Industri sulih suara mulai memiliki ruang yang lebih luas dalam ekonomi kreatif Indonesia. Pekerja di bidang ini tidak hanya mengisi suara untuk film, tetapi juga terlibat dalam iklan, televisi, konten digital, gim, dan berbagai produk komersial.
Perluasan penggunaan tersebut membuka peluang ekonomi bagi pengisi suara. Talenta muda dapat memasuki pasar kerja kreatif melalui keterampilan membaca naskah, mengolah karakter, dan menyampaikan emosi.
Menteri Ekonomi Kreatif atau Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan voiceover dapat terhubung dengan berbagai subsektor ekonomi kreatif.
Kebutuhan suara muncul dalam produksi film, iklan, televisi, konten digital, dan gim. Perusahaan dapat menggunakan pengisi suara untuk menyampaikan informasi, membangun karakter, atau memperkuat identitas produk.
Teuku Riefky menyebut suara talenta WVI telah digunakan oleh lebih dari 300 perusahaan. Bahan yang tersedia belum merinci jumlah pekerjaan dan nilai transaksi dari penggunaan suara tersebut.
βAda 27,4 juta orang yang bekerja di industri kreatif, 63 persen di antaranya Gen Z dan milenial, dan 58 persen perempuan,β kata Teuku Riefky.
Ia mengatakan mahasiswa dapat mulai memperoleh penghasilan sebelum menyelesaikan pendidikan.
βSambil kuliah pun sudah bisa punya penghasilan. Ini juga bagian agar generasi muda kita semakin mandiri, sekaligus mengurangi pengangguran di negara kita,β ujarnya.
Besarnya peluang pendapatan tetap bergantung pada kemampuan talenta, jenis proyek, jumlah pekerjaan, dan skema pembayaran.
Β
Sulih Suara Masuk Peta Industri
Founder Voice Institute Indonesia, Bimo Kusumo, mengatakan sulih suara kini dipandang sebagai profesi dan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
βSulih suara kini dipandang sebagai profesi sekaligus bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Sulih suara telah menjadi salah satu dari 21 subsektor ekonomi kreatif dalam Rencana Induk Ekonomi Kreatif untuk 20 tahun ke depan,β ujar Bimo.
Pengakuan tersebut memberi posisi yang lebih jelas bagi pekerja sulih suara dalam rantai industri kreatif. Talenta tidak hanya berperan sebagai pengisi dialog, tetapi juga menyediakan jasa untuk berbagai kebutuhan produksi.
Ekosistem tersebut melibatkan pengisi suara, studio, agensi, rumah produksi, pemilik merek, dan platform digital. Hubungan antarpelaku menentukan bagaimana nilai ekonomi dari sebuah proyek dibagi.
Bimo mengatakan pengembangan industri tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah, kampus, industri, asosiasi, komunitas, dan brand perlu terlibat dalam penciptaan talenta serta pembukaan pasar.
Dekan Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University, Dr. Iis Kurnia Nurhayati, mengatakan kampus memiliki peran dalam mempertemukan pendidikan dan industri.
Menurut Iis, pekerjaan sulih suara membutuhkan kemampuan menyampaikan pesan, membangun karakter, mengolah emosi, dan menciptakan kedekatan dengan audiens.
βTeknologi akan terus berkembang, tetapi kepekaan, interpretasi, dan ekspresi manusia tetap memiliki nilai penting dalam komunikasi,β ujarnya.
Voice Institute Indonesia mencatat kontribusi sekitar Rp1,1 miliar terhadap industri kreatif Indonesia hingga 2025.

