Ada sebuah cerita rakyat dari Kalimantan Timur yang mengisahkan tentang legenda Silu yang sakti. Legenda ini berkisah tentang seorang anak bungsu yang memiliki kesaktian, khususnya dalam hal memasak.
Bagaimana kisah dari legenda Silu yang sakti tersebut?
Legenda Silu yang Sakti, Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur
Dikutip GNFI dari buku Serpihan Cerita Rakyat Kalimantan Timur, pada zaman dahulu ada sebuah daerah yang berada di hulu Sungai Bengalon. Di sana hidup lima orang kakak beradik.
Kelima saudara ini terdiri dari empat orang anak laki-laki dan satu orang perempuan. Anak tertua dari lima bersaudara ini bernama Ayus.
Sementara itu, tiga adik laki-lakinya bernama Sentang, Songo, dan Setu. Terakhir adik bungsunya merupakan seorang perempuan yang bernama Silu.
Walau Silu hanya satu-satunya perempuan di sana, dia justru memiliki kesaktian yang mumpuni. Silu memiliki ilmu tinggi, khususnya dalam hal masak memasak.
Kelima saudara ini hidup rukun bersama. Walau mereka tidak memiliki orang tua lagi, kelima saudara tersebut saling melengkapi dan hidup damai bersama.
Setiap hari keempat saudara laki-laki Silu pergi ke hutan untuk berladang. Mereka mengolah berbagai macam jenis tanaman yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Terkadang keempat saudara Silu ini juga berburu di hutan di sela waktu mereka bekerja. Hasil buruan ini biasanya nanti akan mereka konsumsi bersama saat kembali ke rumah.
Ketika keempat saudaranya pergi ke ladang, Silu hanya tinggal di rumah saja. Dia bertanggung jawab untuk memasak dan memenuhi kebutuhan makanan keluarganya.
Ajaibnya Silu selalu bisa memenuhi kebutuhan makanan mereka semua. Nasi yang ada di dalam dandang selalu penuh, walau terkadang hasil ladang mereka tidak mencukupi.
Hal ini membuat kelima saudara ini hidup tentram dan nyaman. Walau sederhana, mereka tidak pernah sekalipun kekurangan makanan yang dikonsumsi setiap harinya.
Pada suatu hari, Silu hendak pergi ke tepian sungai untuk mencuci. Dirinya menitipkan dandang nasi yang tengah dimasak pada saudaranya, Ayus.
Silu meninggalkan sebuah pesan pada saudaranya itu. Dia berkata jika Ayus tidak boleh membuka dandang selama dia pergi.
Setelah beberapa lama Silu pergi, Ayus ternyata penasaran mengapa adiknya bisa memasak nasi dalam jumlah banyak setiap harinya. Dirinya kemudian melanggar pesan sang adik dan membuka tutup dandang.
Saat membuka tutup dandang tersebut, Ayus melihat satu untai padi di dalamnya. Setengah dari untai padi itu sudah berubah menjadi nasi.
Ayus tentu heran melihat hal tersebut. Karena tidak menemukan jawaban dari rahasia sang adik, Ayus kembali menutup dandang itu.
Sepulang dari tepian sungai, Silu kembali pergi ke dapur. Dirinya pun membuka dandang nasi yang sedang dimasak sebelumnya.
Ketika membuka dandang, Silu hanya menemukan nasi yang masak setengahnya saja. Silu pun sadar jika saudaranya sudah melanggar pesan yang dia tinggalkan sebelumnya.
Silu pun menjadi marah kepada Ayus. Dia kecewa jika saudaranya itu tidak bisa menjaga amanah yang dia berikan.
Akhirnya Silu pun memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut. Silu berniat untuk pergi menyusuri sungai ke arah hilir.
Ayus pun menyesali perbuatan yang sudah dia lakukan. Dia pun mengajak ketiga adiknya untuk mengejar Silu dan mengajaknya kembali pulang ke rumah.
Namun usaha yang dia lakukan tidak berhasil. Begitu tiba di hilir sungai, Silu pun memutuskan untuk menenggelamkan diri di Laut Mangkalihat.
Silu pun akhirnya bersemayam di laut tersebut. Walau begitu, dia tidak pernah melupakan saudaranya,
Setiap dua kali setahun, Silu akan muncul ke permukaan. Dia akan mengarahkan pandangan ke Bengalon dan Perondongan dalam dua momen tersebut.
Jika Silu sedang melakukan hal ini, maka padi di kedua daerah tersebut akan memasuki musim panen.


