sisa minyak goreng bisa jadi cuan kkn memayu tegalweru sosialisasikan bank minyak jelantah - News | Good News From Indonesia 2026

Sisa Minyak Goreng Bisa Jadi Cuan, KKN Memayu Tegalweru Sosialisasikan Bank Minyak Jelantah

Sisa Minyak Goreng Bisa Jadi Cuan, KKN Memayu Tegalweru Sosialisasikan Bank Minyak Jelantah
images info

Penyerahan Drop Point Minyak Jelantah Kepada Karang Taruna Padukuhan Tegaweru, Property of Memayu Tegalweru


Kawan GNFI, tahukah kamu kalau minyak goreng bekas yang biasa kita buang ke selokan ternyata bisa disulap jadi sumber pemasukan? Ide inilah yang belakangan dikembangkan Karang Taruna di Padukuhan Tegalweru, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, lewat sebuah program bernama Bank Minyak Jelantah.

Program ini digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta yang tengah mengabdi di wilayah tersebut, lewat sosialisasi yang digelar bersama Karang Taruna Tegalweru, Sabtu (05/09) malam. Alih-alih dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan, minyak jelantah rumah tangga kini bisa dikumpulkan, disetorkan, dan diuangkan.

Indonesia, Salah Satu Penghasil Minyak Jelantah Terbesar Dunia

Penanggung Jawab Program, Latifah Queena Yaffa, memaparkan data yang cukup mengejutkan soal konsumsi minyak goreng di Indonesia. Konsumsi minyak goreng per kapita tercatat naik dari 9 liter per tahun pada 2019 menjadi 9,5 liter pada 2023, dengan total konsumsi rumah tangga mencapai sekitar 2,6 juta ton per tahun. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu penghasil minyak jelantah terbesar di dunia.

"Sisa minyak goreng di dapur seringkali hanya dibuang sembarangan, padahal limbah ini bisa diubah menjadi rupiah sekaligus menyelamatkan lingkungan," ujar Latifah.

baca juga

Jika tidak dikelola dengan baik, minyak jelantah nyatanya menyimpan banyak bahaya, mulai dari kandungan zat karsinogenik pemicu kanker, kolesterol jahat yang berisiko menyebabkan penyakit jantung dan stroke, hingga potensi menyumbat saluran air dan mencemari tanah di sekitar rumah.

Kenapa Harus Karang Taruna?

Ketua Tim KKN Memayu Tegalweru, Ramdhani Surya Hadi, menjelaskan alasan program ini menggandeng Karang Taruna sebagai mitra utama. Dari hasil observasi lapangan, banyak ditemukan UMKM rumahan di Tegalweru yang menggunakan minyak goreng dalam jumlah besar, seperti usaha peyek dan slondok, sehingga potensi jelantah yang terkumpul cukup menjanjikan untuk dikelola bersama.

"Kegiatan sosialisasi ini merupakan wujud nyata bagi kepedulian kita untuk lingkungan, mengenai bagaimana minyak jelantah ini nantinya tidak hanya sekadar limbah yang mencemari lingkungan, tetapi dapat dialihkan menjadi sesuatu yang lebih berharga," ujar Ramdhani.

baca juga

Cukup 3P: Dinginkan, Saring, Simpan

Latifah menjelaskan, warga hanya perlu menerapkan metode sederhana bernama "3P", yaitu pendinginan, penyaringan, dan penyimpanan minyak jelantah pada wadah tertutup rapat agar kualitasnya tetap terjaga dan terhindar dari hama.

Minyak yang terkumpul nantinya disetorkan ke Bank Minyak Jelantah Jogja di Condongcatur, dengan minimal pengambilan 30 kilogram mengingat jarak tempuh dari Tegalweru sekitar 15 kilometer. Di sana, minyak jelantah diolah lebih lanjut menjadi biodiesel, bahan bakar ramah lingkungan, sekaligus bahan baku pakan ternak.

"Untuk hasil jualnya dari teman-teman Karang Taruna ke Bank Minyak Jelantah Jogja itu sekitar di harga Rp6.000 sampai Rp7.000 per kilogram, di mana harga jual ini sifatnya fluktuatif mengikuti pergerakan harga minyak sawit mentah dunia," katanya.

baca juga

Menariknya, skema pembagian hasil turut disesuaikan berdasarkan masukan Dukuh Tegalweru, Bondy Akbar Wibowo. Alih-alih dibagi langsung ke warga dan kas Karang Taruna secara tunai, seluruh hasil penjualan akan masuk lebih dulu ke kas Karang Taruna, yang kemudian disisihkan untuk dikembalikan kepada warga dalam bentuk sembako pada setiap periode pengambilan.

Latifah berharap, program yang digagas bersama Karang Taruna ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial masa KKN, melainkan dapat terus berjalan secara mandiri.

"Harapannya nanti program ini juga tetap terus berjalan dan menjadi contoh di padukuhan bahwa warga dapat mandiri secara finansial," pungkas Latifah.

Dari sesuatu yang biasanya berakhir di tempat sampah atau selokan, warga Tegalweru kini punya cara baru untuk menjaga lingkungan sekaligus menambah kas bersama. Langkah kecil dari dapur ini membuktikan bahwa solusi atas masalah lingkungan tak melulu harus rumit dan mahal.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KM
IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.