Membayangkan kehidupan dunia modern saat ini tanpa adanya aliran listrik rasanya nyaris mustahil. Tanpa energi ini, tidak akan ada gawai pintar yang bisa digunakan untuk mengakses internet, tidak ada penyejuk ruangan yang memberikan kenyamanan di siang hari yang terik, serta tidak ada lampu yang menerangi gelapnya malam. Energi ketenagalistrikan telah bertransformasi menjadi urat nadi peradaban manusia modern.
Namun, sejarah listrik di Indonesia memiliki rekam jejak yang sangat panjang dan berliku. Masuknya teknologi bercahayaΒ ke Nusantara tidak terjadi dalam semalam. Ada rentetan peristiwa yang melibatkan masa penjajahan, perebutan kekuasaan, hingga perjuangan heroik para tokoh bangsa.
Awal Mula Sejarah Listrik di Indonesia: Berawal dari Kebutuhan Pabrik Gula
Jejak sejarah kelistrikan Nusantara dimulai pada penghujung abad ke-19, tepatnya pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Hal yang paling menarik adalah fakta bahwa listrik pertama kali hadir bukan untuk menerangi jalanan kota atau menerangi perumahan warga lokal. Pada masa itu, energi setrum adalah komoditas super mewah yang secara eksklusif diperuntukkan bagi kepentingan industri besar.
Para pengusaha asal Belanda yang mengelola berbagai perkebunan, khususnya pabrik gula dan teh, menyadari bahwa mereka membutuhkan tenaga penggerak yang jauh lebih masif dan efisien dibandingkan sekadar mesin uap tradisional.
Sebagai solusinya, perusahaan-perusahaan perkebunan ini mulai membangun fasilitas pembangkit listrik mandiri berskala kecil di dalam area pabrik. Pemandangan pada masa itu sangat kontras; di saat permukiman penduduk pribumi masih terselimuti gulita di malam hari, area dalam pabrik justru benderang dengan mesin-mesin yang menderu kencang berkat energi baru yang revolusioner ini.
Melihat potensi yang luar biasa besar, pemerintah kolonial dan para investor mulai menyadari bahwa penyediaan energi ini bisa menjadi lahan bisnis infrastruktur yang sangat menguntungkan di wilayah perkotaan.
Sebagaiman dikutip dari lamanΒ Kompas.com, tepat pada tahun 1897, sejarah mencatat berdirinya perusahaan penyedia listrik pertama bernamaΒ Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) yang berlokasi di Gambir, Batavia (kini Jakarta). Pembangkit bertenaga uap pertama ini didirikan tepat di tepian Sungai Ciliwung. Kehadiran NIEM memicu efek domino yang luar biasa.
Sepanjang akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, bermunculan sekitar 35 perusahaan swasta lain yang beroperasi di Hindia Belanda. Dari sekian banyak perusahaan tersebut, namaΒ Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteit-Maatschappij (ANIEM) muncul sebagai raksasa bisnis yang paling mendominasi.
ANIEM berhasil memonopoli pengelolaan dan distribusi jaringan ke berbagai kota besar seperti Surabaya, Yogyakarta, Surakarta, bahkan meluas hingga ke Pulau Bali pada tahun 1925. Sayangnya, pemerataan fasilitas ini masih jauh dari kata adil.
Menikmati cahaya lampu pijar hanyalah hak istimewa bagi kaum ekspatriat Belanda, para bangsawan, serta saudagar kaya. Tercatat pada tahun 1930, hanya ada sekitar 76.000 jiwa (kurang dari 1 persen populasi di Pulau Jawa) yang rumahnya telah dialiri listrik. Bagi rakyat jelata, teknologi ini masih dianggap sebagai keajaiban asing yang tidak terjangkau.
Masa Suram Ketenagalistrikan di Bawah Pendudukan Militer Jepang
Sejarah PLN dan ketenagalistrikan nasional memasuki fase yang paling kelam ketika Perang Dunia II meletus. Pada tahun 1942, pemerintah kolonial Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara kekaisaran Jepang. Pergantian tampuk kekuasaan ini membawa dampak instan pada seluruh sektor infrastruktur, termasuk kelistrikan.
Militer Jepang secara paksa mengambil alih seluruh aset, pembangkit, dan jaringan distribusi peninggalan Belanda di penjuru Nusantara. Sepanjang periode pendudukan Jepang dari tahun 1942 hingga 1945, seluruh perusahaan ini dialihfungsikan secara mutlak demi mendukung mesin perang dan logistik militer tentara pendudukan. Para buruh pribumi yang bekerja di sektor ini terpaksa berjuang di bawah bayang-bayang tekanan militer yang sangat keras, dengan kondisi kerja yang sangat memprihatinkan dan penuh risiko.
Bulan Agustus 1945 menjadi titik balik paling bersejarah bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Kekalahan Jepang dari pasukan Sekutu membuka jalan bagi Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Meskipun merdeka secara politik telah diraih, infrastruktur dan aset vital negara masih berada di bawah penjagaan ketat tentara Jepang yang belum ditarik mundur.
Pada bulan September 1945, delegasi buruh tersebut menghadap pimpinan Komite Nasional Indonesia (KNI) Pusat untuk melaporkan keberhasilan mereka merebut fasilitas vital tersebut. Secara bersama-sama, aset-aset berharga hasil rampasan revolusi ini diserahkan langsung kepada Presiden Soekarno agar dapat dikelola sepenuhnya oleh pemerintah Republik Indonesia yang baru seumur jagung.
Tonggak Sejarah PLN dan Peringatan Hari Listrik Nasional
Merespons penyerahan aset vital oleh para pemuda, pemerintah mengambil langkah cepat dan strategis. Pada tanggal 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno secara resmi membentuk Jawatan Listrik dan Gas yang bernaung di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga. Saat pertama kali dibentuk, total kapasitas pembangkit yang dimiliki oleh negara merdeka ini hanyalah sebesar 157,5 Megawatt (MW).
Angka 157,5 MW tentu terlihat sangat kecil jika disandingkan dengan kapasitas satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) modern saat ini yang bisa mencapai ribuan Megawatt. Namun, bagi sebuah negara yang baru lahir, fasilitas tersebut adalah fondasi awal yang teramat berharga. Untuk mengenang momen pembentukan jawatan inilah, tanggal 27 Oktober kemudian ditetapkan dan dirayakan setiap tahun sebagai Hari Listrik Nasional.
Dalam perjalanannya, institusi kelistrikan negara ini mengalami berbagai transformasi struktural. Statusnya berubah menjadi Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara (BPU-PLN) pada tahun 1961, lalu menjadi Perusahaan Umum (Perum) pada tahun 1972, hingga akhirnya bermetamorfosis menjadi PT PLN (Persero) pada tahun 1994. Hingga kini, perusahaan BUMN ini memegang mandat utama untuk menerangi kehidupan seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

