Bagi yang merantau ke ibu kota, Jakarta, panggilan โโluโโ dan โโgueโโ sebagai kata ganti orang pertama dan kedua akan sering terdengar dan dipakai warga ibu kota. Bahkan bagi perantau yang sudah lama tinggal di ibu kota, panggilan yang mengartikan โโakuโโ dan โโkamuโโ ini juga sudah menjadi kebiasaan.
Selain karena sudah lama berbaur dan bergaul dengan warga asli ibu kota, panggilan โโluโโ dan โโgueโโ juga dinilai terdengar lebih akrab, supel, dan luwes. Panggilan seperti itu juga kerap dihubungkan dengan bahasa asli orang Betawi yang memang mendominasi penduduk asli Jakarta.
Tapi tahukah Kawan GNFI kalau sebenarnya panggilan โโluโโ dan โโgueโโ itu bukan berasal dari kata Bahasa Betawi? Hal ini berbeda dengan panggilan โโane/ayeโโ dan โโenteโโ yang jelas diserap dari Bahasa Arab.
Merupakan Dialek Suku Bangsa China
Sinolog dari Universitas Indonesia bernama Agni Malagina pernah menjelaskan hal ini kepada Detik.com pada 14 Februari 2018 lalu. Agni menjelaskan bahwa kata โโluโโ dan โโgueโโ berasal dari rumpun dialek bahasa yang dituturkan orang China di kawasan Fujian.
Orang-orang asal Fujian inilah yang merupakan yang mendominasi keturunan China di Indonesia. Budaya di Fujian biasa disebut sebagai budaya Minnan atau Min Selatan atau Hokkian. Itulah sebabnya dialek bahasa China di Indonesia sering disebut โHokkianโ saja.
Bahasa โโluโโ sendiri merupakan serapan kata dari โโlu/leu/liโโ. Sedangkan bahasa โโgueโโ merupakan serapan kata dari โโgua/goaโโ. Penggunaan asal kata serapannya sama, yaitu menunjukkan kata ganti orang pertama dan kedua oleh orang-orang Hokkian.
Istilah โโGopekโโ, โโCepekโโ, โโCingcongโโ, โโEncang-Encingโโ Juga Bukan Bahasa Betawi Asli

Uang nominal Rp500 yang kerap disebut ''gopek'' dalam bahasa Betawi ยฉ Abdullah Haq/Shutterstock
Tak hanya kata โโluโโ dan โโgueโโ, ada banyak kata yang kita anggap bahasa Betawi ternyata merupakan bahasa China. Seperti nominal โโgopekโโ yang artinya lima ratus, โโcepekโโ yang artinya seratus, โโcebanโโ yang artinya sepuluh ribu, sampai nominal โโcetiauโโ yang artinya satu juta.
Bahkan kata โโcingcongโโ dan panggilan โโencang-encingโโ yang dianggap sangat kental dengan bahasa Betawi juga bukan merupakan kata dari bahasa Betawi asli, melainkan bahasa yang dibawa oleh orang-orang Hokkian.
Kata โโcingcongโโ sendiri kerap dipakai untuk menyebut seseorang yang banyak bicara. Sedangkan panggilan โโencang-encingโโ ditujukan untuk memanggil paman dan bibi.
Jika selama ini kita kerap menemukan nama-nama makanan yang terdengar kental akan serapan bahasa China, maka sebenarnya ada banyak kata serapan yang diambil atau dimasukkan ke dalam bahasa daerah.
Seperti bakmi, bakpao, bakwan, kecap, dan lainnya sudah terdengar tidak asing di telinga. Tapi budayawan Ridwan Saidi, pada Profil Orang Betawi, seperti dikutip Kompas.com juga menyebutkan beberapa nama barang juga berasal dari dialek suku bangsa China.
Seperti teko, pisau, cawan, kemocing, anglo, lonceng, lotek, bakiak, genteng, dan masih banyak lagi merupakan kata serapan dari dialek suku bangsa China. Berdasarakan Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (1996), sedikitnya ada 290 kata bahasa China yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia.
Adapun bahasa Belanda yang paling banyak berkontribusi, yaitu sebanyak 3.280 kata, lalu bahasa Inggris sebanyak 1.610 kata, dan bahasa Arab sebanyak 1.495 kata.
Sekilas Kisah Kedatangan Bangsa China ke Nusantara
Kedatangan etnis China ke Indonesia sudah diketahui terjadi sejak lama sekali. Meski tidak ada yang bisa dengan jelas kapan tepatnya mereka datang, namun yang paling banyak diyakini adalah mereka datang sudah sejak abad ke-4 Masehi. Ada pula yang mengatakan keberadaan mereka sudah ada sejak zaman Majapahit.
Yang pasti pada era Jalur Sutera, etnis China menjadi satu era dengan gelombang kedatangan etnis China yang paling besar. Salah satu momen kedatangan etnis China ke Nusantara adalah kala Dinasti Ming runtuh pada tahun 1644, yang digantikan dengan berdirinya Dinasti Chโing.

Ilustrasi masyarakat bangsa China ยฉ IHOR SULYATYTSKYY/Shutterstock
Pada Dinasi Chโing, perdagangan China ke Asia Tenggara terbuka, sehingga mendorong aliran para imigran China ke Asia Tenggara hingga sampai ke Nusantara. Terutama para imigran yang datang dari Provinsi Fujian yang hingga saat ini dikenal dengan para Hokkian.
Para Hokkian itu memang tidak membawa istri saat hendak hijrah maupun melakukan perjalanan karena kala itu ada larangan seorang perempuang pergi keluar dari China. Maka tak dapat dihindari mereka pun akhirnya menikah dan membuat peranakan Indonesia-China. Tak heran jika mulai makanan sampai bahasa Nusantara berpengaruh dari keberadaan etnis China.
Selain untuk berdagang, sebenarnya ada beberapa alasan bangsa China datang ke Nusantara, salah satunya karena adanya kesamaan model pendidikan bhiksu di Sriwijaya, pelarin politik, musibah, bencana alam, sampai impor buruh atau kuli dari China di masa kolonial.
Jawa adalah salah satu tempat yang memiliki etnis keturunan China yang paling banyak. Terutama di Batavia yang menjadi pusat kolonialisme Belanda. Namun hingga kini para Hokkian tersebar di seluruh Indonesia seperti di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Ambon.
--
Sumber: Merdeka.com | Detik.com | Kompas.com | VOI.id | Hipwee.com | SurabayaPagi.com


