โAwakmu wes mari?โ ((Tugas)mu sudah selesai?)
โLho? Aku kan gak loro.โ (Lho? Aku kannggak sakit)
Itu adalah cuplikan percakapan saya dengan seorang teman asal Jawa Timur. Saat itu, saya yang asli Jawa Tengah sedang bercakap-cakap dengan kawan baru saya yang orang Surabaya tulen.
Latar belakang percakapan itu adalah tugas OSPEK yang begitu banyak, seperti laron di musim hujan. Harus ditangani, tapi malas menjalani, dan akhirnya terselesaikan di dini hari.
Tapi yang menarik bukan bagaimana proses penyelesaian tugas itu sendiri, melainkan percakapan sederhana yang jadi rumit karena sama kata beda makna di bahasa daerah masing-masing.
Jam menunjukkan hampir pukul 01.00 WIB. Mau tidak mau saya harus segera tidur, karena OSPEK dimulai pukul 05.00 WIB. Melihat mata saya yang mulai memerah dan badan yang terus mencoba untuk tidak menyerah, remaja asli Surabaya itu pun bertanya ke saya. Apakah sudah selesai (tugasnya)?
Kami menggunakan bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia, semata-mata karena kami sama-sama orang Jawa. Diharapkan, percakapan memakai bahasa Jawa bisa mempercepat keakraban. Tapi lucunya, kami sama-sama tidak tahu kalau ternyata bahasa Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur ada yang berbeda artinya, walau di kata yang sama.
Ketika mendengar dia bertanya, โAwakmu wes mari?โ seketika langsung saya jawab โLho? Aku gak loro.โ Saya bukan menjawab karena fokus yang mulai tergerus, tapi karena ada kata โmariโ di situ. Di Klaten yang merupakan kota tempat saya tumbuh besar, โmariโ berarti โsembuhโ sedangkan โselesaiโ dilafalkan dengan โrampung.โ
Teman saya tadi kemudian mengulang kembali pertanyaannya, dengan nada yang lebih tegas. Mungkin dikiranya saya sudah nglindur, padahal telinga saya masih bisa menangkap suaranya 100%, walau baterai di mata saya sudah menunjukkan angka 10%.
Dan sekali lagi, juga dengan intonasi yang lebih tegas, saya jawab โIyo, aku gak loro kok.โ (Iya, aku nggak sakit kok).
Suasana kemudian hening tapi tanpa jangkrik, karena di sekitar kami tidak ada tanaman, yang ada hanya mini speaker yang memutar lagu di playlist Winamp. Sampai akhirnya, bahasa terjemahan sesuai Ejaan yang Disempurnakan (EYD) keluar dari mulut teman saya.
โTugasmu apakah sudah selesai?โ
โOh iya, sebentar lagi selesai,โ

Kadang menjengkelkan, tapi asyik juga
Konflik mini cuma gara-gara kata โmariโ hanya contoh kecil dari bahasa daerah dengan kata yang sama tapi arti berbeda. Beberapa minggu kemudian, saya kembali berjumpa dengan persoalan yang sama.
Di suatu pagi, saya menuju sebuah warung pecel di Kota Malang. Saya baru pertama kali ke warung itu, jadi belum tahu bagaimana komposisi pecel defaultยญ-nya. Apakah sudah include tahu/tempe, atau harus memesan secara terpisah.
Saat memesan, saya cuma bilang โBu, pecel satu (porsi) makan sini, ya.โ Sengaja saya tidak pakai bahasa Jawa, untuk menghindari sekuel salah paham dari edisi โMari.โ
Ibu penjual pecel pun bertanya, sambil mengambil pincuk dan menyiapkan bahan-bahannya. โPedesnggak, Nak (bumbunya)? Pakai ikan apa?โ
โPedes, Bu. Nggak pakai ikan,โ jawab saya. Sebab saya tidak biasa sarapan memakan daging. Sayur dengan tahu tempe pun cukup.
Sretโฆ sretโฆ sretโฆ Pecel pun siap dihidangkan, tapi Ibu Pecel kembali bertanya sambil mengernyitkan dahi. โUdah Nak cuma gini aja?โ
Saya waktu itu sedang fokus di ponsel, jadi tidak memperhatikan topping pecelnya. Ya jadinya saya jawab โIya Bu gitu aja,โ dengan berpikir pasti sudah ada tahu/tempe karena biasanya sudah sepaket.
Kemudian saya bawa pecel pincuk nan hangat itu ke meja makan, dan sesampainya di arena penyantapan, saya langsung terheran โLahh kok cuma sayur sama bumbu pecel aja ya.โ Kebingungan yang menuntun saya untuk kembali ke etalase makanan dan memesan sepasang tempe.
Sontak Ibu Pecel berkata, โLha tadi katanya nggak pakai ikan, Mas?โ Pertanyaan itu cuma saya timpali dengan โHeheโ sambil tersenyum, karena masih belum paham.
โAku kan bilang nggak pakai ikan, bukan nggak pakai tempe,โ ucap saya dalam hati, dan akhirnya mengerti. Jadi, yang dimaksud โikanโ oleh Ibu Pecel adalah โlaukโ.
Ohโฆ tanpa disadari tercipta sudah sekuel dari edisi โMariโ dan itu berjudul โIkanโ.
Miskomunikasi karena perbedaan arti kata memang kadang menjengkelkan. Maksud perkataan tidak tersampaikan secara langsung, sehingga harus mencari cara lain untuk mengutarakannya. Tapi jangan sampai itu membuatmu murka, karena toh asyik juga sambil mempelajari ragam bahasa.
Contoh lainnya masih banyak lagi.
Di Jawa, kata โmanehโ berarti โlagiโ, tapi di Bandung berarti โkamuโ. Di bahasa Sunda, kata โbujurโ berarti (maaf) โpantatโ, sedangkan di Batak berarti โterima kasihโ. Termasuk di tingkatan kasar-halus, โDhaharโ di Jawa adalah bahasa halus, namun di Sunda termasuk kasar.
Perbedaan adalah hal biasa di Indonesia. Dengan beragam suku, etnis, dan ras, wajar jika ada banyak sekali ragam bahasa atau logat yang kita jumpai sejari-hari. Terpenting, ketahuilah asal daerah lawan bicaramu, agar salah paham tidak terjadi terlalu fatal.
Salah satu contohnya, seorang remaja perempuan asal Jawa Timur yang sebal karena teman laki-lakinya telat datang sangat lama, berkata โDooooohh kasep nuwemen reeeekkkโฆโ (Aduuhh, telatnya kok lama banget siiiihโฆ)
Si pemuda yang dimarahi adalah anak Sunda tulen. Bukannya merasa bersalah dan minta maaf, tapi justru cengar-cengir merasa tersanjung. Kenapa?
Karena di Sunda โkasepโ berarti โtampanโ, tapi di Jawa Timur berarti โbasiโ atau โsudah lama sekali.โ
Sumber: Brilio, Kompasiana


