Sabut kelapa tidak hanya dapat dipandang sebagai sisa dari buah kelapa. Bahan tersebut dapat diolah menjadi biopot, yaitu wadah tanam yang digunakan untuk pembibitan dan kegiatan berkebun.
Pemanfaatan ini diperkenalkan kepada siswa SMP Negeri 24 Halmahera Tengah, Maluku Utara. Siswa belajar mengubah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk yang memiliki fungsi dan berpotensi dikembangkan secara ekonomi.
Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Trans Waleh pada Jumat (2/10). Tim Ekspedisi Patriot UGM unit Sagea Waleh 2026 mendampingi siswa melalui edukasi kewirausahaan berbasis pemanfaatan limbah lokal.
Melalui kegiatan itu, siswa diperkenalkan pada hubungan antara kepedulian lingkungan, kreativitas, dan kegiatan usaha. Produk yang dibuat tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pertanian, tetapi juga dapat menjadi contoh awal pengembangan produk lokal.
Β
Belajar Mengolah Potensi Lokal
Anggota Tim Ekspedisi Patriot Sagea Waleh, Desi Rindi Rahmawati, mengatakan siswa belajar melihat lingkungan sebagai sumber bahan dan gagasan.
βMelalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar membuat biopot, tetapi juga belajar melihat lingkungan sebagai sumber pembelajaran dan peluang. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat,β ujar Desi dalam keterangan yang dikirim Rabu (14/10).
Sabut kelapa dipilih karena kawasan Transmigrasi Sagea Waleh memiliki potensi pertanian. Biopot dari bahan tersebut dapat digunakan untuk pembibitan tanaman.
Siswa juga dapat memanfaatkannya untuk penghijauan lingkungan sekolah dan kegiatan kebun sekolah. Penggunaan biopot dapat mengurangi kebutuhan terhadap wadah tanam berbahan plastik.
βProduk yang dihasilkan dapat digunakan untuk pembibitan tanaman, penghijauan lingkungan sekolah, maupun mendukung kegiatan kebun sekolah,β ujarnya.
Β
Dari Keterampilan ke Peluang Usaha
Pelatihan tersebut mengenalkan proses awal dalam menciptakan produk. Siswa belajar menggunakan bahan yang tersedia, memahami kegunaan produk, dan melihat kemungkinan pengembangannya.
Produk berbasis sabut kelapa dapat memiliki nilai ekonomi apabila dibuat dengan kualitas yang sesuai kebutuhan. Nilai tersebut dapat ditentukan oleh bentuk, daya tahan, biaya pembuatan, serta permintaan pasar.
Kegiatan tersebut juga mengajarkan prinsip 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. Prinsip ini diterapkan melalui pemanfaatan sabut kelapa menjadi wadah tanam.
Siswa belajar mengurangi limbah dengan menggunakan kembali bahan yang masih dapat dimanfaatkan. Mereka juga melihat bahwa pengelolaan limbah dapat berkaitan dengan kegiatan ekonomi.
Biopot yang dihasilkan dapat digunakan untuk pembibitan, penghijauan, dan kebun sekolah. Pengalaman itu memberi siswa keterampilan awal untuk mengembangkan produk berbasis bahan lokal.
βMelalui pendekatan pembelajaran yang praktis, kami mendorong siswa untuk tidak hanya menjadi pengguna produk, tetapi juga menjadi pencipta dan inovator yang mampu memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan,β katanya.


