Dominasi sepeda motor di Indonesia membuka peluang bagi kendaraan roda tiga, seperti bajaj modern dan becak listrik, untuk berkembang sebagai alternatif transportasi umum. Selain menawarkan kapasitas angkut lebih besar, moda ini berpotensi memperkuat konektivitas kawasan perkotaan, perdesaan, hingga wilayah kepulauan yang belum terjangkau transportasi massal.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai kendaraan roda tiga memiliki potensi strategis untuk mendukung sistem transportasi yang lebih inklusif.
βModa ini dapat mengisi kesenjangan layanan mobilitas, terutama untuk perjalanan jarak pendek dan distribusi barang,β ucap Djoko kepada Good News From Indonesia, Senin (12/10).
Kehadiran bajaj sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sebelum berkembangnya layanan berbasis aplikasi, kendaraan ini telah beroperasi di sejumlah daerah, seperti Bekasi, Banjarmasin, Sampit, Banyumas, dan Cilacap. Pada 2023, layanan bajaj modern berbasis aplikasi mulai masuk ke Makassar melalui platform MaxRide. Perkembangannya kemudian menjangkau sejumlah kota lain, termasuk Medan, Pematangsiantar, Yogyakarta, Surakarta, Sragen, dan Semarang.
Kendaraan Roda Tiga Punya Keunggulan untuk Transportasi Umum
Salah satu keunggulan kendaraan roda tiga adalah kemampuannya melayani kebutuhan transportasi yang tidak selalu dapat dipenuhi sepeda motor maupun angkutan umum berukuran besar. Kendaraan ini dapat mengangkut dua hingga tiga penumpang, tergantung desain dan kapasitas yang diizinkan, sekaligus menawarkan perlindungan lebih baik terhadap hujan dan panas melalui atap atau kabin tertutup.
Dari aspek aksesibilitas, kendaraan roda tiga berpotensi memberikan kenyamanan lebih bagi lansia, anak-anak, ibu yang membawa anak, serta penumpang dengan barang bawaan. Karakteristik tersebut menjadikannya alternatif untuk perjalanan jarak pendek, terutama dari permukiman menuju stasiun kereta, halte bus, pasar, dan pusat kegiatan masyarakat.
βPengembangan kendaraan roda tiga dapat menjadi pilihan moda transportasi yang potensial, khususnya untuk mendukung konektivitas wilayah yang belum memungkinkan pengembangan transportasi umum massal,β jelasnya.
Selain sebagai angkutan penumpang, kendaraan roda tiga juga memiliki potensi besar untuk mendukung distribusi barang. Kendaraan niaga roda tiga dengan kapasitas yang sesuai spesifikasi dapat dimanfaatkan untuk mengangkut hasil pertanian, kebutuhan pasar, serta barang dagangan menuju kawasan yang sulit dijangkau mobil pikap.
Dimensinya yang relatif kompak membuat kendaraan ini dapat menjangkau jalan sempit dan gang permukiman. Untuk wilayah perdesaan, pesisir, dan kepulauan kecil, kendaraan roda tiga juga berpeluang menjadi moda penghubung ketika jumlah penduduk dan kondisi geografis belum mendukung pengoperasian angkutan massal.
Dari sisi lingkungan, penggunaan kendaraan roda tiga berbasis listrik dapat menjadi pilihan untuk mengurangi emisi gas buang dan kebisingan lokal dibandingkan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada sumber listrik, teknologi kendaraan, dan pengelolaan baterai.
Integrasi Transportasi dan Regulasi Jadi Kunci Pengembangan
Meski menawarkan berbagai keunggulan, pengembangan kendaraan roda tiga membutuhkan perencanaan yang matang. Kendaraan ini memiliki risiko terguling ketika menikung terlalu cepat, terutama jika pusat gravitasi tinggi atau muatan tidak terdistribusi dengan baik. Dimensinya yang lebih lebar daripada sepeda motor juga dapat menambah tekanan terhadap ruang jalan apabila jumlah armada tidak dikendalikan.
Karena itu, Djoko menyatakan pemerintah perlu memastikan standar keselamatan, kelayakan jalan, kapasitas angkut, serta wilayah operasional diterapkan secara konsisten. Pengemudi juga perlu mendapatkan pelatihan mengenai keselamatan berkendara dan pengangkutan penumpang.
βIntegrasi dengan transportasi massal menjadi langkah penting berikutnya. Bajaj modern dan becak listrik dapat difungsikan sebagai angkutan pengumpan yang menghubungkan permukiman dengan stasiun MRT, LRT, KRL, maupun halte bus. Pemesanan melalui aplikasi juga dapat membantu meningkatkan kepastian tarif dan kemudahan transaksi, lanjutnya.
Pemerintah daerah perlu mengatur keseimbangan antara jumlah armada dan kebutuhan penumpang agar layanan tetap efisien sekaligus menjaga pendapatan pengemudi. Dukungan insentif untuk kendaraan listrik, kemitraan dengan pengelola pasar dan kawasan perumahan, serta uji coba rute dapat mempercepat penerimaan masyarakat.
Pada akhirnya, kendaraan roda tiga bukan pengganti mutlak sepeda motor atau transportasi massal. Namun, dengan pemilihan wilayah yang tepat, standar keselamatan yang ketat, dan integrasi layanan yang baik, moda ini berpotensi menjadi solusi transportasi umum yang lebih mudah diakses, efisien, dan menjangkau masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal.


