si anak rumahan berdarah dingin rahasia ketangguhan komodo melewati zaman es - News | Good News From Indonesia 2026

Si "Anak Rumahan" Berdarah Dingin: Rahasia Ketangguhan Komodo Melewati Zaman Es

Si "Anak Rumahan" Berdarah Dingin: Rahasia Ketangguhan Komodo Melewati Zaman Es
images info

Foto oleh Fahrul Razi di Unsplash


Komodo (Varanus komodoensis) ialah kadal terbesar di dunia dan hewan endemik Indonesia. Sehingga hanya ditemukan di satu wilayah tertentu dan tidak bisa ditemukan secara alami di tempat lain di dunia. Kawan bisa menemukannya di Pulau Komodo, Rinca, Gili Motang, Nusa Kode, dan sebagian pesisir Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Panjang tubuhnya bisa sekitar tiga meter.

Menariknya, komodo ini sudah hidup jutaan tahun dan melewati masa dimana hewan besar lain punah. Tapi, kok bisa komodo bertahan dari zaman es sampai sekarang? Yuk simak jawaban dari para peneliti!

Asal-Usul Komodo

Kawan, mungkin sebagian dari kalian masih ada yang mengira kalau hewan ini pure dari Indonesia, namun ternyata satwa ini berasal dari Australia. Fosil di Queensland menunjukkan kadal raksasa ini berevolusi sekitar 3,8 sampai 4 juta tahun lalu, dan ukurannya sudah besar sejak awal.

baca juga

Saat Zaman Es, sekitar 1 sampai 2 juta tahun lalu, permukaan laut turun dan membentuk jembatan daratan ke Nusa Tenggara. Nenek moyang komodo pun berjalan ke sana hingga tiba di Flores dan pulau-pulau sekitarnya.

Setelah es mencair, laut naik lagi dan memisahkan pulau-pulau itu. Sekitar 50.000 tahun lalu, komodo di Australia punah, sedangkan yang di Nusa Tenggara terus bertahan.

Komodo dragon (Varanus komodoensis), Rinca, Komodo National Park, Indonesia | Wikimedia Commons | Karya: Charles J. Sharp
info gambar

Komodo dragon (Varanus komodoensis), Rinca, Komodo National Park, Indonesia | Wikimedia Commons | Karya: Charles J. Sharp


Komodo sebenarnya pandai berenang, tetapi mereka tergolong homebody alias anak rumahan. Mereka enggan pindah dari tempat yang aman dan banyak makanan, jadi tetap menetap di pulau-pulau kecil NTT sampai sekarang.

Hewan Berdarah Dingin yang Irit Energi

Kunci pertama ada pada tubuhnya. Peneliti Richard Shine dan Ruchira Somaweera dalam Global Ecology and Conservation (2019) menjelaskan bahwa komodo hanya butuh sedikit makanan.

Mereka membandingkan kebutuhan makan kadal dengan mamalia pemangsa yang ukurannya sama. Hasilnya, kadal β€œcuma membutuhkan sekitar 10% asupan makanan dan air" dibanding mamalia itu.

baca juga

Karena hemat energi, pulau kecil pun cukup untuk menghidupi kadal sebesar harimau. Komodo juga bisa mengecilkan ukuran tubuh saat makanan sulit dicari.

Gigi fosil di Flores dari zaman Pleistosen juga lebih kecil daripada gigi komodo masa kini. Jadi, nenek moyang komodo di Flores kemungkinan tidak sebesar sekarang.

Habitat Kering Justru Menolong

Setelah Stegodon punah sekitar 50.000 tahun lalu, pulau-pulau itu kekurangan hewan besar. Komodo mencari makan dari laut, seperti bangkai yang terdampar dan telur penyu.

Garam dari makanan laut juga tidak jadi masalah. Tubuh komodo, seperti biawak lain, mampu mengeluarkan kelebihan garam.

Manusia modern tiba di kawasan ini puluhan ribu tahun lalu. Namun, wilayah yang kering dan sulit untuk bertani membuat jumlah penduduk jadi sedikit, sehingga tekanan terhadap komodo lebih ringan.

Manusia juga membawa babi sekitar 7.000 sampai 10.000 tahun lalu. Karena cepat berkembang biak, babi jadi mangsa baru yang meredam dampak perburuan dan kerusakan habitat.

baca juga

Cara Komodo Betina Menjaga Populasi

Anak komodo lebih banyak di pohon, sedangkan komodo dewasa memburu di darat. Perbedaan ini membuat populasi tetap bisa bertahan meski mangsa besar sedang langka.

Caranya komodo menjaga populasi cukup unik, mereka melakukan partenogenesis. Partenogenesis ini membuat betina bisa bertelur sendiri dan menetaskan anak tanpa kawin. Kemampuan inilah yang membantu populasi tetap berkembang saat jumlah pejantan menyusut.

Kepulauan yang terpisah-pisah memberi keuntungan lain. Jika bencana seperti letusan gunung api melanda satu pulau, komodo di pulau lain masih selamat dan bisa menjadi cadangan populasi.

Komodo dragon, Komodo Island, Indonesia | Wikimedia Commons | Karya: Jakub HaΕ‚un
info gambar

Komodo dragon, Komodo Island, Indonesia | Wikimedia Commons | Karya: Jakub HaΕ‚un


Dari semua faktor tersebut, Shine dan Somaweera menarik satu kesimpulan besar tentang rahasia komodo. Ketahanannya benar-benar mencerminkan bahwa,

"kombinasi faktor-faktor yang menguntungkan yang berkaitan dengan spesies, habitat, dan jangka waktu serta sifat kolonisasi manusia," simpulnya.

Konservasi Komodo dan Tantangan Masa Kini

Kini komodo berstatus Endangered atau terancam punah dalam daftar IUCN Red List. Satwa ini juga masuk Appendix I CITES sehingga tidak boleh diperjualbelikan dalam bentuk apa pun, dan dilindungi undang-undang di Indonesia.

Melansir data Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan, populasi komodo di Taman Nasional Komodo sekitar 3.270 ekor. Di Pulau Flores ada sekitar 701 ekor, dan 177 ekor lainnya dirawat di luar habitat alaminya.

Jumlahnya relatif stabil dalam 20 tahun terakhir, menurut Deni Purwandana dari Komodo Survival Program. Namun, wilayah sebarannya jauh menyempit dibanding data survei Walter Auffenberg di tahun 1981.

Tantangannya antara lain anjing liar, perburuan ilegal rusa sebagai mangsa utama, konflik dengan manusia, dan kerusakan habitat. Karena itu, perlindungan rusa, pengendalian anjing liar, dan penataan wilayah perlu berjalan bersama agar komodo bisa terus bertahan. Setelah selamat dari zaman es dan letusan gunung api, sekarang giliran Kawan juga ikut menjaga rumah komodo dengan terus dukung wisata yang ramah lingkungan di NTT, serta jangan sampai merusak habitat hewan apapun.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

US
FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.