Mengapa kita harus selalu sibuk untuk dianggap produktif atau sukses? Tren anti-hustle culture kini bergerak untuk mengajak pekerja mendefinisikan ulang makna dedikasi sekaligus arti pekerjaan menurut diri kita.
Kawan GNFI mungkin tidak asing dengan fenomena membalas email di luar jam kerja, merasa bersalah saat beristirahat, atau merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial. Dari situ kita mulai bertanya: kapan bekerja keras berubah menjadi kebutuhan wajib untuk selalu sibuk, dan benarkah ini satu-satunya jalan menuju puncak karier?
Gagasan anti-hustle culture muncul sebagai respons kritis terhadap anggapan bahwa produktivitas harus selalu diukur dari seberapa terkurasnya energi seseorang. Padahal, menolak glorifikasi kesibukan bukan berarti menolak kerja keras atau kehilangan ambisi, terlebih bagi perempuan pekerja yang kerap harus berjuang dua kali lipat untuk mengejar akses karier dan upah yang adil.
Artikel ini akan mengajak kita menelusuri gagasan anti-hustle culture dan apakah seseorang bisa tetap ambisius dan berprestasi tanpa harus menjadikan pekerjaan sebagai pusat dari seluruh hidupnya.
Anti-Hustle Culture Bukan Berarti Anti-Kerja Keras

Apa Itu Anti Hustle Culture dan Bagaimana Istilah Ini Tercipta? | Unsplash @Vitaly Gariev
Banyak yang keliru memaknai arti anti-hustle culture sebagai bentuk kemalasan. Kenyataannya, anti-hustle culture adalah sikap kritis yang menolak glorifikasi kerja berlebihan, kesibukan tanpa melihat boundaries, dan anggapan bahwa seseorang harus terus bekerja keras hingga menggertakkan gigi demi meraih kesuksesan.
Dikutip dari jurnal Dr. A. Shaji George (2024) berjudul The "Anti-Hustle" Ethos Among Generation Z Workers: An Investigation into Shifting Attitudes Towards Work-Life Balance, mentalitas ini menolak romantisasi kelebihan kerja yang dulunya diagungkan, serta beralih untuk memprioritaskan work-life balance, fleksibilitas, dan memilih proyek-proyek sesuai dengan nilai dan ketertarikan di atas agenda mendaki tangga korporat atau membuat manajer kita merasa kagum.
Tren ini bukanlah sebuah istilah formal dalam dunia kerja, melainkan kritik struktural terhadap budaya kerja tertentu. Dikutip dari artikel di platform Upwork, agenda anti-hustle culture mempromosikan kehidupan yang lebih menghargai kesehatan mental, self-care, kesejahteraan karyawan, dan work-life balance dibandingkan budaya overwork.
Gagasan anti-hustle culture menantang model hustle culture yang menempatkan produktivitas ekstrem sebagai satu-satunya nilai kesuksesan dan meredefinisi makna kesuksesan itu sendiri. Istilah ini juga memantik lahirnya istilah turunan, seperti quiet quitting. Dr. George menjelaskan quiet quitting berarti penolakan untuk bekerja melampaui kewajiban kontrak demi menghindari kelelahan akibat tuntutan memberikan performa berlebih.
Ada pula slow living (pendekatan hidup yang menyederhanakan laju kehidupan secara luas) serta career minimalism (menempatkan proporsi karier agar tidak mendominasi ruang personal). Batas antara istilah-istilah ini sendiri kerap saling beririsan di media populer.
Tren yang Menguat saat Orang Mulai Mempertanyakan Budaya 'Selalu Sibuk'
Sebelum mendalami soal bagaimana istilah anti-hustle culture muncul, mari kita dalami sejenak konsep hustle culture. Laman Kemenkeu menjelaskan bahwa konsep gila kerja ini sebenarnya sudah disinggung dan diperkenalkan oleh Wayne Oates melalui istilah workaholism pada tahun 1971 lewat bukunya Confessions of a Workaholic: The Facts About Work Addiction. Berpuluh-puluh tahun kemudian, dorongan ekspektasi dan media sosial memperburuk tekanan tersebut.
Meski tidak ada informasi pasti mengenai kapan tren anti-hustle culture ini pertama kali hadir, Upwork berbagi bahwa kebangkitan frasa anti-hustle culture di dunia kerja didorong oleh observasi Gen Z terhadap generasi di atas mereka.
Generasi tua ini dinilai memegang teguh keyakinan untuk melakukan apa pun demi naik jabatan, termasuk memberikan loyalitas besar pada satu perusahaan selama bertahun-tahun dan terus lembur. Namun, saat ini pekerja muda mempertanyakan model tersebut. Bagi mereka, pekerjaan harus memiliki makna, fleksibilitas, dan sinkron dengan kesejahteraan mental.
Tren turunan seperti Bare Minimum Monday dan Lazy Girl Jobs di media sosial seperti TikTok makin mempertegas narasi perlawanan ini. Isu burnout hingga memudarnya batas antara kehidupan personal dan profesional terus disorot. Pandemi COVID-19 pun kemudian hadir sebagai akselerator yang membuktikan bahwa definisi "bekerja" tidak mengharuskan kita untuk selalu hadir secara fisik di kantor.
Dari Hustle Culture ke Anti-Hustle Culture, Mengapa Orang Mulai Menarik Batas?

Hustle Culture vs Anti Hustle Culture, Kenapa Gen Z Mengkritisi Budaya Overwork? | Unsplash @Vitaly Gariev
Ada beberapa faktor berkaitan yang menyebabkan tren dunia kerja ini berkembang:
1. Kelelahan dan Kecewa Terhadap Glorifikasi Overwork
Bekerja lembur kerap diselempangkan sebagai medali dedikasi. Namun, menurut laman Upwork, kaum muda yang melihat generasi yang lebih tua dari mereka bekerja keras, tetapi tetap berisiko terkena layoff, dipecat, bahkan kebutuhannya masih belum terpenuhi. Realita ini membuat mereka melihat pekerjaan dengan sudut pandang yang lebih "santai" dan berbeda.
2. Kesadaran Terhadap Burnout dan Pentingnya Kesehatan Mental
Gangguan psikologis yang diakibatkan oleh pekerjaan juga menjadi alasan mengapa batasan dalam bekerja mulai dibicarakan.
Dikutip dari jurnal Dr. George, riset Mind Share Partners (2022) menunjukkan bahwa sebanyak 83% responden Gen Z pernah mengundurkan diri dari pekerjaan karena alasan kesehatan mental. Hal ini sejalan dengan survei Deloitte (2021) terhadap kaum milenial dan Gen Z yang mencatat bahwa 77% pekerja muda mengalami kelelahan ekstrem dan sinisme di tempat kerja.
3. Perubahan Definisi Produktivitas
Pandangan Gen Z akan dunia kerja modern kini bergeser ke kebiasaan kerja yang lebih terukur. Alih-alih memforsir diri, pekerja muda kini lebih memprioritaskan efisiensi dengan memanfaatkan bantuan teknologi yang ada.
4. Pemaknaan Sukses yang Berbeda
Makna sukses untuk Gen Z tidak hanya berpatokan pada uang, tetapi juga berarti menemukan makna dan keseimbangan hidup itu sendiri. Dalam survei Deloitte yang disinggung oleh Upwork, 25% responden Gen Z lebih memilih pekerjaan berdasarkan work-life balance, sementara hanya 19% yang memprioritaskan nominal gaji.
5. Keistimewaan Finansial dan Kemajuan Teknologi
Dalam penelitiannya, Dr. George juga memaparkan realitas bagaimana privilege kelonggaran finansial yang disokong oleh keluarga serta kemajuan teknologi berperan dalam tumbuhnya tren ini.
Faktor dukungan ini memberi keleluasaan kepada pekerja muda untuk memprioritaskan proyek kreatif ketimbang langsung mengambil pekerjaan yang menyita waktu. Teknologi yang maju juga menyebabkan lebih dari 70% pekerja Gen Z bisa menambah pundi-pundi uang mereka melalui pekerjaan mandiri di ranah Creator Economy. Meski patut disadari, privilege ini tentu tidak merepresentasikan kondisi seluruh masyarakat pekerja.
Tidak Semua yang Menolak Hustle Culture Ingin Bekerja Lebih Sedikit

Anti-Hustle Culture: Tidak Sesederhana Menolak Bekerja | Unsplash: @Audrey Shattuck
Penting untuk mengingat dan memahami anti-hustle culture sebagai upaya meredefinisikan hubungan kita sebagai manusia dengan pekerjaan, bukan sebatas menuruti keinginan bermalas-malasan. Bentuk nyatanya muncul dan bisa Kawan GNFI lihat dalam sikap yang menetapkan batasan tegas untuk tidak selalu responsif di luar jam kerja, menetapkan batas jam lembur, tidak mengukur value diri semata dari produktivitas, serta menolak budaya "sibuk demi terlihat sibuk".
Gagasan work to live (bekerja untuk hidup) melawan live to work (hidup untuk bekerja) juga sebenarnya bisa menandai bagaimana pekerja muda bersedia mencurahkan dedikasi pada hal yang memberi makna pada kehidupan mereka dan sesuai dengan nilai diri mereka.
Seperti kata Upwork, "Bagi Gen Z, pekerjaan seharusnya memiliki makna dan fleksibilitas, serta selaras dengan nilai personal dan kesejahteraan mental."
Dengan tren anti-hustle culture, seseorang masih bisa memendam ambisi kepemimpinan dan karier yang besar tanpa ingin terbelenggu dalam siklus kerja 70 jam per minggu atau siklus overwork warisan generasi sebelumnya.
Apakah Anti-Hustle Culture Benar-Benar Negatif? Tidak Juga

Apa Itu Anti-Hustle Culture dan Apakah Mindset Itu Negatif? | Unsplash @Vitaly Gariev
Penolakan terhadap standar kuno bukanlah pergeseran yang otomatis bermakna negatif. Sebaliknya, di sini Gen Z hadir mengkritisi budaya kerja yang turun-temurun dinilai merugikan. Jadi, ketika eksekusinya tepat, pemaknaan anti-hustle culture malah bisa memicu hadirnya batasan kerja yang jauh lebih sehat, peluang istirahat dan recovery lebih banyak, serta menjaga ruang personal tetap utuh.
Sebaliknya, persoalan akan muncul jika konsep ini diterjemahkan terlalu ekstrem. Pada beberapa individu, menghindari budaya overwork dapat berpotensi disalahgunakan sebagai pembenaran untuk lari dari tanggung jawab dasar perusahaan. Keengganan mengambil tantangan juga bisa menumpulkan kapasitas profesional dan menghambat kita bertumbuh.
Dari sini perlu dipahami dan dibedakan bahwa letak permasalahannya bukanlah pada keharusan bekerja keras, melainkan ketika kerja keras dibingkai sebagai standar moral yang mewajibkan pekerja untuk terus-menerus produktif agar dianggap berharga.
Itulah mengapa kita perlu melihat tren ini dari kacamata yang kritis. Di satu sisi kita terbuka pada gagasan baru yang bisa meningkatkan kualitas hidup, tetapi di sisi lain perlu berhati-hati dan tetap mengevaluasi diri kita dengan sudut pandang yang konstruktif.
Hustle Culture dan Anti-Hustle Culture: Dua Cara Berbeda Melihat Makna Bekerja
Kedua budaya ini sesungguhnya menawarkan cara berbeda dalam memandang dedikasi. Budaya gila kerja menakar ambisi, kesuksesan, dan kelayakan promosi seseorang dari seberapa banyak waktu yang rela kita korbankan untuk perusahaan.
Sebaliknya, pendekatan anti-hustle berpegang pada keyakinan bahwa memiliki waktu istirahat yang utuh justru memberi kesempatan untuk meregenerasi kreativitas serta mempertahankan performa maksimal dalam jangka panjang.
Nah, kita sebagai pekerja dan generasi muda perlu senantiasa kritis dan tidak harus berpaku pada salah satu konsep saja. Apalagi terkadang di balik fenomena hustle culture bisa tersimpan isu yang lebih besar, misalnya kemiskinan atau utang warisan keluarga yang memaksa seseorang mau tidak mau berdamai dengan konsep tersebut.
Ketika Kerja Bukan Lagi Satu-Satunya Ukuran Kesuksesan
Perubahan kritis dalam menyikapi hustle culture menandai era di mana banyak pekerja berupaya melepaskan diri dari tuntutan yang berpotensi menghancurkan identitas dan kesehatan pribadi. Budaya hiruk-pikuk ini tentu tak akan punah seketika, dan sebagian kalangan akan selalu menemukan kepuasan batin ketika meraih puncak karier melalui jadwal yang padat.
Namun, di sisi seberang, kemunculan fenomena quiet quiting hingga slow living memberi sinyal kuat bahwa orang-orang tengah mencari kosakata baru untuk mendeskripsikan usaha menyembuhkan hubungan antara karier dan kesejahteraan batin mereka.
Ingin tahu lebih banyak tentang dinamika karier, tren terkini dunia profesional, hingga serba-serbi wawasan inspiratif seputar Nusantara?
Kawan GNFI bisa menjelajahi berbagai artikel edukatif dan aktual yang merangkum pengetahuan menarik hanya di Good News From Indonesia. Temukan bacaan favoritmu dan perkaya wawasanmu sekarang!


