sering nimbun file karena siapa tahu berguna ini cara mengatasi digital hoarding - News | Good News From Indonesia 2026

Sering Nimbun File karena “Siapa Tahu Berguna”? Ini Cara Mengatasi Digital Hoarding

Sering Nimbun File karena “Siapa Tahu Berguna”? Ini Cara Mengatasi Digital Hoarding
images info

Ilustrasi digital hoarding pada ponsel | Unsplash | Zulfugar Karimov


Kawan pernah merasa sayang menghapus foto lama, chat, atau screenshot yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi? Kebiasaan seperti ini ternyata punya nama, yaitu digital hoarding.

Primaditha Noorrizqyka dan tim dalam jurnal PAEDAGOGY 2026 melakukan wawancara terhadap empat mahasiswa yang punya banyak fail dan sulit menghapusnya.

Hasilnya, isi gawai mereka ternyata sangat padat. Ada yang menyimpan sekitar lebih dari 18.000 foto, dokumen kuliah sekitar 224 GB di laptop, dan ada pula yang punya data WhatsApp sekitar 30 GB sampai ponselnya sering memberi notifikasi penyimpanan penuh.

Alasan mereka melakukan digital hoarding karena takut kehilangan dokumen penting dan ada pula yang kapok karena setelah dihapus ternyata fail tersebut masih dibutuhkan. Sementara itu, fail foto dan video kenangan bisa menjadi penenang bagi mereka saat sulit tidur.

Dan saat memori penuh, mereka justru lebih sering menghapus aplikasi atau memindahkannya ke perangkat lain daripada harus menyortir isinya.

Lalu, apakah kebiasaan menimbun fail ini masih wajar?

Menurut Agung Minto Wahyu, Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Institut Pertanian Bogor (IPB), menimbun foto atau dokumen tertentu baru perlu diwaspadai ketika seseorang sadar bahwa sebuah fail tidak berguna tetapi tetap tidak sanggup untuk menghapusnya hingga mengganggu produktivitas.

Sehingga fenomena ini berkaitan dengan hubungan psikologis seseorang terhadap data miliknya.

“Masalahnya bukan pada jumlah fail yang kita miliki, tetapi pada seberapa besar kendali yang kita rasakan atas data digital kita sendiri,” ujar Agung, sebagaimana dikutip dari laman IPB University News.

baca juga

Ada Keterikatan Emosional di Balik Sulit Menghapus

Keterikatan emosional berarti ada rasa dekat dan sayang pada suatu benda hingga sulit melepaskannya. Bagi Gen Z, ruang digital seringkali dianggap sebagai tempat untuk memuat perasaan dan pengalaman personal.

Seperti foto, video, hingga riwayat percakapan ikut membantu membentuk dan mempertahankan memori mereka. Rasa lekat pada kenangan itulah yang membuat fail terasa sulit dilepas.

Menurut Vanessa Brilliancy dan Vania Ardelia, dalam jurnal Guidena, rasa lekat tersebut ternyata berpengaruh signifikan terhadap digital hoarding dengan persentase sekitar 46 persen. Artinya, hampir separuh perilaku ini dipengaruhi oleh keterikatan emosional.

“Temuan ini mengindikasikan bahwa individu pada kelompok Generasi Z yang terikat secara emosional terhadap file digital yang dimiliki cenderung untuk melakukan digital hoarding,” tulisnya dalam jurnal tersebut.

Sementara dari sisi psikologis, Agung menyebut mentalitas 'siapa tahu berguna nanti' yang membuat orang jadi sulit menghapus dan menyortir ribuan dokumen. Karena untuk melakukannya butuh energi mental yang cukup besar.

baca juga

Saat Menyimpan Justru Bikin Kewalahan, Ini Solusinya

Media digital sering dipandang sebagai external brain atau otak tambahan di luar kepala untuk memperoleh rasa kontrol. Namun kenyataannya, kondisi itu dapat memperkuat perasaan tidak terkendali dan memunculkan kecemasan.

Pola serupa juga dijelaskan oleh Agung yang mengaitkan digital hoarding dengan kebutuhan merasa aman melalui kepemilikan informasi, padahal data yang menumpuk justru memunculkan stres dan rasa kewalahan.

“Seseorang merasa cemas kalau tidak menyimpan, tetapi juga merasa kewalahan karena terlalu banyak menyimpan. Di sinilah muncul lingkaran psikologis yang sulit diputus,” jelasnya.

Lingkaran itu akan ikut terasa dalam keseharian, misalnya banyak waktu yang terbuang hanya untuk mencari datayang dibutuhkan.

Untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, Agung menyarankan masyarakat agar mulai menyadari alasan menyimpan suatu dokumen. Caranya dengan meluangkan waktu sekitar 10 sampai 15 menit setiap minggu untuk menyortir data dan belajar membedakan mana fail yang bermakna dan mana fail yang tersimpan hanya karena rasa cemas.

Dari situlah, hubungan dengan informasi digital bisa menjadi lebih sehat dan sadar dengan mengetahui apa yang disimpan, mengapa menyimpannya, dan berani melepaskannya ketika sudah tidak lagi dibutuhkan.

“Kekuatan sebuah kenangan tidak ditentukan oleh apakah fail-nya masih ada di ponsel kita atau tidak. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang lebih sadar dengan informasi digital kita tahu apa yang kita simpan, mengapa kita menyimpannya, dan berani melepaskan apa yang sudah tidak lagi kita butuhkan,” tutur Agung.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HK
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.