informasi.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan membaca teks mengenai fenomena kecerdasan buatan yang terdapat dalam buku paket. Setelah membaca, peserta didik diminta menemukan ide pokok dan ide pendukung dalam teks tersebut.

Setiap peserta didik kemudian menuliskan hasil temuannya pada sticky note yang telah disediakan dan menempelkannya pada papan tulis.

baca juga

Jawaban yang terkumpul selanjutnya diidentifikasi dan dibahas bersama untuk mengetahui ketepatan dalam menentukan ide pokok dan ide pendukung.

Kegiatan tersebut tidak berhenti pada pencarian jawaban. Peserta didik juga diajak mencermati alasan yang mendasari penentuan suatu gagasan sebagai ide pokok atau ide pendukung.

Melalui pembahasan bersama, peserta didik memperoleh kesempatan untuk membandingkan hasil pemikiran, menyampaikan pendapat, serta memperbaiki pemahaman berdasarkan hasil diskusi di kelas.

Dengan demikian, proses membaca tidak hanya diarahkan pada menemukan informasi, tetapi juga memahami hubungan antargagasan dalam sebuah teks.

baca juga

Pada pertemuan berikutnya, pembelajaran berlanjut pada materi konjungsi intrakalimat dan antarkalimat. Sebagai kegiatan pemantik, peserta didik terlebih dahulu diberikan sebuah soal untuk menentukan konjungsi yang tepat dalam melengkapi kalimat beserta alasannya.

Setelah itu, peserta didik membaca materi dan memperoleh penjelasan untuk memperkuat pemahaman mengenai penggunaan kedua jenis konjungsi tersebut.

Pemahaman peserta didik kemudian diterapkan melalui kegiatan berkelompok. Peserta didik dibagi menjadi lima kelompok dan setiap kelompok memperoleh sebuah amplop yang berisi tiga kalimat acak. Mereka diminta menyusun kalimat tersebut menjadi susunan yang tepat, menentukan jenis konjungsi yang digunakan pada setiap kalimat, serta menjelaskan alasan pengelompokannya.

Setelah menyelesaikan tugas, setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas. Hasil presentasi kemudian dibahas bersama untuk meluruskan pemahaman dan memberikan penguatan terhadap materi yang telah dipelajari.

baca juga

Untuk memperkuat pemahaman peserta didik, pembelajaran dilanjutkan dengan permainan kuis yang terdiri atas sekitar 20–25 soal mengenai konjungsi intrakalimat dan antarkalimat.

Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguji kembali pemahaman mereka setelah mengikuti rangkaian aktivitas membaca, menganalisis, berdiskusi, dan mempresentasikan hasil pekerjaan.

Rangkaian pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan bernalar. Teks bertema fenomena kecerdasan buatan digunakan sebagai konteks pembelajaran, sedangkan aktivitas yang dilakukan berfokus pada kemampuan memahami informasi, menganalisis penggunaan bahasa, menyampaikan alasan, bekerja sama, dan mengomunikasikan hasil pemikiran.

Proses tersebut sejalan dengan semangat SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) yang mendorong terselenggaranya pendidikan yang berkualitas dan pembelajaran yang mendukung pengembangan kemampuan peserta didik.

baca juga

Melalui kegiatan tersebut, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi Bahasa Indonesia, tetapi juga memberikan ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan mengomunikasikan gagasan.

Pembelajaran dengan topik yang dekat dengan perkembangan di sekitar peserta didik dapat terus dikembangkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang aktif dan bermakna.

Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat turut berkontribusi dalam membentuk peserta didik yang mampu memahami informasi dan menyampaikan pemikirannya secara kritis dan bertanggung jawab.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.