Penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dapur mayoritas masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), 89,71 persen rumah tangga di tanah air mengandalkan LPG sebagai bahan bakar utama untuk memasak.
Tingginya angka ini menunjukkan pesatnya adopsi energi modern yang menggeser penggunaan minyak tanah dan kayu. Akan tetapi, penggunaan gas elpiji ini sebetulnya belum merata di seluruh pelosok Indonesia.
Sejumlah daerah mencatatkan tingkat adopsi LPG yang hampir menyentuh 100 persen, Kalimantan Timur contohnya. Namun, di sisi lain beberapa kawasan timur Indonesia masih menghadapi keterbatasan akses infrastruktur energi.
Kondisi geografis dan tantangan logistik antarwilayah menjadi faktor utama di balik perbedaan tingkat adopsi tersebut. Wilayah mana saja yang masyarakatnya sudah menggunakan LPG untuk memasak?
Provinsi dengan Penggunaan LPG Tertinggi
Mengutip data BPS, di bawah ini adalah 10 provinsi di Indonesia dengan persentase penggunaan LPG paling tinggi untuk memasak:
- Kalimantan Timur: 98,58%
- Sumatera Selatan: 98,07%
- DKI Jakarta: 97,90%
- Gorontalo: 97,70%
- Kalimantan Barat: 97,65%
- Kepulauan Bangka Belitung: 97,41%
- Bengkulu: 97,39%
- Riau: 96,68%
- Sulawesi Selatan: 96,25%
- Aceh: 96,22%
Kawan GNFI, saat rumah tangga di Kalimantan Timur hampir seluruhnya sudah beralih menggunakan gas, kondisi sebaliknya justru terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Data BPS menunjukkan, NTT menjadi provinsi dengan penggunaan LPG terendah nasional, yakni 1,72 persen. Sebanyak 62,83 persen rumah tangga di NTT masih mengandalkan kayu bakar sebagai sarana memasak utama.
Selain NTT, dua provinsi lain dengan penggunaan LPG paling sedikit adalah Maluku Utara sebesar 2,07 persen dan Maluku sebesar 2,42 persen. Sebagian besar warga di kawasan tersebut masih bergantung pada penggunaan minyak tanah.
Konversi Minyak Tanah ke LPG
Kawan, pemerintah memiliki program konversi minyak tanah ke LPG yang diluncurkan pada 2007 silam. Kebijakan ini diawali untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis kerosin.
Melansir dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), latar belakang program konversi ini adalah subsidi minyak tanah yang membengkak di APBN serta maraknya penyelewengan distribusi. Kebijakan ini turut diperkuat dengan Perpres Nomor 104 Tahun 2007 dan Permen ESDM Nomor 26 Tahun 2009.
Tujuan utama program ini adalah efisiensi anggaran negara sekaligus mengalihkan pasokan ke energi yang lebih bersih dan efisien. Selain menghemat anggaran subsidi hingga triliunan rupiah, LPG juga lebih ramah lingkungan karena emisi karbonnya lebih rendah dari kerosin alias minyak tanah.
Pemerintah membagikan paket perdana berupa tabung gas 3 kg dan kompor gratis bagi rumah tangga serta usaha mikro sasaran. Langkah ini berhasil menggeser kebiasaan memasak masyarakat secara bertahap hingga saat ini.
Mengenal Jenis Gas LPG di Indonesia
Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah mengenal LPG sejak tahun 1968 melalui merek Elpiji milik Pertamina. Seiring berjalannya waktu, varian produk dan sasaran pengguna LPG terus berkembang sesuai kebutuhan.
Varian pertama adalah Elpiji 3 kg bersubsidi berkemasan tabung hijau muda atau biasa disebut gas melon. Gas hijau ini diperuntukkan bagi rumah tangga kurang mampu dan usaha mikro. Skema subsidi diatur ketat pemerintah agar penyalurannya tepat sasaran.
Selain itu, ada juga Elpiji 12 kg non-subsidi bertabung biru untuk rumah tangga menengah serta usaha skala menengah. Di sisi lain, untuk kebutuhan komersial dan industri besar, Pertamina menyediakan tabung Elpiji 50 kg berwarna merah.
Ada pula varian Bright Gas ukuran 220 gram, 5,5 kg, hingga 12 kg dalam warna biru, ungu, dan pink. Produk ini dilengkapi teknologi katup ganda demi meningkatkan keamanan memasak di rumah tangga.
Selain itu, tersedia produk Ease Gas ukuran 9 kg, 12 kg, dan 14 kg berkemasan warna emas bagi konsumen menengah atas. Beragam jenis ini memudahkan masyarakat memilih bahan bakar sesuai skala kebutuhan.


