Menara Gentala Arasy sudah menjadi bagian dari pemandangan Kota Jambi yang tidak mudah diabaikan. Tingginya 80 meter, berdiri di tepi Sungai Batanghari, dan terhubung ke sisi pusat kota melalui Jembatan Gentala Arasy, jembatan pedestrian sepanjang 503 meter yang desainnya meliuk seperti huruf S, sebuah bentuk yang waktu diresmikan diklaim belum pernah ada sebelumnya pada jembatan pejalan kaki di atas sungai di Indonesia.
Di lantai dasar menara itulah Museum Menara Gentala Arasy berada, menyimpan lebih dari 100 koleksi yang merekam perjalanan Islam di Jambi dari abad ke-16 hingga masa modern.
Kompleks ini diresmikan pada 28 Maret 2015 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan berlokasi di Kelurahan Arab Melayu, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi, di kawasan yang dikenal sebagai Jambi Kota Seberang. Kawasan Seberang Kota Jambi memang sudah lama menjadi pusat penyebaran Islam di Jambi, tempat para ulama, pedagang Arab dan Tionghoa Muslim bermukim dan berdakwah sejak berabad-abad lalu.
Nama "Gentala Arasy" punya dua lapisan makna. Secara harfiah, ia berasal dari kata genta (suara), tala (keselarasan), dan arasy (langit tertinggi), menggambarkan suara yang harmonis dan mengangkasa.
Sekaligus, ia adalah akronim dari Genah Tanah Lahir Abdurrahman Sayoeti, penghormatan kepada mantan Gubernur Jambi 1989-1999 yang lahir di kawasan Jambi Kota Seberang ini.
Sekilas Mengenai Museum Menara Gentala Arasy
Pembangunan menara dimulai pada 2011 dan selesai pada 2014, dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi. Gagasan awal menara ini berasal dari Gubernur Jambi Hasan Basri Agus sebagai penanda identitas kawasan Jambi Kota Seberang yang selama ini dikenal sebagai pusat keislaman kota.
Museum di lantai dasar menara mengemban misi spesifik: mendokumentasikan dan memamerkan sejarah perkembangan Islam di Jambi. Hampir seluruh koleksinya berkaitan langsung dengan peradaban Islam dan budaya Melayu Jambi, mulai dari abad ke-14 ketika Islam pertama kali masuk ke wilayah ini melalui Kampung Arab Melayu, hingga artefak dari abad ke-19.
Pengelola museum mencatat ada lebih dari 100 koleksi yang terdiri dari koleksi khusus, koleksi titipan, dan koleksi titipan masyarakat.
Daya Tarik Utama Museum Menara Gentala Arasy
Koleksi yang paling banyak menarik perhatian pengunjung adalah Mushaf Al-Quran al-Jambi, sebuah Al-Quran tulis tangan berukuran 125 x 180 cm yang dipajang di dekat pintu masuk museum di atas meja berukiran khas Jambi dan ditutup kaca.
Mushaf ini dibuat pada 2014 khusus untuk menjadi koleksi museum, dengan motif ukiran yang berbeda di setiap halamannya, memuat unsur daun dan batik Jambi. Setiap halamannya ditulis dengan tangan dan didekorasi berbeda.
Di luar mushaf, museum menyimpan 23 kitab dan naskah kuno yang bisa ditelusuri pengunjung, sebagian sudah didigitalisasi untuk menjaga kondisi fisik aslinya. Naskah-naskah itu berisi doa, silsilah, pengobatan, ajaran moral, sejarah, dan peraturan adat, sebagian ditulis dalam aksara Arab-Melayu. Salah satunya adalah naskah silsilah Habib Sayyid Hussain, salah seorang penyebar Islam pertama di Kota Jambi pada abad ke-16.
Koleksi lainnya meliputi perlengkapan pakaian para ulama seperti destar, sorban, topi trobus, dan jubah, uang koin masa kolonial termasuk bertuliskan Nederlandsch Indie dan Inggeris Island of Sumatra tahun 1804, serta deretan pigura tokoh-tokoh Islam Jambi di beberapa dinding museum yang menceritakan silsilah penyebaran Islam dari Datuk Sin Tay, kemudian anaknya Nyai Resih, hingga menantu mereka Habib Sayyid Hussain.
Di luar museum, jembatan pedestrian Gentala Arasy sendiri sudah menjadi daya tarik tersendiri, terutama saat malam hari ketika lampu-lampu hias menyala di sepanjang jembatan dan pantulannya jatuh ke Sungai Batanghari di bawahnya.
Akses Menuju Museum Menara Gentala Arasy
Museum Menara Gentala Arasy terletak di Kelurahan Arab Melayu, Kecamatan Pelayangan, Kota Jambi. Ada dua akses pintu masuk ke jembatan dan menara. Pertama melalui Menara Gentala Arasy di Jalan KH. M. Ja'afar, Arab Melayu, di sisi Seberang Kota Jambi. Kedua melalui Taman Tanggo Rajo di sisi pusat kota, dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan sepanjang 503 meter menuju menara.
Dari pusat Kota Jambi, perjalanan ke kawasan Taman Tanggo Rajo hanya beberapa menit berkendara. Dari Bandara Sultan Thaha Syaifudin, waktu tempuh sekitar 20 hingga 30 menit. Ojek online beroperasi di Kota Jambi dan bisa digunakan untuk perjalanan langsung ke lokasi.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Museum Menara Gentala Arasy buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB, meski beberapa sumber menyebut jam museum khusus adalah hingga pukul 17.00. Jembatan pedestrian sendiri terbuka sepanjang waktu sebagai fasilitas umum.
Tiket masuk museum Rp3.000 untuk dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak. Wisatawan mancanegara dikenakan Rp5.000. Akses ke jembatan dan kawasan sekitar menara gratis. Untuk rombongan, tersedia potongan harga yang bisa dikonfirmasi kepada pengelola.
Ayo Berkunjung ke Museum Menara Gentala Arasy!
Museum Menara Gentala Arasy cocok untuk Kawan GNFI yang sedang di Jambi dan ingin memahami kota ini dari sisi sejarah Islamnya. Datanglah sore hari, susuri jembatan dari sisi Taman Tanggo Rajo, masuk ke museum sebelum tutup, lalu nikmati suasana malam di jembatan dengan Sungai Batanghari di bawahnya. Selamat berkunjung


