Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah (TASL) adalah jembatan tipe cable-stayed megah yang membentang di atas Sungai Siak, Kabupaten Siak, Riau. Infrastruktur yang populer dengan sebutan Jembatan Siak ini menghubungkan kawasan Kota Siak Sri Indrapura yang sebelumnya sempat terisolasi.
Nama jembatan ini diambil dari gelar permaisuri Sultan Syarif Kasim II, yakni Tengku Agung Syarifah Latifah. Penamaannya menjadi wujud penghormatan terhadap tokoh sejarah lokal.
Diresmikan pada 11 Agustus 2007 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jembatan ini menjadi jembatan cable-stayed pertama di Pulau Sumatra. Menariknya, seluruh proses perancangan dan pembangunannya dikerjakan sepenuhnya oleh tenaga ahli dalam negeri.
Selain itu, jembatan ini punya lift outdoor berdinding kaca transparan di menara utamanya. Fasilitas lift unik tersebut bahkan berhasil meraih rekor resmi dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Solusi Keterisolasian Wilayah
Merangkum tulisan Rendi Saputra, dkk., di Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora, sebelum jembatan ini dibangun, mobilitas masyarakat di Siak Sri Indrapura sangat terbatas karena bergantung pada moda transportasi air seperti kapal feri dan sampan. Kondisi ini membuat ekonomi setempat lesu sampai dijuluki kota mati.
Gagasan pembangunan jembatan mulai diinisiasi di tahun 2001 oleh Bupati Siak Arwin AS dengan melibatkan tim ahli dari Institut Teknologi Bandung. Pembangunannya sempat menghadapi penolakan politik dan kendala izin pelayaran. Namun, pemerintah daerah tetap melanjutkan proyek ini.
Penandatanganan kontrak kerja fisik dilaksanakan pada 27 Desember 2002 bersama konsorsium PT Hutama Karya dan PT Pembangunan Perumahan. Seluruh biaya pembangunan sebesar Rp277,65 miliar bersumber murni dari APBD Kabupaten Siak.
Presiden SBY kemudian meresmikan jembatan ini secara resmi pada Agustus 2007. Jembatan ini menjadi jalur darat vital yang menghubungkan Kabupaten Siak, Kota Pekanbaru, hingga Kabupaten Bengkalis.
Struktur Jembatan
Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah memiliki total panjang mencapai 1.196 meter dengan lebar lantai 16,95 meter. Bentang utamanya dirancang sepanjang 300 meter tepat melintas di atas Sungai Siak.
Konstruksi jembatan ini ditopang oleh dua menara utama setinggi 80 meter yang dilengkapi trotoar di kedua sisinya. Ketinggian ruang bebas jembatan mencapai 23 meter di atas permukaan air saat pasang. Ini dilakukan agar lalu lintas kapal tetap lancar.
Struktur jembatan ini mampu menahan beban kendaraan hingga kapasitas 28 ton. Dengan penerapan teknologi modern, jembatan cable-stayed ini dirancang memiliki ketahanan bangunan hingga 100 tahun.
Jembatan Pertama yang Punya Lift dan Dianugerahi Rekor MURI
Yang paling unik dari Jembatan Siak adalah lift outdoor berdinding kaca transparan. Elevator ini terpasang secara unik menyusuri tiang luar menara jembatan yang melengkung.
Lift kaca tersebut membawa pengunjung menuju ruang pandang seluas 40 meter persegi di ketinggian 73 hingga 75 meter. Dari puncak menara, wisatawan dapat menikmati panorama indah Sungai Siak dan lanskap Kota Siak secara menyeluruh.
Pengoperasian menara jembatan sebagai objek wisata umum telah dibuka secara resmi sejak tahun 2023. Untuk menikmati fasilitas ini, pengunjung dewasa dikenakan tarif tiket masuk sebesar Rp30.000 dan anak-anak Rp20.000.
Mengingat kapasitas lift dibatasi maksimal enam orang, pengunjung harus bersabar mengantre di area RTH Siak Lawo.
Kawan, berkat adanya lift outdoor ini, Jembatan Siak dianugerahi penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada Mei 2024 sebagai lift outdoor pertama di Indonesia yang menempel di struktur menara atau pilar jembatan.
Ada yang pernah mencoba naik lift di Jembatan Siak?


