Profesi medis selalu menduduki posisi vital dalam struktur masyarakat sejak berabad-abad lampau. Setiap tanggal 24 Oktober, sebuah perayaan penting digelar untuk memperingati Hari Dokter Nasional.
Peringatan tersebut bukan semata-mata seremoni tahunan organisasi keprofesian, melainkan sebuah bentuk penghormatan tinggi terhadap dedikasi para tenaga kesehatan. Menelusuri jejak masa lalu, profesi medis ini nyatanya memiliki kaitan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah pergerakan nasional.
Perjalanan berliku dari masa penjajahan hingga era kemerdekaan telah menempatkan tenaga kesehatan sebagai salah satu pilar utama dalam perjuangan kemanusiaan serta kemerdekaan politik.
Makna di Balik Gelar Akademis Profesi Medis
Sebutan profesi di bidang kesehatan memiliki sejarah linguistik yang sangat kaya akan makna. Dikutip dari laman kemkes.go.id artikel berjudul "Hari Dokter Nasional"Β istilah tersebut pada dasarnya diambil dari kosakata bahasa Latin, yaitu "docere", yang memiliki arti harfiah "mengajar".
Pada peradaban masa lampau, secara spesifik selama lebih dari 1000 tahun di kawasan benua Eropa, sebutan ini secara eksklusif digunakan sebagai sebuah gelar kehormatan.
Gelar prestisius ini disematkan kepada individu-individu tertentu yang memiliki tingkat ilmu pengetahuan tinggi serta kemampuan membagikan kebijaksanaan tersebut kepada orang banyak.
Krisis Kesehatan Era Penjajahan dan Kemunculan Dokter Djawa
Sejarah profesi Dokter di wilayah Nusantara sebenarnya berawal dari sebuah krisis kesehatan darurat yang melanda secara masif pada pertengahan abad ke-19. Pada kurun waktu tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengalami kesulitan besar dan kewalahan dalam menghadapi wabah penyakit malaria yang merajalela.
Sebagai sebuah langkah penanganan penyebaran penyakit mematikan tersebut, sebuah kebijakan darurat akhirnya dikeluarkan pada tanggal 2 Januari 1849.
Kebijakan yang tertuang dalam Keputusan Gubernemen No. 22 tersebut secara resmi menandai dimulainya penyelenggaraan pendidikan kedokteran pertama di wilayah Nusantara, yang pada era itu masih bernama Nederlandsch Indie.
Kurikulum pendidikan awal ini berhasil mencetak 12 orang siswa yang dinyatakan lulus setelah menempuh masa studi singkat selama dua tahun.
Para lulusan pertama ini kemudian dianugerahi sebuah gelar kebanggaan yakni Dokter Djawa. Kendati menyandang gelar akademis, tugas pokok dan wewenang para tenaga medis awal ini masih sangat terbatas pada saat itu. Mereka kebanyakan hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar.
STOVIA: Pusat Lahirnya Golongan Intelektual
Perkembangan sistem pendidikan ilmu pengobatan medis menjadi jauh lebih tertata serta komprehensif ketika sebuah sekolah kedokteran baru didirikan pada tahun 1898. Institusi pendidikan kesehatan ini dikenal luas oleh sejarah dengan nama STOVIA.
Keberadaan sekolah kedokteran ini ternyata tidak sekadar berfungsi sebagai tempat mencetak para ahli pengobatan fisik. Ruang-ruang kelas STOVIA justru berubah menjadi tempat berkumpul dan berdiskusinya kaum intelektual muda. Para pelajar di institusi ini kelak berevolusi menjadi pelopor pergerakan menentang praktik kolonialisme.
Banyak tokoh pahlawan pergerakan nasional yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah bangsa lahir dari tempaan pendidikan medis ini, di antaranya adalah dr. Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, serta Tjipto Mangoenkoesomo.
Kesadaran akan keterbelakangan nasib masyarakat pribumi mendorong dr. Sutomo beserta tokoh pergerakan lainnya untuk memprakarsai berdirinya sebuah perkumpulan modern yang dinamakan Boedi Oetomo.
Organisasi perintis ini didirikan dengan fondasi pemikiran kuat bahwa kemajuan sebuah bangsa amat bergantung pada sektor pendidikan serta pemerataan pengajaran.
Semangat perlawanan golongan cendekiawan medis terus berkobar dan merambat ke wilayah politik. Bukti nyata dari transisi ini tampak dari langkah berani dr. Cipto Mangunkusumo yang, bekerja sama dengan figur Douwes Dekker serta Suwardi Suryaningrat, membentuk partai politik bernama Indische Partij.
Partai politik ini lahir dengan tujuan besar untuk menyokong dan mempersiapkan kehidupan bangsa menuju gerbang kemerdekaan. Semangat pembebasan tersebut digaungkan melalui sebuah semboyan ikonik berbunyi 'Hindia for Hindia'.
Slogan pergerakan tersebut membawa arti bahwa tanah air ini sejatinya diperuntukkan sepenuhnya bagi orang-orang yang menetap di dalamnya secara mutlak tanpa memandang suku, ras, maupun hal lainnya.
Dikutip dari laman Kompaspedia artikel berjudul "Sejarah Hari Dokter", beriringan dengan naiknya eskalasi gerakan nasional, dorongan untuk memiliki organisasi keprofesian medis yang mandiri juga semakin tak terbendung.
Langkah konkret terwujud pada tahun 1911 saat sebuah perkumpulan profesi bernamaΒ Vereniging van Indische Artsen akhirnya berhasil dibentuk.
Setelah berkiprah selama lima belas tahun di dunia medis, organisasi tersebut merombak identitas kelembagaannya menjadiΒ Vereniging Van Indonesische Genesjkundigen (VIG) pada tahun 1926.
Puncak aktivitas keorganisasian ini terjadi saat diselenggarakannya kongres besar di kota Solo pada tahun 1940. Melalui kongres tersebut, seorang tokoh bernama Prof. Bahder Djohan diberikan amanat besar untuk mulai membina dan merumuskan padanan istilah baru dalam dunia medis menggunakan bahasa ibu.
Sayangnya, aktivitas intelektual ini dipaksa berhenti beroperasi saat masuknya balatentara pendudukan Jepang; organisasi tersebut akhirnya dibubarkan dan namanya diganti secara sepihak menjadiΒ Jawa izi Hooko-Kai.
Momentum Bersatunya Tenaga Medis dan Berdirinya Ikatan Dokter Indonesia
Begitu kemerdekaan sukses diraih dan bangsa terbebas dari cengkeraman penjajah, ikhtiar untuk merajut kembali persatuan tenaga kesehatan nasional mulai dilakukan secara intensif.
Sebuah tahapan penting terjadi pada tanggal 30 Juli 1950, berawal dari inisiatif cerdas Dr. Seni Sastromidjojo yang mengusulkan diselenggarakannya sebuah pertemuan persatuan.
Agenda historis ini mempertemukan dua organisasi utama, yaitu PB Perthabin (Persatuan Thabib Indonesia) dengan DP-PDI (Perkumpulan Dokter Indonesia).
Diskusi strategis antarkedua kubu ini berujung pada terbentuknya kesepakatan untuk menggelar Muktamar Dokter Warganegara Indonesia (PMDWNI). Seluruh rangkaian musyawarah ini dikomandoi langsung oleh Dr. Bahder Djohan.
Acara puncak dari proses konsolidasi nasional ini dilaksanakan dalam rentang waktu tanggal 22 sampai dengan 25 September 1950 yang mengambil lokasi di Deca Park. Peristiwa bersejarah tersebut dikenal sebagai Muktamar I Ikatan Dokter Indonesia atau MIDI.
Melalui mekanisme musyawarah mufakat, forum tersebut menetapkan Dr. Sarwono Prawirohardjo sebagai Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang pertama kalinya. Wadah perhimpunan profesi ini akhirnya diresmikan secara legal dan operasional pada bulan Oktober.
Rentetan kejadian historis inilah yang menjadi landasan utama mengapa setiap tanggal 24 Oktober secara konsisten ditetapkan serta diperingati secara luas sebagai perayaan Hari Dokter Nasional.
Berkaca dari sejarah perjalanan yang begitu panjang, profesi kesehatan di Nusantara benar-benar dilahirkan langsung dari kerasnya tempaan perjuangan pergerakan rakyat.
Tenaga profesional medis senantiasa membuktikan kualitas pengabdiannya, tidak hanya di atas ranjang-ranjang ruang perawatan rumah sakit, melainkan juga di medan perjuangan mencerdaskan anak bangsa.
Semangat pengorbanan yang diwariskan oleh kaum 'Dokter Djawa' serta alumni cendekiawan STOVIA diharapkan akan terus menjadi fondasi utama dalam sistem dan pelayanan kesehatan modern saat ini.Β

