desa bawomataluo warisan budaya nias yang masih menanti pengakuan unesco - News | Good News From Indonesia 2026

Desa Bawomataluo: Warisan Budaya Nias yang Masih Menanti Pengakuan UNESCO

Desa Bawomataluo: Warisan Budaya Nias yang Masih Menanti Pengakuan UNESCO
images info

Derius Manao (wikimedia commons)


Bawomataluo atau bukit matahari dalam bahasa Nias, merupakan salah satu desa adat yang terletak di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatra Utara.Β 

Desa ini berjarak sekitar 15 kilometer dari Teluk Dalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan, dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau mobil sewaan. Sesampainya di kaki bukit, pengunjung perlu menaiki 77 anak tangga untuk memasuki desa.Β 

Satu hal unik dari desa adat ini terdapat pada susunan tata ruang desa yang teratur. Sepanjang jalan kamu bisa melihat rumah-rumah adat yang dibangun berjejer dan saling menghadap, sehingga membuat tatanan seperti koridor yang rapi dan terstruktur.

Kawan GNFI yang mungkin sudah pernah mengunjungi atau melihatnya dari internet pasti akan beranggapan bahwa desa ini tidak lebih dari destinasi wisata untuk melihat rumah adat.

baca juga

Di sisi lain, Desa Bawomataluo merupakan ruang hidup masyarakat yang ikut menjaga warisan budaya dan terus diwariskan secara turun temurun.

Omo Hada dan Omo Sebua: Arsitektur Rumah Tahan Gempa Tanpa Paku

Tercatat lebih dari ratusan Omo Hada (rumah adat tradisional Nias) yang dibangun di Desa Bawomataluo, dengan rumah raja/rumah besar di tengahnya atau yang disebut sebagai Omo Sebua.

Omo Hada merupakan tempat tinggal masyarakat biasa yang juga tempat musyawarah keluarga maupun tetangga sekitar. Hal ini biasanya dilakukan di bagian depan rumah atau disebut dengan tawalo.

Sedangkan Omo Sebua ditinggali oleh tokoh-tokoh penting seperti kepala desa maupun kaum bangsawan. Selain ukurannya yang lebih besar, musyawarah Omo Sebua lebih melibatkan tokoh dan mengangkat isu yang lebih penting.

baca juga

Kedua rumah adat dibangun di atas tiang kayu dan ditutupi dengan daun rumbia sebagai atapnya. Namun, seiring perkembangan zaman, beberapa rumah adat juga mulai menggunakan bahan modern seperti seng.

Pembuatan rumah adat ini memiliki keistimewaan, meskipun tanpa paku, rumah dapat berdiri kokoh hanya dengan kayu-kayu yang digabung dan dikatakan juga fondasinya cukup kuat untuk menahan goyangan gempa.

Peninggalan Batu Megalit dan Tradisi Fahombo (Lompat Batu)

Selain rumah-rumah adatnya, Desa Bawomataluo juga menyimpan peninggalan batu megalitik. Batu megalitik ini terletak di tengah desa dan memiliki bentuk trapesium.

Dipercayai batu ini dipergunakan sebagai altar raja maupun altar untuk mengenang orang yang sudah tiada. Selain itu batu ini juga digunakan untuk melaksanakan tradisi fahomboΒ yang merupakan tradisi ikonik Pulau Nias.

baca juga

Sambil mengenakan pakaian adat, seorang pemuda mengambil ancang-ancang dan mulai berlari sekuat tenaga. Dengan bantuan dorongan dari kedua kaki, dirinya melompat melewati batu megalitik setinggi dua meter.

Tradisi ini dipercayai sebagai proses pendewasaan sekaligus ketangkasan. Dalam sejarahnya, lompat batu digunakan sebagai latihan prajurit untuk melompati benteng pertahanan musuh saat terjadi peperangan antardesa.

Status Pelestarian dan Pengakuan Dunia Desa Bawomataluo

Pada tahun 2009 lalu, tepatnya tanggal 6 Oktober, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia telah mengusulkan Desa Bawomataluo sebagai warisan budaya UNESCO. Namun, hingga saat ini Bawomataluo masih dalam status tentative list atau daftar sementara.

Berdasarkan dari isi pengusulan yang dipublikasikan di UNESCO, terdapat beberapa nilai yang membuat Desa Bawomataluo layak masuk ke dalam UNESCO. Masyarakat permukiman Bawomataluo menunjukkan kreativitas manusia dalam membangun pemukiman hingga kemampuan beradaptasi menghadapi tantangan lingkungan.

baca juga

Selain itu, penemuan batu megalitik menjadi sebuah cermin yang dapat memperlihatkan sisi kehidupan masa lalu masyarakat Nias yang kaya akan tradisi.

Bagi kawan GNFI yang sudah memasukkan Desa Bawomataluo ke dalam daftar wisata, ingatlah bahwa destinasi ini bukan sebuah museum mati, melainkan rumah tinggal yang hangat bagi masyarakat yang menghidupkan budayanya. Walaupun masih dalam tentative list, bukit matahari ini akan selalu menjadi salah satu kebanggaan budaya Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MC
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.