Jalan-jalan ke Kota Semarang rasanya belum lengkap jika belum mencicipi lumpia. Sebab, kuliner satu ini telah menjadi salah satu makanan khas yang banyak diburu wisatawan ketika berkunjung ke Kota Semarang.
Namun, tahukah kamu bahwa makanan ini tidak hanya memiliki cita rasa yang nikmat? Di balik perpaduan rasa manis dan gurihnya, lumpia Semarang menyimpan cerita akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Berawal dari Pertemuan Dua Tradisi Kuliner
Sejarah lumpia memang tidak dapat dipisahkan dari perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa di Kota Semarang. Sebab, menurut cerita yang berkembang, perjalanan lumpia berawal dari pertemuan Tjoa Thay Joe, seorang perantau asal Fujian, Tiongkok, dengan Wasih, perempuan Jawa yang juga menjalankan usaha kuliner.
Dari pertemuan tersebut, keduanya mencoba mengombinasikan makanan yang mereka jual. Tjoa Thay Joe awalnya menawarkan makanan khas Tionghoa berisi rebung dan daging babi. Sementara itu, Wasih menjajakan makanan sejenis dengan isian kentang dan udang yang memiliki cita rasa lebih manis.
Setelah menikah, keduanya kemudian menggabungkan usaha dan resep masing-masing. Penggunaan daging babi dihilangkan agar makanan tersebut dapat diterima dan dinikmati oleh masyarakat Semarang yang lebih luas.
Dilansir dari RRI yang mengutip buku Dari Sam Poo Kong ke Lunpia Semarang terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah, perpaduan resep tersebut menjadi awal lahirnya lumpia Semarang. Pengaruh Tionghoa tetap terlihat dari penggunaan kulit tipis dan rebung, sedangkan udang serta cita rasa manis mencerminkan penyesuaian dengan selera masyarakat Jawa.
Ketika Resep Tionghoa Bertemu Selera Jawa
Perkembangan lumpia Semarang memang tidak dapat dilepaskan dari proses akulturasi budaya. Hal tersebut juga dijelaskan dalam penelitian berjudul Lumpia Semarang pada Masa Orde Baru yang dimuat dalam jurnal pendidikan sejarah Universitas Negeri Surabaya.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa lumpia merupakan produk budaya Tionghoa yang memperoleh pengaruh dari kuliner Jawa. Sehingga untuk lebih mudah diterima oleh masyarakat luas, lumpia Semarang mengalami penyesuaian dengan tidak menggunakan daging babi.
Namun, kuliner ini tetap mempertahankan rebung sebagai salah satu isian utamanya, kemudian memadukannnya dengan udang dan telur.
Perkembangan lumpia Semarang memang tidak dapat dilepaskan dari proses akulturasi budaya. Hal tersebut juga dijelaskan dalam penelitian berjudul Lumpia Semarang pada Masa Orde Baru yang dimuat dalam jurnal pendidikan sejarah Universitas Negeri Surabaya.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa lumpia merupakan produk budaya Tionghoa yang memperoleh pengaruh dari kuliner Jawa.
Dari Pecinan Menyebar ke Penjuru Kota
Karena berkembang di lingkungan masyarakat Tionghoa Peranakan, lumpia Semarang awalnya lebih banyak dijajakan di kawasan Pecinan. Salah satu tempat yang kemudian dikenal dalam perjalanan kuliner tersebut adalah Gang Lombok, yang berada tidak jauh dari Kelenteng Tay Kak Sie.
Menurut penelitian Universitas Negeri Surabaya, lumpia pada awalnya menjadi kuliner keluarga yang berkembang di lingkungan masyarakat Tionghoa Peranakan. Setelah kawasan Pecinan semakin terbuka, lumpia mulai dikenal oleh masyarakat Semarang dari berbagai latar belakang.
Perkembangannya semakin meluas ketika usaha tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya. Memasuki dekade 1970-an hingga 1980-an, sejumlah keturunan keluarga perintis lumpia mulai membuka warung di beberapa jalan utama Kota Semarang.
Selain itu, penelitian terbaru yang lakukan oleh Fajar Historia: menjelakan bahwa popularitas lumpia Semarang meningkat secara bertahap sejak 1970-an. Perkembangan ini juga didukung oleh penyesuaian proses produksi, perluasan distribusi, serta semakin diterimanya lumpia oleh masyarak dari berbagai latar belakang.
Dari Kuliner Peranakan menjadi Identitas Semarang
Perjalanan lumpia hingga menjadi oleh-oleh khas Semarang tidak berhenti sampai di situ saja. Sebab, memasuki dekade 1980-an, kuliner ini semakin dikenal oleh masyarakat luas dan mulai dipandang sebagai makanan khas kota, bukan hanya sebagai hidangan maysyarakat Tionghoa Peranakan.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa identitas sebuah kuliner dapat terus berkembang. Apalagi, keberada lumpia sebagai bagian dari budaya Semarang juga telah memperoleh pengakuan perintah.
Sebab, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Lumpia Semarang sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam kategori kuliner tradisional dari Jawa Tengah pada 2014 lalu.
Dengan demikian, melalui penetapan inilah kedudukan lumpia sebagai warisan kuliner yang perlu dijaga dan diwariskan kegenerasi berikutnya.

