Seberapa sering Kawan GNFI menggunakan AI? Tahukah Kawan, tiap kali Kawan berbicara dengan AI sebanyak 10-50 kali, itu setara satu botol air minum 500ml yang terpakai.
Fakta ini diungkap dalam studi karya Barnett-Itzhaki (2026) berjudul “The water footprint of artificial intelligence: Emerging solutions and governance imperatives”. Menurut studi tersebut, melakukan percakapan sederhana atau membuat gambar dengan AI sebanyak 10—50 kali setara dengan menghabiskan 1 botol air minum berukuran 500 ml.
Tanpa disadari, penggunaan AI yang terus-menerus ternyata ikut menyedot banyak air bersih di baliknya.
Hubungan antara AI dan Penggunaan Air
Penggunaan AI sangat berkaitan erat dengan air. Sistem AI membutuhkan infrastruktur komputasi berskala besar yang berpusat di fasilitas khusus bernama pusat data (data center).
Pusat data ini membuat ribuan server yang bekerja dan menghasilkan panas secara terus-menerus, sehingga memerlukan sistem pendingin atau cooling system.
Berdasarkan studi “Studi Konsumsi Air pada Infrastruktur AI dan Dampaknya terhadap Ketersediaan Air Bersih” dari Jurnal Kohesi (2026), ada dua jalur konsumsi air ada operasional AI:
- Konsumsi air secara langsung: Air digunakan secara langsung pada sistem pendingin (coolingsystem) untuk menyerap panas dari mesin server agar tidak mengalami overheat.
- Konsumsi air secara tidak langsung: Air digunakan pada proses pembangkitan listrik yang menyuplai daya ke pusat data, proses pengolahan air bersih yang disalurkan ke fasilitas, serta pengolahan limbah airnya.
Secara global, saat ini terdapat lebih dari 11.000 pusat data yang beroperasi. Bisakah Kawan GNFI membayangkan berapa banyak air yang terpakai dari seluruh fasilitas tersebut?
Bagaimana dengan Indonesia?
Berdasarkan data dari Data Center Map (diakses September 2026), Indonesia sendiri sudah memiliki lebih dari 200 data center yang tersebar di 32 wilayah. Di Jakarta sendiri, terdapat 107 data center.
Jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah seiring makin banyaknya perusahaan teknologi dan penyedia layanan cloud yang membangun infrastrukturnya di dalam negeri.
Seberapa Besar Dampaknya?
Konsumsi air dalam jumlah besar ini bisa memicu krisis dan tekanan terhadap ketersediaan air bersih. Di wilayah yang sudah mengalami kelangkaan air, pengambilan air bersih dalam jumlah besar untuk pusat data dapat mengurangi jatah air bersih bagi pasokan pemukiman warga dan lingkungan sekitarnya.
Artikel UN News (2026) juga memaparkan bahwa dampak buruk dari perkembangan AI bagi lingkungan tidak hanya pada krisis air saja, tetapi juga mencakup emisi karbon, konsumsi lahan, dan penumpukan sampah elektronik (e-waste).
Solusi yang Sedang Dikembangkan
Studi pada jurnal Kohesi (2026) memaparkan salah satu solusinya, yaitu dengan penerapan teknologi Direct Air Free Cooling. Dengan menggunakan udara dingin alami dari luar ruangan secara langsung untuk mendinginkan mesin server di pusat data.
Meode ini dapat secara signifikan mengurangi atau menggantikan ketergantungan pada sistem pendingin berbasis air, terutama jika pusat data ditempatkan di walayah beriklim sedang atau maritim.
Sayangnya, teknologi ini masih belum bisa dierapkan secara maksimal di wliayah dengan kelembapan sangat rendah atau suhu ekstrem, dan penggunaannya di industri saat ini juga masih terbilang jarang dibandingkan sistem pendingin konvensional.
Selain itu, peralihan ke energi terbarukan juga jadi solusi penting. Semakin banyak pusat data yang memakai listrik dari sumber energi bersih seperti tenaga surya atau angin, semakin kecil pula jejak air tidak langsung yang dihasilkan dari proses pembangkitan listriknya.
Meskipun teknologi AI saat ini memang membuat berbagai aspek kehidupan menjadi lebih mudah, bukan berarti Kawan harus berhenti menggunakan AI.
Kawan harus menggunakan AI secara lebih bijak, seperti lebih memilih berkomunikasi melalui teks daripada meminta AI membuat gambar atau video jika hal itu tidak terlalu diperlukan.
Langkah kecil ini, jika dilakukan secara bersama oleh banyak pengguna, bisa menjadi bagian dari solusi besar untuk memastikan air bersih tetap tersedia di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

