Conscious unbossing menjadi salah satu pilihan karier bagi Gen Z yang lebih menginginkan kehidupan tenang dan tenteram dengan posisi kerja yang stabil, daripada mengejar jabatan tinggi dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Mendapat tawaran promosi tidak selalu langsung membuat seseorang merasa senang. Tawaran tersebut justru dapat membuat karyawan mempertimbangkan apakah tambahan tanggung jawab yang diberikan sepadan dengan konsekuensinya.
Gen Z bukan berarti tidak ingin menjadi bos. Namun, apakah pertumbuhan karier harus selalu berarti naik dalam hierarki perusahaan? Apakah promosi tersebut sepadan dengan tambahan tanggung jawab jika harus mengorbankan work-life balance? Pertimbangan tersebut membuat conscious unbossing menjadi salah satu pilihan bagi anak muda dalam menentukan arah karier.
Ketika Promosi Tak Lagi Otomatis Berarti Naik ke Jabatan Tinggi
Conscious unbossing adalah tren ketika karyawan memilih untuk tidak terlalu mengejar jabatan tinggi. Mereka lebih mengutamakan pekerjaan yang bermakna, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta kesempatan untuk bekerja sama dengan orang lain.
Tren ini juga mengubah cara orang memandang kepemimpinan. Kesuksesan tidak lagi hanya diukur dari seberapa tinggi posisi seseorang dalam perusahaan. Banyak orang kini memilih pekerjaan yang sesuai dengan nilai dan tujuan pribadi, sekaligus tetap bisa memberikan dampak tanpa harus menghadapi tekanan sebagai atasan.
Tren ini terjadi di berbagai generasi, tetapi Gen Z menjadi salah satu kelompok yang banyak dibicarakan dalam perubahan tersebut. Mereka cenderung mencari pekerjaan yang menawarkan fleksibilitas, memiliki tujuan yang jelas, dan tetap memberi ruang untuk kehidupan di luar pekerjaan.
Bukan Fenomena yang Tiba-Tiba Muncul, tetapi Istilahnya Baru Ramai
Laporan lembaga rekrutmen global Robert Walters pada 2024 memperkenalkan istilah conscious unbossing melalui riset terhadap pekerja di Amerika Serikat. Hasilnya, sebanyak 57% profesional Gen Z tidak ingin mengambil posisi sebagai pemimpin tim atau manajer dalam perjalanan karier mereka.
Namun, keengganan untuk mengambil jabatan tinggi sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya baru.Β
Dengan kata lain, seseorang tetap dapat berkembang tanpa harus selalu berpindah ke jabatan yang lebih tinggi. Seorang desainer, penulis, programmer, peneliti, atau tenaga profesional lainnya dapat memperdalam keahlian dan memperluas tanggung jawab tanpa menjadi atasan.
Istilah conscious unbossing menjadi ramai karena pilihan tersebut kini semakin sering dibicarakan sebagai bagian dari perubahan cara pekerja memandang karier dan kepemimpinan.
Mengapa Sebagian Pekerja Muda Mulai Enggan Mengambil Jabatan Tinggi?
Ada beberapa alasan yang membuat sebagian pekerja mempertimbangkan kembali tawaran untuk mengambil jabatan yang lebih tinggi. Keputusan tersebut tidak selalu berarti mereka ingin bekerja lebih sedikit, tetapi berkaitan dengan cara mereka melihat tanggung jawab dan tujuan karier.
Memiliki jabatan tinggi berarti bertanggung jawab atas target, pembagian pekerjaan, evaluasi, konflik, hingga perkembangan anggota tim. Karena itu, sebagian pekerja mempertimbangkan apakah tambahan tanggung jawab tersebut sepadan dengan waktu, energi, dan kompensasi yang diterima. Posisi tersebut juga dapat membawa tekanan kerja yang lebih besar sehingga pekerja perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap work-life balance.
Perubahan teknologi dan model kerja juga membuat jalur karier semakin beragam. Pekerja kini dapat mengembangkan karier melalui cara yang lebih fleksibel tanpa harus selalu mengikuti jenjang hierarki. Pengalaman melihat tekanan yang dihadapi seorang atasan juga dapat membuat seseorang mempertimbangkan kembali untuk mengambil jabatan yang lebih tinggi.
Selain tanggung jawab dan pola kerja, kompensasi juga menjadi pertimbangan. Kenaikan jabatan dapat membuat pekerja bertanya apakah tambahan penghasilan sepadan dengan beban, waktu, dan tanggung jawab yang ikut bertambah.
Namun, hal ini tidak berarti semua Gen Z menolak jabatan tinggi. Setiap orang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan tujuan karier yang berbeda. Bagi sebagian pekerja, memiliki jabatan tinggi tetap menjadi tujuan, sementara yang lain memilih berkembang melalui jalur karier yang berbeda.
Ketika Banyak Orang Memilih Tidak Mengejar Jabatan Tinggi, Apa Dampaknya bagi Dunia Kerja?
Perubahan cara pandang terhadap jabatan tinggi tidak hanya berdampak pada pekerja. Perusahaan juga perlu memikirkan bagaimana mereka menyediakan kesempatan berkembang bagi karyawan yang tidak ingin mengambil jalur kepemimpinan.
Salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah menyediakan jalur karier spesialis. Dengan cara ini, seseorang tetap dapat memperoleh tanggung jawab, mengembangkan keterampilan, dan memiliki kesempatan untuk berkembang tanpa harus mengambil jabatan tinggi.
Perusahaan juga dapat mengevaluasi kembali bagaimana sebuah jabatan dirancang. Jika sebuah posisi hanya menawarkan lebih banyak pekerjaan tanpa benefit yang sepadan, pekerja dapat mempertimbangkan kembali tawaran tersebut.
Karena itu, perusahaan perlu memikirkan kembali cara menyiapkan calon pemimpin. Namun, hal ini tidak berarti conscious unbossing secara otomatis menyebabkan krisis kepemimpinan. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana organisasi mengembangkan talenta dan merancang jalur karier.
Conscious Unbossing Bukan Berarti Gen Z Tidak Punya Ambisi
Conscious unbossing tidak tepat jika hanya dipahami sebagai keinginan Gen Z untuk menghindari pekerjaan berat.
Pilihan untuk tidak mengejar jabatan tinggi dapat muncul dari berbagai pertimbangan, mulai dariΒ work-life balance hingga cara seseorang mendefinisikan kesuksesan.
Ambisi juga tidak selalu berbentuk jabatan. Seseorang dapat mengejar keahlian, kreativitas, penghasilan, dampak, kebebasan bekerja, atau menjadi orang yang berpengaruh di bidangnya tanpa harus memiliki banyak bawahan.
Karena itu, tidak semua Gen Z memiliki pandangan yang sama terhadap jabatan tinggi. Ada yang ingin menjadi pemimpin, ada yang ingin menjadi spesialis, dan ada pula yang masih mencari bentuk karier yang paling sesuai dengan dirinya.
Bagi perusahaan, perubahan ini juga menjadi kesempatan untuk menyediakan lebih banyak pilihan. Seseorang tidak seharusnya harus memilih antara tetap berada di posisi yang sama atau menjadi bos untuk bisa berkembang.
Mungkin, pertanyaan tentang karier kini bukan lagi sekadar βApakah generasi muda ingin menjadi pemimpin?β, tetapi βSeperti apa kepemimpinan yang ingin mereka jalani?β


