Memasuki usia 20-an, pertanyaan tentang hidup mulai datang satu per satu. Mau bekerja di mana, lanjut kuliah atau tidak, kapan punya penghasilan tetap, hingga apakah pilihan hidup selama ini sudah benar. Di saat teman sebaya tampak sudah melangkah lebih jauh, sebagian orang justru merasa dirinya tertinggal.
Kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan Quarter Life Crisis (QLC). Istilah tersebut menggambarkan masa ketika seseorang menghadapi ketidakpastian dalam proses menuju dewasa, terutama mengenai identitas, karier, hubungan, dan masa depan. Namun, apakah semua orang usia 20-an pasti mengalaminya?
Quarter Life Crisis Tidak Selalu Dialami Semua Orang
Tinjauan literatur Universitas Sriwijaya yang menganalisis 20 artikel ilmiah menyebut quarter life crisis sebagai kondisi yang dapat muncul pada masa transisi menuju dewasa awal. Gejalanya antara lain kecemasan, kebingungan identitas, ketidakpastian masa depan, serta ketidakstabilan emosi.
Fenomena ini berkaitan dengan fase emerging adulthood, ketika individu mulai mengeksplorasi kemungkinan hidup sekaligus menghadapi keputusan yang semakin menentukan arah masa depan. Literatur sistematis dari Hasyim, Setyowibowo, dan Purba menempatkan fenomena tersebut pada usia sekitar 20β29 tahun.
Meski begitu, quarter life crisis bukan fase wajib yang pasti dialami setiap orang. Penelitian lintas delapan negara oleh Dr. Oliver Robinson dan tim melibatkan 2.247 orang berusia 18β29 tahun dan menemukan tingkat krisis yang dilaporkan sendiri berkisar 40β77%. Indonesia berada pada angka 77% dalam penelitian tersebut.
Artinya, fenomena ini cukup umum, tetapi pengalaman setiap orang tetap berbeda tergantung kondisi hidupnya. Ada yang hanya merasakan kebingungan sementara karena sudah ada modal untuk memulai sesuatu di masa depan, ada pula yang mengalami tekanan lebih berat karena persoalan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, hubungan, maupun lingkungan sosial.

Kecemasan yang Dirasakan di Usia 20 an | Sumber Foto: Web resmi Yayasan Kesehatan Perempuan
Apa Penyebab Quarter Life Crisis?
Memasuki dewasa awal berarti berhadapan dengan beberapa tuntutan sekaligus. Seseorang mulai diharapkan mandiri secara finansial, menentukan pekerjaan, menyusun rencana masa depan, dan mengambil keputusan yang sebelumnya banyak dibantu keluarga.
Dalam penelitian Robinson dan tim, faktor eksternal yang paling sering muncul meliputi transisi karier, kesulitan finansial, tekanan studi, dan persoalan keluarga. Sementara itu, pengalaman internal yang banyak dilaporkan berupa rasa takut, cemas, khawatir, kesedihan, kebingungan, dan evaluasi diri yang negatif.
βCareer transition, financial difficulties, studying-based stress and struggle, and family difficulties,β menjadi kelompok persoalan eksternal yang paling sering ditemukan.
Temuan lain muncul dalam tinjauan literatur Universitas Sriwijaya. Penelitian Agustina (2022) terhadap 125 partisipan yang dikutip dalam kajian tersebut melaporkan 98% partisipan mengalami quarter life crisis. Sebanyak 82% mengaitkannya dengan ketidakstabilan finansial, sedangkan 79% merasa tidak layak memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Tekanan tidak selalu datang dari keadaan nyata, tetapi juga dari cara seseorang melihat pencapaian orang lain. Penelitian tim mahasiswa UGM terhadap mahasiswa di Yogyakarta menemukan kekhawatiran mengenai karier, pendidikan, percintaan, dan finansial.
Mereka mencatat, βKekhawatiran yang dialami menimbulkan perilaku diri berupa perbandingan diri,β yang kemudian dapat memengaruhi kondisi emosional dan keberfungsian diri.
Bagaimana Cara Menghadapinya?
Menghadapi quarter life crisis tidak harus dimulai dengan menemukan jawaban besar tentang seluruh kehidupan. Langkah yang lebih realistis adalah mengenali masalah yang sedang dihadapi, membedakan hal yang bisa dikendalikan dan tidak, lalu membuat tujuan kecil yang dapat dikerjakan secara bertahap.
Tinjauan Universitas Sriwijaya menunjukkan bahwa konseling individu, bimbingan karier, dan pengembangan diri dapat membantu seseorang memahami dirinya, meningkatkan kemampuan mengambil keputusan, serta merencanakan masa depan secara lebih matang. Dukungan keluarga dan lingkungan juga berperan dalam membantu menjaga kesejahteraan psikologis.
Penelitian mahasiswa UGM juga menawarkan sudut pandang yang dekat dengan budaya Indonesia melalui kawruh jiwa Ki Ageng Suryomentaram. Gagasan tersebut menekankan pengenalan diri dan kemampuan memahami keinginan pribadi. Dalam penelitian itu, salah satu pemahamannya berbunyi, βrasa susah tidak bersifat abadi karena ada rasa bungah atau senang.β
Ketika tekanan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan sulit dikelola sendiri, mencari bantuan profesional dapat menjadi pilihan. Quarter life crisis sendiri bukan nama diagnosis gangguan mental, melainkan istilah untuk pengalaman krisis dalam masa transisi. Namun, fase tersebut tetap dapat berjalan bersamaan dengan gejala kecemasan atau depresi ketika tekanannya berat. Bagi Kawan GNFI, memahami batas tersebut penting agar meminta bantuan tidak dianggap sebagai kegagalan, melainkan bagian dari menjaga diri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


