Coba Kawan GNFI perhatikan linimasa media sosial belakangan ini. Sudah banyak Iklan yang muncul terasa makin rapi, visualnya nyaris sempurna, bahkan narasinya pun terdengar meyakinkan. Wajar saja, sebagian besar memang dibuat dengan bantuan AI.
Namun, anehnya, di tengah konten yang serba sempurna itu, orang justru makin susah percaya. Nah, di sinilah kemampuan public speaking kembali jadi andalan.
AI Makin Merajai dalam Pemasaran Digital, tetapi Bukan Segalanya
Meta mencatat bahwa 79 persen UKM di Indonesia sudah memanfaatkan AI, kebanyakan untuk memasarkan produk baru dan berkomunikasi dengan pelanggan. Pieter Lydian, Country Director Meta Indonesia, mengatakan bahwa transformasi digital di Indonesia berjalan cepat. AI kini jadi bagian dari keseharian masyarakat maupun pelaku bisnis. Bahkan, Tren otomatisasi generative AI ini diperkirakan bakal makin kuat sepanjang 2026.
Belum lagi soal skala penggunaan media sosialnya. Berdasarkan Laporan Digital 2026 Indonesia yang disusun We Are Social bersama Meltwater, jumlah identitas pengguna media sosial di Tanah Air naik 26 persen dalam setahun, tembus 180 juta atau setara 62,9 persen dari total populasi.
Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 21 jam 50 menit seminggu untuk bermedia sosial, alias lebih dari tiga jam sehari. Artinya, konten yang beredar bukan cuma banyak, tapi juga terus berebut perhatian yang sama.
Konten Melimpah, Kepercayaan Makin Mahal
Masalahnya, makin banyak konten beredar, makin besar juga celah untuk disalahgunakan. Kerugian masyarakat akibat phishing saja tercatat mencapai Rp9 triliun dalam periode November 2024 hingga Desember 2025. Wajar kalau publik jadi lebih was-was terhadap konten yang terkesan terlalu mulus atau tidak jelas asal-usulnya.
Situasi inilah yang bikin suara manusia jadi makin berharga. Presentasi yang disampaikan langsung oleh pendiri brand, sesi tanya jawab yang terbuka, atau sekadar cerita yang disampaikan apa adanya, punya kekuatan yang sulit ditiru teks atau visual buatan AI.
Kawan GNFI mungkin pernah merasakan sendiri, di antara ribuan iklan yang lewat begitu saja di beranda, justru presentasi atau pidato yang terasa jujur yang paling diingat di kepala.
Ketika Konten Makin Mirip, Keaslian jadi Pembeda
Ironisnya, makin canggih AI meniru gaya bicara dan gaya tulis manusia, konten yang beredar justru makin terasa seragam. Banyak brand mulai "terdengar sama" karena memakai alat yang sama. Di titik inilah kemampuan berbicara di depan publik jadi pembeda yang susah digantikan, karena ada unsur yang tidak bisa sepenuhnya diprogram: intonasi, ekspresi, dan reaksi spontan saat menghadapi audiens.
Tidak heran forum seperti Indonesia Digital Marketing Conference tetap ramai digelar setiap tahun. Kebutuhan akan ruang komunikasi langsung antara pelaku bisnis dan publik ternyata tidak surut, meski otomatisasi makin merajalela.
3 Hal yang Perlu Diasah
Pertama, keberanian bicara apa adanya. Publik sekarang lebih peka mengenali konten yang terasa dipaksakan. Bicara jujur, meski sederhana, biasanya lebih efektif membangun kepercayaan ketimbang narasi yang terlalu dipoles.
Kedua, siap merespons secara langsung. Sesi tanya jawab dadakan, baik di webinar maupun forum tatap muka, menuntut kecepatan berpikir yang belum bisa digantikan mesin sepenuhnya.
Ketiga, konsisten tampil. Kepercayaan bukan dibangun dalam satu momen, melainkan lewat kehadiran yang terus-menerus, baik di panggung kecil maupun besar.
AI memang mempercepat cara brand memproduksi konten, tapi belum bisa menggantikan getaran kepercayaan yang muncul saat seseorang berbicara dengan tulus di depan orang lain.
Bagi Kawan GNFI yang bergerak di dunia pemasaran digital, mungkin ini saatnya menempatkan public speaking bukan lagi sebagai pelengkap, melainkan senjata utama untuk membangun kepercayaan di tengah lautan konten yang makin dikuasai algoritma.

