Lantunan instrumen musik mengalun indah dalam pagelaran orkestra. Peran konduktor atau pengaba menjadi vital dalam kegiatan ini yang membuat melodi yang keluar dari permainan pemain alat musik bisa lebih harmonis serta merdu didengar penikmatnya.
Salah satu sosok yang menjalankan peran konduktor dewasa ini ialah Manggalawaditro. Pemilik nama asli Elgar Putrandhra ini dikenal sebagai konduktor dalam Yogyakarta Royal Orchestra (YRO).
YRO sendiri diresmikan Sri Sultan Hamengkubuwono pada 21 Juni 2021 lalu. Namun, eksistensi sesungguhnya sudah ada sejak era kolonial Belanda, yakni pada 1924 dengan nama Kraton Orcest Djogja (KOD). Demi memunculkan daya tarik Yogya dari lingkup kraton, orkestra ini pun dihidupkan kembali setelah vakum kurang lebih selama 70 tahun.
Peran Manggalawaditro sebagai pengaba YRO sangatlah krusial. Ia tercatat telah ikut serta dalam sejumlah pertunjukan, termasuk konser kolaborasi bersama Swa Bhuwana Paksa Orchestra pada 2024 serta lawatan konser ke Kyoto, Jepang, pada 2025. Kiprahnya memperlihatkan bagaimana musik orkestra dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi, pendidikan musik, dan diplomasi kebudayaan.
Pemain Biola yang Menjadi Pengaba
Manggalawaditro sudah lekat dengan dunia musik sejak lama. Jika dilihat secara akademik, ia memiliki kredibilitas karena memegang predikat sarjana seni setelah lulus dari jurusan Seni Musik Institut Senin Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 2018.
Awal mula bergabungnya Manggalawaditro sendiri baru terjadi pada 2021. Namun, ia tidak langsung menjadi pengaba, melainkan memulainya sebagai pemain biola.
βJadi saya tergabung sebagai pemain biola, lalu terpilih jadi konser masternya menjadi konduktor itu 2024,β ucap Manggalawaditro kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Bergabungnya Manggalawditro ke YRO otomatis membuatnya mendapat status sebagai pelayan Keraton Yogyakarta atau biasa disebut abdi dalem. Dengan status itu pun membuatnya tersadar akan tanggung jawab untuk menyajikan kualitas lewat musik supaya nama Yogyakarta mewangi di depan banyak orang.
βSangat senang sih dan menjadi kehormatan juga karena kita bisa meneruskan perjuangan musisi-musisi Yogya sebelumnya yang dulu abdi dalem juga. Terus beban, mungkin bukan beban yang kayak gimana ya, tapi lebih ke tanggung jawab kita sebagai abdi dalem setelah tergabung di IRO ini. Abdi dalem untuk menjaga kualitas dan nama baik Yogyakarta Royal Orchestra,β kata Manggalawaditro lagi.
Tidak Boleh Bercorak Barat
Menjadi konduktor suatu orkestra tentu memiliki tantangan tersendiri. Bagi Manggalawaditro, tugasnya sebagai konduktor ialah memandu pemain musik setelah menerjemahkan hasil gubahan komposer. Selain itu, ia harus mengetahui batas-batas tertentu dari pemainan pemain musik yang sedari awal banyak belajar musik-musik bercorak kebaratan.
βJadi saya kayak membatasi nih. Kan kalau musisi-musisi ini berangkatnya bukan dari seni tradisi Jawa ya. Jadi mereka tuh belajar disipli ilmu Barat. Jadi musik-musik Barat yang mereka pelajari sebelumnya, ketika mereka memainkan musik tradisi yang dibalut itu saya harus membatasi,β kata Manggalawaditro.
Bagi Manggalawaditro membatasi corak kebaratan itu perlu karena YRO harus berpegang teguh dengan prinsipnya sebagai orkestra khas Jawa. Maka dari itulah, ia merasa perlu mempelajari musik Jawa supaya tahu di manakah letak batasan itu berada sebelum seluruh pemain tampil di panggung utama.
βKalau kamu sampai membaratkan banget, kita hilang esensi sebagai musik Yogya-nya, Jawa-nya,β kata Manggalawaditro lagi.

