Berangkat dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, Abdi Ardiansyah membuktikan bahwa tempat seseorang berasal tidak harus membatasi sejauh mana ia melangkah.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin ini pernah menjadi salah satu dari empat perwakilan resmi pemuda Indonesia dalam UN ECOSOC Youth Forum 2023 di Markas Besar PBB, New York, serta mengikuti YSEALI Academic Fellowship 2025 di Amerika Serikat.
Kini, sebagai anggota Asia-Pacific Leadership Council di Youth Democracy Network, Abdi terus mendorong partisipasi anak muda dalam demokrasi dan kebijakan publik. Namun, baginya, pencapaian bukanlah garis akhir.
Melalui pendidikan dan pemberdayaan di Bulukumba, ia ingin memastikan kesempatan yang pernah diraihnya juga dapat membuka jalan bagi anak muda lain untuk tumbuh, bermimpi, dan menciptakan perubahan.
Bawa Suara Lokal ke Panggung Global
Pengalaman mengikuti forum pemuda PBB di New York pada 2023 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Abdi Ardiansyah. Berada di tengah perwakilan pemuda dari berbagai negara memperluas pandangannya mengenai demokrasi, partisipasi politik, dan tantangan pembangunan yang dihadapi generasi muda.
Di forum tersebut, Abdi memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pandangan mengenai keterlibatan anak muda dalam politik. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi anak muda di daerah bukanlah isu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari percakapan global tentang akses, kesetaraan, dan masa depan demokrasi.
"Pengalaman tersebut memperluas pemahaman saya tentang pentingnya membawa perspektif lokal ke dalam lanskap global," ujarnya kepada penulis.
Bagi Abdi Ardiansyah, keterlibatan dalam forum internasional bukan semata-mata kesempatan untuk mewakili Indonesia. Lebih dari itu, pengalaman tersebut memberinya ruang untuk memahami bagaimana gagasan dapat dipertukarkan lintas negara dan diterjemahkan menjadi langkah konkret di lingkungan masing-masing.
Pandangan itu sejalan dengan keterlibatannya di Youth Democracy Network. Sebagai anggota Asia-Pacific Leadership Council, ia menjadi bagian dari jaringan kepemimpinan yang mendorong kolaborasi anak muda di kawasan Asia-Pasifik.

Abdi Ardiansyah sebagai Narasumber diย forum internasional melalui Youth Democracy Network Global Assembly di Panama City, Panama.(Sumber Foto: Dok. Abdi Ardiansyah)
Pada 2026 ini, Abdi Ardiansyah kembali mengambil bagian dalam forum internasional melalui Youth Democracy Network Global Assembly di Panama City, Panama. Dalam kegiatan tersebut, ia tampil sebagai pembicara sekaligus moderator dalam diskusi mengenai Generasi Z dan keterlibatan lintas negara.
Rangkaian pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa anak muda perlu hadir bukan hanya sebagai peserta dalam percakapan global, tetapi juga sebagai pihak yang ikut menentukan arah pembahasan dan menawarkan solusi.
Demokrasi Bukan Sekadar Mencoblos
Ketertarikan Abdi Ardiansyah pada isu demokrasi tidak berhenti pada pengalaman mengikuti forum internasional. Latar belakang pendidikannya di bidang hukum turut membentuk perhatiannya terhadap partisipasi publik, supremasi hukum, dan proses pengambilan keputusan.
Menurutnya, demokrasi kerap dipahami secara sempit sebagai kegiatan memilih pemimpin dalam pemilihan umum. Padahal, kehidupan demokratis menuntut keterlibatan masyarakat yang lebih luas dan berkelanjutan.
Demokrasi juga menyangkut hak masyarakat untuk memperoleh informasi, menyampaikan aspirasi, mengawasi kebijakan, berdialog dengan pemangku kepentingan, serta ikut menentukan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.
"Anak muda bukan hanya pemimpin masa depan, melainkan aktor penting dalam kehidupan masyarakat saat ini," imbuhnya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu landasan aktivitasnya di Youth Democracy Network. Ia ingin memperkuat ruang kolaborasi bagi pemimpin muda di kawasan Asia-Pasifik agar mereka dapat bertukar gagasan dan merancang proyek sosial yang bisa diterapkan di lingkungan masing-masing.
Bagi Abdi Ardiansyah, partisipasi anak muda tidak cukup hanya dirayakan melalui seminar atau forum diskusi. Gagasan perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Karena itu, ia fokuskan perhatian pada bagaimana anak muda dapat membangun inisiatif dari lingkungan terdekat, sekaligus memiliki akses terhadap pengetahuan dan jejaring yang lebih luas.
Di tengah kiprah internasionalnya, Abdi tetap menaruh perhatian pada pemberdayaan anak muda di Bulukumba melalui Yayasan Nirma Kalanting dan komunitas Sekolah Sementara. Keduanya menjadi ruang untuk memperluas akses informasi, pendampingan, dan kesempatan pengembangan diri bagi generasi muda di pedesaan.
Menurut Abdi Ardiansyah, banyak anak muda desa memiliki potensi, tetapi belum didukung akses yang memadai terhadap informasi, beasiswa, dan program kepemimpinan.
Karena itu, ia ingin membagikan pengetahuan serta pengalaman yang diperolehnya agar peluang yang pernah ia raih juga dapat dijangkau orang lain.
Baginya, tempat seseorang dilahirkan tidak seharusnya membatasi cita-cita. Sebab, membuka akses berarti memberi lebih banyak anak muda kesempatan untuk berkembang dan menentukan masa depannya sendiri.
Dari Isu Iklim hingga Kesetaraan Gender
Kepedulian Abdi Ardiansyah terhadap pemberdayaan generasi muda juga diwujudkan melalui SAFE Project dalam Youth Leadership Academy: Climate and Gender 2025 bersama Plan International Indonesia.

Abdi Ardiansyah bersama Plan International Indonesia diย SAFE Project dalam Youth Leadership Academy: Climate and Gender 2025 (Sumber Foto: Dok. Abdi Ardiansyah)
Program ini menghubungkan literasi iklim dengan perspektif gender dan menjangkau lebih dari 600 siswa di lima sekolah melalui kolaborasi dengan organisasi mitra.
Bagi Abdi, pengalaman tersebut menegaskan bahwa perubahan dapat dimulai dari pendidikan, berbagi pengetahuan, dan membangun kesadaran di kalangan anak muda.
Perjalanan Abdi juga diwarnai berbagai pencapaian, mulai dari Parlemen Remaja DPR RI (2019) di tingkat sekolah menengah, Australia Awards Short Course (2022), hingga menjadi ketua tim peneliti UNESCO Youth as Researchers โTanoto Student Research Awards (2024).
Pada 2025, ia meraih Juara I Mahasiswa Berprestasi Utama Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, sebelum dinobatkan sebagai lulusan berprestasi fakultas tersebut pada 2026. Namun, di balik deretan pencapaian dan prestasi luar biasa itu, perjalanan Abdi tidak selalu berjalan mulus.
Belajar dari Keterbatasan dan Kegagalan
Abdi Ardiansyah mengakui bahwa perjalanannya tidak selalu mulus. Ia pernah menjalani masa jeda pendidikan selama setahun sebelum diterima di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin pada 2022.
Pengalaman itu mengajarkannya bahwa setiap perjalanan memiliki tantangan dan waktunya sendiri. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah maju. Hal itu telah ia buktikan dengan segudang prestasi International.
Di tengah berbagai tanggung jawab, Abdi belajar mengatur prioritas, menjaga disiplin, dan berani mengambil kesempatan untuk terus berkembang.
Ia ingin anak muda percaya bahwa tempat asal tak boleh membatasi cita-cita. Mulailah dari hal sederhana, terus belajar, dan jangan takut mencoba. Itulah pesan mendalamnya bagi generasi muda Indonesia.
Bagi Abdi Ardiansyah, keberhasilan sejati bukan sekadar meraih pencapaian pribadi, melainkan menggunakan pengalaman dan pengetahuan untuk membuka jalan bagi orang lain.
Sumber: Liputan
ย


