Kenapa nama air terjun bisa berbeda-beda? Di daerah Garut, air terjun disebut curug. Di Malang, disebut coban. Sedangkan di Lahat, Sumatra Selatan, warganya menyebutnya cughup. Apa cerita di balik tiap nama?
Nah Kawan GNFI, ada ilmu khusus yang mempelajari asal-usul nama tempat, namanya toponimi. Kata ini berasal dari bahsa Yunani, topos yang berarti tempat dan onyma yang berarti nama.
Dalam jurnal berjudul Makna dan Asal-Usul Nama Curug: Studi Toponimi di Kabupaten Garut, Taofik Maulana merangkum bahwa nama tempat sering mencerminkan sejarah, budaya, dan ciri geografis yang dianggap penting oleh masyarakatnya.
Nama Air Terjun yang Lahir dari Bentuk dan Rasa Air
Banyak nama curug lahir dari hal yang bisa dilihat dan dirasakan secara langsung. Misalnya, Curug Téko di Garut dinamai karena aliran airnya mirip cucuran dari téko, yaitu cerek untuk menuang air.
Curug Citiis berasal dari ci yang berarti air dan tiis yang berarti dingin, karena airnya terasa dingin walaupun berada di kawasan Gunung Guntur yang airnya kebanyakan panas.
Di Sumatra Selatan, khususnya Lahat, Curup Buluh dinamai dari buluh, kata setempat untuk bambu, karena lokasinya dikelilingi rumpun bambu yang lebat. Di media, nama air terjun di Lahat umumnya tertulis dengan ejaan curup.
Lahir dari Cerita dan Kepercayaan
Selain nama air terjun yang lahir dari ciri fisik, banyak nama yang berasal dari cerita rakyat dan sejarah lokal.
Contohnya Curug Jagapati di Garut berasal dari kata jaga dan pati, yang secara harfiah berarti “penjaga nyawa”. Konon tempat ini dijaga seorang putri bernama Ilang Kencana, sehingga pengunjung dilarang datang pada hari Selasa dan Jumat atau memakai baju merah.
Di Malang, Coban Rondo berarti “air terjun janda” dalam bahasa Jawa. Konon nama itu berasal dari kisah Dewi Anjarwati yang bersembunyi di dekat air terjun dan mendengar kabar kepergian suaminya.
Ada juga nama yang merekam sejarah perpundahan penduduk, yaitu Curug Parigi. Namanya diambil dari Kampung Parigi, yang menurut warga berasal dari kata marigi, yaitu pindah dan menempati.
Kenapa Nama Air Terjun Berbeda di Tiap Daerah?
Salah satu alasannya adalah bahasa daerah yang berbeda. Curug berasal dari bahasa Sunda, tapi juga dipakai di Banyumas, misalnya Curug Telu yang berarti “tiga air terjun” dalam bahasa Jawa.
Di bagian lain Pulau Jawa, air terjun disebut grojogan. Grojogan berarti air terjun dan sewu berarti seribu, jadi Grojogan Sewu di Tawangmangu, Karanganyar, bisa dibaca "air terjun seribu".
Di Sumatra Selatan, perbedaannya bahkan terjadi antardaerah. Di Lahat, air terjun disebut cughup, sesuai ejaan dalam kamus bahasa Seganti Setungguan. Banyak orang menulisnya curup karena sulit melafalkan cughup. Di Pagar Alam, warga setempat juga menyebut Curup Embun di kaki Gunung Dempo sebagai cughup embun.
Dilansir dari RMOL Sumsel, di Lintang, Empat Lawang, sebutannya cughop. Bahasa Lahat tidak mengenal vokal o, jadi cughop dianggap tidak tepat untuk Lahat.
Di Sumatra Utara, ada kata aek, yang berarti air dalam bahasa Batak. Aek Sijorni di Tapanuli Selatan berarti “air yang jernih”, sedangkan Aek Sipangolu di Bakkara diyakini sebagai air suci.
Bahasa Indonesia juga punya kata riam. Menurut KBBI, riam adalah aliran air deras di seungai yang hampir mirip seperti air terjun tapi sangat rendah.
Namun, tidak semua daerah punya istilah khusus. Di Bakkara ada Air Terjun Janji yang konon lahir di janji tiga raja Batak. Di Lahat, ada Air Terjun Lawang Agung. Jadi, istilah lokal dan sebutan "air terjun" sering dipakai berdampingan.
Lalu, bagaimana dengan daerah Kawan? Apa sebutan air terjun di sana?

