mengungkap kode yang selama ini tersimpan di balik rumah adat karo siwaluh jabu - News | Good News From Indonesia 2026

Mengungkap Kode yang Selama Ini Tersimpan di Balik Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu

Mengungkap Kode yang Selama Ini Tersimpan di Balik Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu
images info

Ukiran dinding rumah adat Karo Siwaluh Jabu (sumber: Yunita Setyoningrum dkk.)


Berdiri megah di dataran tinggi Sumatra Utara, rumah adat Karo Siwaluh Jabu menyimpan pesona arsitektur Nusantara yang luar biasa. Ditinjau dari asal katanya, Siwaluh Jabu bermakna rumah yang dihuni oleh delapan keluarga.

Bagi suku Karo, mendirikan tempat tinggal bukan sekadar merangkai kayu dan ijuk, melainkan membangun kediaman yang dipercaya sebagai tempat yang berkaitan dengan keberadaan roh leluhur.

Kepercayaan inilah yang membuat Siwaluh Jabu menyimpan lapisan β€œkode rahasia” di dalam bangunannya.

Kode yang dimaksud adalah kode yang berhubungan dengan kosmologi dan filosofi yang menjaga keselarasan rohani, serta kode matematis yang melahirkan kepresisian bentuk dan ukirannya.

baca juga

Rumah adat Karo Siwaluh Jabu (sumber: Yunita Setyoningrum dkk.)
info gambar

Rumah adat Karo Siwaluh Jabu (sumber: Yunita Setyoningrum dkk.)


Kode Kosmologi dan Makna Simbolis

Kode pertama pada Siwaluh Jabu berkaitan erat dengan tatanan kosmologi dan sistem kepercayaan spiritual masyarakat Karo. Berdasarkan tingkatan kesakralannya, struktur rumah adat Karo terbagi menjadi tiga bagian kosmos.

Bagian atap (kepala) merupakan bagian paling sakral yang dipercaya sebagai tempat bersemayam roh-roh leluhur. Bagian tengah (badan) merupakan ruang tinggal manusia yang sekaligus menjadi penghubung antara dunia atas dan dunia bawah. Bagian kaki (bawah) merupakan area profan.

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa beberapa ragam hias pada Siwaluh Jabu menerapkan prinsip dualisme, yaitu penyatuan dua aspek yang saling berlawanan tetapi saling melengkapi.

Prinsip kosmologi dan dualisme ini terpancar kuat pada motif-motif simbolis hiasan dinding pada bagianΒ derpih dan melmelen, antara lain motif tapak Raja Sulaiman dan pengret-ret.

baca juga

Motif tapak Raja Sulaiman mengambil nama Raja Sulaiman yang dikenal sakti dan ditakuti oleh makhluk jahat.

Wujudnya berupa kombinasi bidang bujur sangkar dan belah ketupat bersambung tanpa terputus, dilengkapi delapan titik sudut yang melambangkan delapan arah mata angin sebagai pedoman hidup masyarakat Karo.

Garis yang tidak terputus ini melambangkan kekuatan penangkal bala untuk melindungi seluruh penghuni rumah dari gangguan dan pengaruh buruk.

Pengret-ret (atau pengeret-ret) adalah artefak menyerupai figur cicak berkepala dua di depan dan belakang.

baca juga

Dalam mitologi Karo, hewan ini dipercaya dapat membantu menunjukkan jalan pulang bagi orang yang tersesat di hutan.Β Pengret-ret terbuat dari tali ijuk hitam yang diikatkan menembus lubang dinding membentuk pola segitiga bersambung.

Selain berfungsi fisik sebagai paku pengikat dinding derpih, ornamen ini memuat makna filosofis sebagai simbol kekuatan, penangkal setan, kesatuan keluarga, kewaspadaan, dan kejujuran.

Keberadaan dua kepala padaΒ pengret-ret oleh beberapa peneliti ditafsirkan sebagai representasi dualisme (material-spiritual, tubuh-jiwa) serta ikatan kekeluargaan dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Ornamen pengret-ret memiliki fungsi estetis, simbolis, dan struktural (sumber: Yunita Setyoningrum dkk.)
info gambar

Ornamen pengret-ret memiliki fungsi estetis, simbolis, dan struktural (sumber: Yunita Setyoningrum dkk.)


Kode Etnomatematika dan Geometri Visual

Kode berikutnya yang tak kalah menakjubkan adalah penerapan prinsip-prinsip matematika yang tersirat. Tanpa mempelajari teori geometri formal di sekolah, masyarakat Karo secara alami telah menerapkan konsep-konsep matematika dalam merancang bangunan dan membuat ornamen hiasan. Praktik budaya yang memadukan matematika ini dikenal sebagai etnomatematika.

baca juga

Pada dinding melmelen dan derpih, terdapat ukiran memadukan berbagai bentuk bangun datar geometri. Berikut ini beberapa motif ukiran dan dekode unsur-unsur geometrisnya, berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Halim (2022).

Lumut-lumut lawimenggabungkan bentuk bujur sangkar, segitiga, dan belah ketupat berupa kotak-kotak putih yang melambangkan perlindungan lumut laut terhadap karang dari hantaman gelombang, sebagai penolak bala dan penyingkir hal jahat.

Ser-ser sigembelmenggunakan pola motif segitiga berwarna gelap yang saling berhadapan dengan latar belah ketupat terang, yang bermakna saling menjaga ketentraman antara penghuni rumah.

Bindu matagah mengintegrasikan komposisi geometri bujur sangkar dan belah ketupat yang tersusun rapi.

baca juga

Embun sikawiten menerapkan konsep geometri lingkaran berulang secara berurutan menggunakan garis-garis lengkung.

Selain penggunaan bangun datar, etnomatematika pada Siwaluh Jabu juga terlihat dari aktivitas matematika spasial masyarakat Karo. Mereka menerapkan penataan garis sejajar, garis berpotongan, garis vertikal-horizontal, serta susunan pengulangan berurut (repetisi) dan bertumpuk secara sistematis.

Penerapan logika matematika ini juga tercermin dalam perhitungan teknis arsitektur, seperti ketinggian panggung, menentukan kemiringan dinding, serta membagi delapan area interior tanpa sekat masif.

Warisan Kecerdasan dan Kearifan Lokal

Melalui penelusuran Siwaluh Jabu, terungkap bahwa rumah adat Karo bukan sekadar bangunan fisik kuno warisan tradisi masa lalu, melainkan monumen kecerdasan dan kearifan lokal yang menyatukan kode budaya dan sains.

baca juga

Kode kosmologi-filosofis menjadikan bangunan ini sebagai ruang harmonisasi antara manusia, alam, dan roh leluhur.

Sementara itu, kode etnomatematika membuktikan bahwa logika geometri telah hidup dan dipraktikkan secara alami oleh nenek moyang suku Karo jauh sebelum masa sains dan teknologi modern.

Mengungkap kedua kode ini tidak hanya memperluas wawasan kita, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga atas tingginya peradaban dan warisan budaya Nusantara.

Β 

Acknowledgments

baca juga

  • Penulis mengucapkan terima kasih kepada Erwin Ardianto Halim dan Yunita Setyoningrum atas kolaborasi dan kesediaan menjadi narasumber informasi dan kepakaran.

  • Tulisan ini didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui kampanye tematik Resona Saintek bagian dari program Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Sains Teknologi Nusantara (Semesta) 2026.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.