saat rivalitas dikesampingkan suporter diy turun aksi melawan kesewenang wenangan ala istanbul united - News | Good News From Indonesia 2026

Seperti Istanbul United, Suporter DIY Turun Aksi Melawan Kesewenang-wenangan

Seperti Istanbul United, Suporter DIY Turun Aksi Melawan Kesewenang-wenangan
images info

Ilustrasi lapangan sepak bola | Wikimedia


Ikuti GNFI di WhatsApp

Situasi di Yogyakarta sempat memanas pada Rabu, 28 Oktober 2026 lalu. Masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Jogja Memanggil menggelar demonstrasi yang mengusung 12 tuntutan, mulai dari penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, penyesuaian besaran upah buruh, hingga membatalkan rencana pembangunan batalion teritori dan menghapus program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Demonstrasi yang dihelat bertepatan dengan momen Hari Sumpah Pemuda itu dimulai dari kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di mana massa menyampaikan tuntutannya. Setelahnya, demonstrasi dilanjutkan dengan bergerak menyusuri Jalan Malioboro dan memusatkan aksi di Titik Nol Kilometer hingga sore hari.

Di antara elemen-elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Jogja Memanggil, ada para suporter sepak bola yang ikut turun ke jalan bersama kelompok lain seperti mahasiswa, buruh, dan aktivis. Biasanya, suporter bukanlah "pemain utama" dalam sebuah demonstrasi yang menyoroti isu di luar urusan sepak bola. Akan tetapi, apa yang terjadi di Yogyakarta berbeda.

Suporter menjadi pihak yang paling menarik perhatian publik terutama setelah terjadinya kericuhan antara demonstran dengan aparat beserta oknum anggota ormas dan preman. Siapa sangka, suporter kemudian melawan balik dengan memburu anggota ormas dan preman tersebut.

Solidnya suporter sepak bola di DIY yang bersama-sama turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi mirip dengan gerakan Istanbul United yang ada di Turki pada tahun 2013 lalu. Kisahnya pun serupa: suporter yang biasanya berseteru bersatu dan sejenak melupakan rivalitas untuk bersama melawan kesewenang-wenangan penguasa dan kekerasan aparat.

baca juga

Antara Istanbul United dan Suporter DIY 

stanbul adalah wilayah dengan sejumlah klub sepak bola. Kota yang dibelah oleh Selat Bosphorus itu memiliki klub seperti Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas yang dikenal punya suporter fanatik. Di sisi lain, DIY punya PSIM Yogyakarta, PSS Sleman, dan Persiba Bantul dengan kelompok pendukungnya masing-masing, di samping klub lain seperti Persig Gunungkidul dan Persikup Kulon Progo.

Pada 2013, protes merebak di Istanbul setelah pemerintah berencana mengubah Taman Gezi yang notabene merupakan satu dari sedikit ruang hijau di pusat kota menjadi pusat perbelanjaan. Aksi demonstrasi yang dilakukan masyarakat berujung pada kekerasan oleh aparat. Di sinilah suporter kemudian menghimpun kekuatan untuk berjuang bersama.

Di jalanan, para suporter melindungi demonstran dari serangan gas air mata dan water cannon aparat. Persatuan mereka itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan Istanbul United.

Mengenai koalisi suporter di DIY sendiri, bergabungnya mereka dengan massa terutama kelompok mahasiswa sebetulnya bisa menguntungkan. Menurut Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fajar Junaedi, pertemuan kedua kelompok dalam demonstrasi berpotensi memperbesar daya dorong aksi dan saling melengkapi.

"Keduanya bisa saling melengkapi. Mahasiswa kuat di argumentasi, sedangkan suporter kuat di disiplin massa. Kalau dua kekuatan itu bertemu dengan baik, aksi akan punya energi yang lebih besar dan basis yang lebih beragam," ujar Fajar dalam keterangan tertulis yang dipublikasikan UMY.

Di sisi lain, pertemuan suporter dan mahasiswa bukan tanpa risiko. Misalnya, masih lekatnya suporter dengan stereotip kekerasan. Gaya orasi mahasiswa dan nyanyian suporter yang jelas berbeda juga berpotensi menimbulkan gesekan. Belum lagi potensi provokasi dari pihak luar. Untuk itu, Fajar menyarankan agar kedua kelompok sejak awal membuat kesepakatan mengenai pembagian peran, kode komunikasi, dan mekanisme deeskalasi apabila situasi memanas.

"Dengan begitu, ketika ada gesekan, kedua pihak sudah tahu apa yang harus dilakukan dan tidak saling menyalahkan," paparnya.

baca juga

 

 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.