Akhir pekan bagi sebagian orang mungkin dihabiskan dengan jalan-jalan atau sekadar beristirahat di rumah. Namun, bagi seorang lulusan Teknologi Pertanian di Banyuwangi, akhir pekan juga menjadi waktu untuk mengurus kambing dan ayam di kandang kecil miliknya.
Bersama pasangannya, mereka menghabiskan waktu akhir pekan untuk mengasuh kambing-kambing dan ayam-ayam yang menjadi usaha sampingan mereka.
Bertepatan dengan Hari Tani Nasional 24 September, kisah usaha sampingan ini jadi pengingat tentang kontribusi ke sektor pertanian-peternakan nggak selalu harus berbentuk profesi utama.
Ketika Anak Muda Diajak Kembali ke Pertanian
Pemerintah sedang gencar menyuarakan tentang dorongan untuk anak muda terjun ke dunia pertanian. Hal ini dilakukan dalam rangka mempertahankan ketahanan pangan di Indonesia.
Salah satu program yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah Jagoan Tani yang mulai dilaksanakan sejak 2018. Program ini bertujuan untuk mendorong anak muda agar bergerak ke arah pertanian, peternakan, dan perikanan.
Pemerintah Banyuwangi tidak ketinggalan tentang program itu. Dengan program Jagoan Tani Mereka mendorong pemuda Banyuwangi untuk membuka bisnis di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Menurut Bupati Ipuk yang dilansir dari Antara Jatim (30/4/2026) adanya program ini diharapkan dapat membantu petani muda dalam menciptakan lapangan kerjanya sendiri.
Sebuah Kandang Kecil di Banyuwangi
Di Banyuwangi, bertani dan beternak masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakatnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik populasi kambing mencapai 125.949 ekor pada 2025, sedangkan untuk ayam petelur 1.386.200 ekor pada 2024.
Akan tetapi, nggak semua kandang kambing di Banyuwangi seramai peternakan yang sudah besar skala produksinya. Ada kandang kecil yang diam-diam berjalan sebagai usaha sampingan, cara sederhana untuk melepas penat dari pekerjaan utama.
Sepasang lulusan Teknologi Pertanian yang kini tinggal di Banyuwangi memutuskan untuk beternak kambing sebagai pengisi waktu luangnya. Sehari-harinya, sang istri mengelola peternakan kecil yang mereka tekuni sejak lebih dari sepuluh tahun itu bersama satu pekerjanya, dan di akhir pekan si kepala rumah tangga sekaligus pemilik kandang kecil itu ikut mengerahkan tenaganya mengelola kambing-kambing mereka.
Awalnya, mereka memulai beternak kambing dengan menitipkan kambing-kambingnya pada peternak di sekitar Banyuwangi. Kini, kandang kecilnya berisi kambing-kambing Sapera betina yang diambil susunya. Anak-anak kambing jantan yang sudah waktunya dipisahkan masih dibawa oleh peternak kambing di sekitar Banyuwangi untuk dibesarkan.
Jadi, usahanya ini tidak hanya dijalankan sendiri, tapi juga memberdayakan peternak kambing lainnya dengan sistem bagi hasil. Susu yang didapatkan juga dipasarkan melalui pengepul, ada pula yang langsung dijual ke konsumen. Setidaknya, selain untuk healing dan menunjang ketahanan pangan, mereka juga ingin memberdayakan peternak dan pelaku usaha lainnya untuk bekerja sama.
Di samping budidaya kambing, mereka juga membudidayakan ayam, lebih tepatnya Ayam Kuntara. Ayam Kuntara sendiri merupakan ayam yang cocok untuk dibudidayakan sebagai ayam petelur, ayam anakan (DOC), serta ayam pedaging.
Barangkali yang paling terlihat dari usaha ketahanan pangan rumahannya, telur-telur ayam yang dihasilkan inilah yang dikonsumsi keluarga mereka sehari-hari, sesekali mengolah daging ayamnya. Tak lupa mengonsumsi susu dari kambingnya.
Ilmu pertaniannya sedikit bergeser, tapi usahanya mempertahankan ketahanan pangan keluarga, sekaligus membantu sektor ekonomi di sekitarnya juga menjadi manfaat dari gelar sarjana yang mereka tempuh beberapa tahun silam.
Banyak Cara untuk "Pulang" ke Pertanian
Kerap kali yang dilihat dari regenerasi petani adalah ketika seseorang andil sebagai pelaku utamanya, entah petani, peternak, atau nelayan. Padahal, ilmu pertanian juga bisa diterapkan dengan banyak cara loh, Kawan.
Seseorang yang pekerjaan utamanya bukan bertani, bisa memiliki kebun kecil di rumahnya yang fungsinya tidak jauh-jauh dari hobi dan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Seseorang yang menjadi sarjana pertanian, bisa membagikan ilmunya melalui tulisan-tulisannya terkait isu-isu pertanian.
Bahkan pendidikan formal di pertanian, peternakan, dan perikanan, juga menjadi awal untuk generasi muda memahami ilmunya. Selanjutnya, biarkan mereka menentukan media seperti apa yang bisa mereka terapkan untuk membagi hasil belajarnya.
Regenerasi pertanian tidak harus mengerahkan diri sepenuhnya sebagai petani. Bisa jadi, ada hal-hal yang jauh lebih sederhana yang dapat dibagikan kepada para petani.
Barangkali, tidak semua orang yang belajar pertanian akan berakhir menjadi petani. Ada yang memilih bekerja di bidang lain, menulis tentang pertanian, atau sekadar merawat kebun dan ternak kecil di rumah. Namun, ilmu yang pernah dipelajari tetap bisa menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh.
Sebab, pulang ke pertanian tidak selalu berarti kembali menjadi petani. Kadang, cukup dimulai dari kandang kecil dan kebun mini di belakang rumah.
Kalau di sekitar Kawan ada usaha tani/ternak sampingan, menurut Kawan seberapa besar perannya buat ketahanan pangan lokal?


