Di lereng perbukitan karst Pegunungan Sewu, air hujan cepat meresap ke dalam batuan dan meninggalkan lahan yang kering. Itulah tantangan sehari-hari warga Kalurahan Kedungpoh, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul.
Kini dua perguruan tinggi, Universitas Gunung Kidul (UGK) dan Universitas AKPRIND Indonesia, menggandeng warga untuk menjawabnya lewat penerapan hasil riset kampus dalam bentuk teknologi tepat guna (TTG).
Bersaing dalam Kompetisi Hibah Kosabangsa
Kegiatan ini terlaksana berkat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendikbudristek melalui Hibah Program Kosabangsa (Kolaborasi Membangun Bangsa).
Program Kosabangsa mendorong perguruan tinggi menghilirkan hasil riset untuk menjawab persoalan nyata di desa.
Tim pelaksana berasal dari Universitas Gunung Kidul, dengan ketua pelaksana Dr. Heru Winarno, S.T., MTA. (Agroteknologi), bersama Ir. Limpat Wibowo Aji, S.T., M.T., IP.P (Teknik Sipil) dan Dr. Utami Agus Yulianti, M.P. (Agribisnis).
Tim pelaksana dari UGK didampingi tim dari Universitas AKPRIND Indonesia, yakni Dr. Samuel Kristiyana, S.T., M.T. (Teknik Elektro), Dr. Dra. Suparni Setyowati Rahayu, M.Si. (Teknik Lingkungan), dan Ir. Muhammad Yusuf, M.T. (Teknik Industri).
Aktivitas ini juga melibatkan mahasiswa dari program studi Agroteknologi, Teknik Sipil, dan Administrasi Publik untuk mendampingi kegiatan lapangan.
Potensi Besar, Tantangan Nyata
Sebagian besar warga Kedungpoh menggantungkan hidup pada pertanian lahan kering dan hutan rakyat. Lereng yang curam, tanah dangkal dengan bahan organik rendah, serta keterbatasan air membuat produktivitas jagung dan bawang merah belum optimal. Di sisi lain, Kedungpoh memiliki delapan UMKM batik yang terus berproduksi.
Program ini menyasar dua mitra, yaitu GAPOKTAN Sedyo Maju dan UMKM Batik Unggul Jaya.
Petani Terapkan TTG, Lereng Ditanami Pohon
Bagi GAPOKTAN Sedyo Maju, program ini diwujudkan dalam bentuk penerapan teknologi dan penanaman pohon secara langsung oleh petani.
Teknologi tepat guna untuk air dan pascapanen. Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) digunakan sebagai sumber energi pompa air dari sumur, yang kemudian disimpan dalam tandon. Tingginya kebutuhan listrik dan jauhnya lokasi sumur dari jaringan listrik menjadi tantangan dalam penyediaan air, sehingga PLTS dipilih sebagai solusi energi yang ramah lingkungan. Teknologi tepat guna lain yang diterapkan adalah mesin pemipil jagung, pengering bawang merah berbasis green house, serta mesin penepung bonggol jagung. Pemipilan jagung yang semula memakan waktu sekitar 8 jam per ton ditargetkan menjadi 2 jam. Pengeringan bawang merah dipangkas dari 5 hari menjadi 2 hari. Bonggol jagung yang selama ini terbuang akan diolah menjadi tepung pakan ternak dan pupuk organik.
Menanam pohon, menahan longsor. Lereng rawan longsor diperkuat dengan soil bioengineering, yaitu memadukan tanaman berakar kuat dengan struktur sederhana seperti terasering dan drainase. Sekitar 500 pohon alpukat akan ditanam petani bersama tim. Akar pohon mengikat tanah dan mengurangi erosi, sementara buahnya dapat menjadi tambahan penghasilan.
Batik Lebih Hemat dan Ramah Lingkungan
Di sisi lain, perajin Batik Unggul Jaya turut merasakan manfaat program ini. Selama ini, usaha batik di Kedungpoh menghadapi dua beban sekaligus: biaya energi yang tinggi dan proses produksi yang belum ramah lingkungan. Lewat penerapan ecoefficiency, perajin didampingi menggunakan energi, air, dan bahan baku secara lebih hemat, dengan dukungan kompor ramah lingkungan dan SOP produksi yang lebih tertata.
Perubahan juga dilakukan pada proses pewarnaan. Perajin beralih ke pewarna alami dari bahan lokal yang mudah ditemui di sekitar desa, dengan dukungan alat perebus stainless. Selain lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan, pewarna alami membuka peluang lahirnya warna dan motif khas Kedungpoh.
Limbah cair hasil pencucian dan pewarnaan tidak lagi dibuang begitu saja. Perajin didampingi membangun dan mengelola instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sederhana yang terdiri atas bak pengendap serta penyaring pasir, arang aktif, dan zeolit. Di sisi lain, malam atau lilin batik didaur ulang melalui alat penyaring dan wadah penampung sehingga tidak terbuang. Penggunaan air produksi pun lebih hemat berkat kran hemat air dan bak pencucian bertingkat.
Tak hanya soal produksi, perajin juga dibekali pelatihan pencatatan keuangan sederhana, branding, serta pemasaran digital lewat marketplace dan media sosial. Dengan cara ini, batik khas Kedungpoh diharapkan semakin dikenal pasar yang lebih luas, dengan motif khas Batik Kedungpoh yang dikembangkan bersama warga.
Teknologi Diterapkan, Masyarakat Terdampak
Dalam pelaksanaan kosabangsa peran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan teknologi tepat guna yag diterapkan. Masyarakat dilibatkan sejak perencanaan hingga evaluasi. Program juga diselaraskan dengan rencana pembangunan Kalurahan Kedungpoh dan Kabupaten Gunungkidul.
Kolaborasi dua kampus ini diharapkan menghasilkan lebih dari sekadar alat. Kemandirian ekonomi desa pun dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan teknologi yang dikelola warga sendiri.
Dosen berdampak, wujud nyata terjun di masyarakat.


