Perempuan pekerja yang sudah menikah terkadang sering memikul dua tanggung jawab sekaligus. Misalnya, di kantor ada target dan tenggat, sedangkan di rumah ada keluarga yang perlu diurus.
Beban dari dua arah tersebut dapat membuat stres perempuan pekerja mudah menumpuk. Lama-kelamaan, pikiran sulit beristirahat dan kelelahan mental pun dapat terasa secara terus-menerus.
Supriyati dan Vira Sandayanti dalam jurnal GUIDENA meneliti 188 karyawan perempuan yang sudah menikah di Bandar Lampung. Hasilnya menunjukkan bahwa stres kerja pada responden berkaitan dengan beban kerja, konflik peran ganda, dan dukungan sosial keluarga.
Gambaran mengenai tekanan psikologis pada pekerja perempuan juga terlihat dalam survei Naluri terhadap lebih dari 13.000 karyawan penuh waktu di lima negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Hasilnya, 60 persen karyawan perempuan melaporkan tingkat burnout yang tinggi, sedangkan pada karyawan laki-laki angkanya 51 persen. Selain itu, tingkat keparahan depresi, kecemasan, dan stres pada karyawan permpuan dilaporkan lebih tinggi dibandingkan karyawan laki-laki.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Pengelolaan beban kerja menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk membantu mengurangi stres kerja pada perempuan, khususnya yang sudah menikah, dengan menjaga keseimbangan antara peran di tempat kerja dengan peran di rumah.
Langkah ini dapat membantu mengurangi konflik yang muncul ketika tuntutan dari kedua peran tersebut saling berbenturan.
Di sisi lain, dukungan dari keluarga juga dapat membantu perempuan ketika sedang menghadapi berbagai tuntutan tersebut. Dukungan itu dapat berupa perhatian, penghargaan, motivasi, maupun bantuan dalam pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak.
βUpaya untuk mengelola stres terkait pekerjaan perlu dilakukan tidak hanya melalui pendekatan organisasi tetapi juga melalui peningkatan dukungan sosial keluarga untuk membantu individu menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan keluarga,β tulisnya dalam jurnal tersebut.
Mengelola beban kerja, menjaga keseimbangan peran, dan mendapatkan dukungan dari keluarga dapat membantu perempuan dalam menghadapi berbagai tuntutan yang datang dari pekerjaan maupun keluarga.
Namun selain upaya-upaya tersebut, aktivitas fisik ternyata juga dapat menjadi salah satu cara untuk membantu menjaga kondisi psikologis perempuan.
Yoga dan Zumba Dapat Menjadi Pilihan
Hal ini menjadi perhatian bagi Noortje Anita Kumaat, guru besar Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dalam penelitiannya di jurnal Pedagogy of Physical Culture and Sports.
Noortje meneliti 159 wanita pekerja di Indonesia untuk melihat peran aktivitas fisik terhadap kesehatan mental perempuan. Hasilnya, ia merekomendasikan yoga dan zumba sebagai dua jenis olahraga yang dapat membantu perempuan dalam memulihkan keseimbangan fisik dan psikologis.
Yoga dapat menjadi pilihan bagi perempuan yang membutuhkan ketenangan di tengah rutinitas. Melalui kesadaran (mindfulness) yang dibangun lewat olah napas (pranayama) serta postur (asana), yoga dapat membantu menenangkan sistem saraf pusat dan memberikan jeda bagi kondisi psikologis dari berbagai tuntutan hidup yang sedang dihadapi.

Sementara itu, zumba dapat menjadi pilihan bagi perempuan yang ingin memulihkan kepercayaan diri melalui aktivitas yang menyenangkan. Karena gerakan energik dalam zumba dapat membantu melepaskan tekanan emosional dan memicu pelepasan endorfin, sekaligus dapat mendorong perempuan untuk kembali menghargai fungsionalitas tubuhnya.
Meski memiliki cara kerja yang berbeda, yoga dan zumba sama-sama dapat membantu meningkatkan harga diri dalam jangka panjang. Yoga bekerja melalui pendekatan yang menenangkan, sedangkan zumba membantu membangkitkan semangat melalui aktivitas yang lebih energik.
Karena itu, olahraga dapat menjadi salah satu cara bagi perempuan untuk menjaga kesehatan mental sekaligus tetap produktif di tengah tuntutan aktivitas sehari-hari.
βTidak ada βsatu obat ajaib untuk semuaβ. Efektivitas olahraga bersifat personal. Yoga bekerja melalui jalur penenangan (calming), sementara Zumba bekerja melalui jalur pembangkitan semangat (uplifting). Keduanya valid, keduanya ilmiah, dan keduanya sangat dibutuhkan,β ujarnya, sebagaimana dikutip dari laman Unesa.ac.id.


