loud quitting pekerja speak up dan membagikan ketidakpuasan kerja ke publik - News | Good News From Indonesia 2026

Loud Quitting, Pekerja Speak Up dan Membagikan Ketidakpuasan Kerja ke Publik

Loud Quitting, Pekerja Speak Up dan Membagikan Ketidakpuasan Kerja ke Publik
images info

Loud Quitting, Pekerja Speak Up dan Membagikan Ketidakpuasan Kerja ke Publik | Foto: (Vitaly Gariev | Unsplash)


Merasa sudah cukup dengan pekerjaan bisa membuat seseorang memutuskan untuk pergi. Jika dulu keputusan resign biasanya disampaikan melalui surat pengunduran diri dan percakapan dengan atasan, kini pengalaman tersebut dapat dibagikan kepada banyak orang.

Media sosial membuat seseorang bisa menceritakan alasan pergi, pengalaman selama bekerja, hingga kekecewaan terhadap perusahaan secara terbuka.

Ketika ketidakpuasan tidak lagi disimpan sendiri dan ikut dibawa ke ruang publik, muncullah istilah loud quitting. Fenomena ini menggambarkan cara seseorang meninggalkan pekerjaan sambil menyuarakan pengalaman dan kekecewaannya secara terbuka.

Loud Quitting, Ketika Ketidakpuasan di Tempat Kerja Tak Lagi Disimpan Sendiri

Secara umum, loud quitting digunakan untuk menggambarkan pekerja yang secara terbuka menunjukkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan, lingkungan kerja, perusahaan, atasan, atau rekan kerja. Dalam beberapa pembahasan, istilah ini juga dikaitkan dengan active disengagement, ketika pekerja tidak hanya merasa tidak puas, tetapi ikut menyuarakan ketidakpuasannya.

Loud quitting merujuk pada situasi ketika seseorang tidak hanya meninggalkan pekerjaan, tetapi juga membuat alasan atau pengalaman tersebut diketahui lebih banyak orang. Bentuknya dapat berupa mengunggah cerita resign di media sosial, menceritakan pengalaman buruk selama bekerja, menyampaikan kritik secara terbuka, atau memberitahukan proses kepergian kepada rekan kerja.

Namun, tidak semua kritik terhadap perusahaan otomatis disebut loud quitting. Begitu juga dengan video resign di media sosial. Konteks dan alasan di balik unggahan tersebut tetap perlu diperhatikan. Media sosial hanya menjadi salah satu ruang yang membuat pengalaman kerja dapat disampaikan secara lebih terbuka.

Ketika Bertahan Tak Lagi Terasa Masuk Akal, Mengapa Pekerja Memilih Bersuara?

Salah satu pemicunya adalah ketidakpuasan yang sudah menumpuk. Beban kerja yang dianggap berlebihan, kurangnya apresiasi, gaji yang tidak sesuai harapan, hubungan yang kurang baik dengan atasan, hingga lingkungan kerja yang dianggap tidak sehat dapat membuat seseorang merasa kecewa terhadap pekerjaannya.

Kelelahan mental juga dapat memperkuat rasa frustrasi. Ketika tekanan pekerjaan dan ekspektasi yang dirasakan tidak kunjung berubah, sebagian pekerja memilih menyampaikan pengalaman tersebut secara terbuka daripada terus menyimpannya sendiri.

Media sosial kemudian menjadi ruang untuk bercerita. Pengalaman yang sebelumnya hanya diketahui oleh pekerja dan lingkungan kantor dapat berubah menjadi konsumsi publik. Cerita tentang pekerjaan juga dapat menarik perhatian karena orang lain merasa memiliki pengalaman yang serupa.

Perubahan cara pandang terhadap pekerjaan turut menjadi bagian dari fenomena ini. Sebagian pekerja mulai lebih terbuka membicarakan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, termasuk kebutuhan untuk menjaga waktu istirahat dan keseimbangan hidup. Namun, hal tersebut tidak berarti semua pekerja memiliki pandangan yang sama.

baca juga

Loud Quitting Bisa jadi Ruang Bersuara, tetapi Jejak Digitalnya Tak Mudah Hilang

Menyampaikan pengalaman kerja secara terbuka dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk menceritakan apa yang dialami. Dalam beberapa situasi, cerita tersebut juga dapat membuat persoalan di tempat kerja lebih terlihat dan membuka kesempatan bagi orang lain untuk berbagi pengalaman serupa.

Bagi perusahaan, keluhan yang disampaikan secara terbuka dapat menjadi tanda bahwa ada persoalan serius.

Namun, keputusan untuk berbicara secara terbuka juga memiliki risiko. Unggahan negatif dapat menjadi bagian dari jejak digital dan memengaruhi reputasi profesional. Konflik dengan perusahaan juga bisa menjadi semakin terbuka, terutama jika cerita tersebut tersebar luas.

Selain itu, informasi internal perusahaan yang dibagikan sembarangan dapat menimbulkan persoalan bagi pekerja. Jika seseorang masih membutuhkan referensi atau rekomendasi dari tempat kerja sebelumnya, hubungan yang rusak juga dapat menjadi pertimbangan dalam perjalanan karier berikutnya.

Loud Quitting vs Quiet Quitting, Sama-sama Berasal dari Ketidakpuasan tetapi Jalannya Berbeda

Loud quitting dan quiet quitting sama-sama berkaitan dengan ketidakpuasan terhadap pekerjaan, tetapi cara menghadapinya berbeda.

Quiet quitting bukan berarti benar-benar resign. Istilah ini menggambarkan seseorang yang tetap bekerja, tetapi memilih menjalankan tugas sesuai tanggung jawab utama tanpa memberikan usaha berlebihan. Misalnya, tidak selalu lembur atau terus tersedia di luar jam kerja.

Sementara itu, loud quitting lebih dekat dengan ketidakpuasan yang disampaikan secara terbuka. Seseorang dapat menceritakan kekecewaan terhadap sistem kerja, atasan, budaya perusahaan, atau alasan di balik keputusan untuk meninggalkan pekerjaan.

Sederhananya, seseorang yang melakukan quiet quitting tetap berada di pekerjaannya sambil menjaga batas. Sementara itu, seseorang yang melakukan loud quitting dapat memilih untuk pergi sekaligus menyuarakan pengalaman dan ketidakpuasannya secara terbuka.

baca juga

Seseorang yang melakukan quiet quitting tidak otomatis akan melakukan loud quitting.

Cara setiap orang menghadapi ketidakpuasan di tempat kerja dapat berbeda, termasuk dalam menentukan apakah pengalaman tersebut akan disimpan secara pribadi atau dibagikan kepada publik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Andy Apriyono lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Andy Apriyono.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.