Laksamana Malahayati menjadi salah satu sosok penting dalam sejarah kejayaan bahari Nusantara. Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, Keumalahayati tampil sebagai panglima perempuan yang memimpin armada laut untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan dari ancaman bangsa asing. Keberaniannya menjadikan Malahayati dikenal sebagai salah satu laksamana perempuan paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan maritim Indonesia.
Kisah perjuangannya tidak hanya berkaitan dengan peperangan, tetapi juga tentang kepemimpinan, diplomasi, dan keberanian perempuan dalam menghadapi kolonialisme. Lantas, siapa sebenarnya Laksamana Malahayati dan apa yang diperjuangkannya?
Mengubah Duka Menjadi Armada Inong Balee
Kisah Laksamana Malahayati bermula dari gugurnya sang suami, Tuanku Mahmuddin bin Said Al Latief, dalam pertempuran di Teluk Haru saat melawan penjajagan Portugis. Setelah 2 lakamana gugur dan ratusan prajurit, peperangan sengit ini berhasil dimenangkan oleh Kesultanan Aceh, peristiwa tersebut menjadi titik balik perjuangannya untuk mempertahankan Kesultanan Aceh Darussalam.
Dikutip dari artikel Badan Kesbangpol Kota Banda Aceh berjudul Malahayati, Putri Perkasa dari Kutaradja yang diterbitkan pada 17 November 2017, gugurnya Tuanku Mahmuddin mendorong Malahayati untuk menghimpun para janda prajurit menjadi kesatuan tempur yang dikenal sebagai Inong Balee atau armada janda.
Sementara itu, menurut Saifullah dalam booklet Laksamana Keumalahayati (2012), Malahayati mengajukan permohonan kepada Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil untuk membentuk armada yang seluruh prajuritnya merupakan perempuan yang kehilangan suami dalam Perang Teluk Haru. Selain Armada, Malahayati juga membangun benteng Inong Baleeย Permintaan tersebut disetujui dan Malahayati dipercaya memimpin pasukan tersebut.ย
Malhayati adalah wanita pertama yang memiliki jabatan laksamana di Kesultanan Aceh Darussalam.
Saifullah juga mencatat bahwa kekuatan awal Armada Inong Balee mencapai 1.000 personel dan kemudian berkembang menjadi 2.000 orang. Adapun Teluk Lamreh, Krueng Raya, dijadikan sebagai pangkalan militernya.ย
Laksamana Wanita Pertama Meruntuhkanย Arogansi Penjajah
Nama Malahayati semakin dikenal setelah pertempuran melawan armada Belanda pada 1599. Konflik tersebut melibatkan Cornelis de Houtman dan beberapa penjejah Belanda, Portugis hingga Inggris, Frederick de Houtman, yang datang ke Aceh dengan kepentingan perdagangan.
Menurut Saifullah dalam Laksamana Keumalahayati, kedatangan armada Belanda yang semula diterima dengan baik justru berujung pada konflik setelah terjadi tindakan yang merugikan pihak Kesultanan Aceh. Sultan kemudian memerintahkan Malahayati untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Peristiwa pada 11 September 1599 itu menjadi salah satu bagian penting dalam kisah perjuangannya. Dalam artikel Badan Kesbangpol Kota Banda Aceh, disebutkan bahwa Malahayati berhasil menikam Cornelis de Houtman menggunakan rencong hingga tewas di atas geladak kapal. Sementara itu, Frederick de Houtman berhasil ditawan oleh pihak Aceh.
Karena reputasinya yang sangat garang ini, ketika Inggris hendak memasuki Aceh mereka memilih masuk dengan damai.
Kepiawaian Malahayati Jadi Warisan Bahari Indonesia
Selain dikenal sebagai panglima perang, Malahayati juga memiliki kemampuan diplomasi. Menurut Saifullah dalam booklet Laksamana Keumalahayati, pada 29 Mei 1602 utusan Inggris, Sir James Lancaster, tiba di Bandar Aceh dengan membawa surat kepercayaan dari Ratu Elizabeth I untuk Sultan Aceh.
Dalam kisah tersebut, Malahayati turut berperan dalam mengatur penerimaan utusan dan mempertimbangkan langkah diplomasi agar hubungan dengan Inggris dapat menguntungkan Kesultanan Aceh. Hal ini memperlihatkan bahwa perjuangannya tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga kecakapan dalam menjaga kepentingan kerajaan di tengah persaingan bangsa Eropa.
Warisan perjuangannya masih dikenang hingga sekarang. Dalam booklet yang sama, Saifullah turut mencatat bahwa nama Keumalahayati diabadikan sebagai nama kapal perang KRI Malahayati. Selain itu, pemerintah Indonesia baru menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2017.
Jika Anda penasaran bagaimana kisan dan bagaimana kerennya kisah laksamana wanita pertama di Aceh, kisah Laksamana Malahayati kini kembali diperkenalkan melalui film sejarahย Pasukan 1000 Janda yang dibintangi Atiqah Hasiholan, Cut Miniย dan beberapa cast film Pasukan 1000 Janda lainnya. Pasukan 1000 Janda dijadwalkan tayang pada 12 November 2026 mendatang.
Perjalanan Malahayati membuktikan bahwa keberanian, kepemimpinan, dan kecintaan terhadap tanah air tidak mengenal batas gender. Dari Armada Inong Balee hingga warisan maritim Indonesia, perjuangannya menjadi bagian penting dari sejarah yang patut terus dikenang oleh generasi mendatang.


