Di balik riuh modernisasi Kota Palembang, sekelompok anak muda berkumpul di bawah rindangnya pepohonan Taman Bukit Siguntang. Jari-jemari mereka tidak sedang menggulirkan layar gawai, melainkan memegang kuas dan pisau ukir kecil. Mereka sedang mencoba menorehkan guratan garis bersudut diagonal di atas sebilah bambu yang disebut gelumpai.
Garis-garis geometris tersebut bukanlah sekadar dekorasi estetis tanpa makna. Itu adalah Aksara Ulu, sistem papan tulis kuno berumur ratusan tahun yang juga dikenal sebagai huruf Kaganga. Warisan berharga peninggalan Kedatuan leluhur Sumatra Selatan ini kini sedang berjuang melawan sunyinya kepunahan.
Selama berabad-abad, peradaban masyarakat di sepanjang huluan Sungai Musi merekam memori kolektif mereka melalui aksara ini. Naskah kuno yang disebut surat ulu ditorehkan secara teliti pada media alami. Mulai dari bilah bambu, kulit kayu pohon halim (kakhas), hingga tanduk kerbau menjadi saksi bisu hukum adat dan pengobatan masa lalu.
Sayangnya, derasnya arus globalisasi dan minimnya pengajaran membuat huruf-huruf unik ini sempat terlupakan. Generasi berganti, dan surat ulu perlahan-lahan hanya menjadi penghuni lemari kaca museum yang berdebu. Keberadaannya menjadi sangat asing bagi anak-anak muda di tanah kelahirannya sendiri.
Kesadaran akan identitas yang hampir hilang inilah yang memantik gerakan Komunitas Pecinta Aksara Ulu. Didorong oleh rasa gelisah, para aktivis muda ini mulai mengorganisasi lokakarya secara swadaya. Mereka bergerak dari satu sekolah ke sekolah lain, mengajak teman sebaya untuk kembali mengenali 28 huruf dasar warisan nenek moyang.
Bagi komunitas ini, menyelamatkan aksara daerah tidak boleh berhenti pada sekadar pembacaan naskah kuno. Mereka meyakini bahwa sebuah tradisi harus terus hidup berdampingan dengan selera zaman. Oleh karena itu, pendekatan kreatif pun mulai dirancang secara matang.
Modifikasi visual menjadi strategi ampuh untuk memantik rasa penasaran kaum urban. Goresan tajam Aksara Ulu kini mulai diaplikasikan pada produk fesyen harian. Desain kain batik motif ulu, tas jinjing, papan nama, hingga gantungan kunci kekinian kini mulai dipasarkan secara luas.
Langkah penyelamatan ini mendapat angin segar melalui kolaborasi dengan sektor teknologi digital. Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan bersama mitra akademisi merilis inovasi perangkat lunak bertajuk Aplikasi Aksara Ulu (AKAS). Platform ini berfungsi mempermudah penerjemahan tulisan Latin langsung ke dalam format Kaganga.
Integrasi ke dunia digital ini memicu optimisme baru bagi pelestarian budaya lokal. Menulis pesan dalam Aksara Ulu kini semudah mengetik pada papan tombol ponsel pintar. Upaya digitalisasi ini sekaligus memotong jarak birokrasi pembelajaran yang sebelumnya dianggap rumit.
Tidak berhenti di ranah digital, dorongan agar aksara ini masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal juga terus disuarakan. Pemerintah daerah mulai menyusun rencana strategis untuk menetapkannya sebagai materi muatan lokal wajib di sekolah-sekolah dasar. Langkah ini krusial agar fondasi pengetahuan budaya tertanam sejak usia dini.
Upaya penyelamatan berkelanjutan ini menuntut komitmen panjang yang kokoh dari seluruh lapisan masyarakat. Keberhasilan gerakan ini tidak hanya diukur dari seberapa banyak aplikasi diunduh. Namun, keberhasilan sejati terletak pada kembalinya rasa bangga kolektif atas jati diri daerah.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat Bukit Siguntang, memantulkan cahaya jingga pada permukaan bambu yang baru diukir. Di tangan generasi muda hari ini, gurat-gurat Aksara Ulu tidak lagi menjadi simbol masa lalu yang mati. Melalui sebilah bambu dan aplikasi di genggaman, mereka sedang menulis ulang masa depan peradaban Sumatra Selatan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


