dari pinisi hingga sasi kearifan lokal maritim nusantara untuk transportasi berkelanjutan - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Pinisi hingga Sasi: Kearifan Lokal Maritim Nusantara untuk Transportasi Berkelanjutan

Dari Pinisi hingga Sasi: Kearifan Lokal Maritim Nusantara untuk Transportasi Berkelanjutan
images info

Foto oleh Rhys Evans di Unsplash


Indonesia tidak pernah benar-benar jauh dari laut. Jauh sebelum kapal modern, GPS, dan pelabuhan besar hadir, masyarakat Nusantara telah menemukan cara membaca angin, arus, bintang, sekaligus menjaga laut agar tetap menjadi ruang kehidupan.

Setiap 17 September, Indonesia memperingati Hari Perhubungan Nasional. Kompas.com mencatat, peringatan ini ditetapkan sejak 1971 sebagai momentum menyatukan berbagai peringatan di sektor perhubungan sekaligus mendorong pelayanan transportasi yang lebih baik.

Namun, ketika membicarakan konektivitas Indonesia, ada satu hal yang menarik untuk kembali dilihat: jauh sebelum istilah transportasi berkelanjutan menjadi populer, leluhur Nusantara telah mempraktikkan sebagian prinsipnya.

Pinisi dan Pengetahuan Berlayar yang Tak Lahir dari Buku

Salah satu warisan yang paling mudah dikenali adalah pinisi.

Kompas.com menjelaskan, pinisi merupakan kapal layar tradisional Indonesia yang banyak ditemukan di Sulawesi Selatan, khususnya Bulukumba. Kapal ini menggunakan konstruksi kayu, layar, serta pengetahuan pembuatan kapal yang diwariskan antargenerasi. Yang menarik bukan hanya bentuk kapalnya, tetapi pengetahuan di baliknya.

Para pelaut Nusantara tidak berlayar dengan bantuan teknologi navigasi modern. Kompas.com mencatat, kemampuan tradisional seperti membaca bintang, arah angin, dan arus laut menjadi bagian dari pengetahuan pelayaran yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Jaringan perdagangan antarpulau pun telah berkembang sejak masa lampau. Artinya, laut bagi masyarakat Nusantara bukan ruang kosong yang memisahkan pulau. Laut justru menjadi jalan raya yang menghubungkan kehidupan.

Pinisi menjadi salah satu gambaran bagaimana pengetahuan lokal dapat melahirkan teknologi yang sesuai dengan lingkungan tempat masyarakat hidup. Bahkan, tradisi pembuatan perahu itu tidak berdiri sendiri.

Di Bulukumba terdapat tradisi Annyorong Lopi, yaitu kegiatan mendorong perahu ke laut yang berkaitan erat dengan kehidupan para Panrita Lopi, sebutan bagi pembuat perahu.

Jadi, sebuah kapal bukan hanya benda. Ia menyimpan pengetahuan, pekerjaan, ritual, identitas, dan hubungan masyarakat dengan laut.

baca juga

Sasi Mengajarkan bahwa Laut Tidak Selalu Harus Diambil

Kalau pinisi memperlihatkan bagaimana masyarakat Nusantara bergerak di laut, tradisi sasi memperlihatkan bagaimana mereka menahan diri di hadapan laut.

Di Maluku dan Papua, sasi dikenal sebagai aturan adat yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam. Kompas.com menjelaskan, ketika sasi diberlakukan, masyarakat tidak diperbolehkan mengambil hasil alam tertentu selama jangka waktu yang telah ditentukan. Setelah masa larangan berakhir, sumber daya dapat dimanfaatkan kembali.

Logikanya sederhana: laut tidak hanya menyediakan sesuatu untuk diambil, tetapi juga membutuhkan waktu untuk pulih. Prinsip semacam ini relevan ketika transportasi dan aktivitas ekonomi modern semakin bergantung pada wilayah pesisir.

Dengan kata lain, kearifan lokal tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang hanya cocok ditempatkan di museum. Ia bisa menjadi cara berpikir.

Dari Membaca Alam hingga Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Persoalan transportasi masa kini bukan sekadar bagaimana manusia bergerak lebih cepat. Tantangannya juga bagaimana konektivitas tetap berjalan ketika lingkungan berubah. Masyarakat pesisir telah lama menghadapi perubahan musim, gelombang, angin, serta kondisi laut yang tidak selalu dapat diprediksi.

Riset tentang masyarakat nelayan Bajo di Sikka, misalnya, menunjukkan bahwa perubahan iklim memengaruhi ekosistem pesisir sekaligus aktivitas sosial-ekonomi masyarakat. Kajian tersebut juga melihat adanya strategi adaptasi yang dibangun melalui pengetahuan dan inovasi masyarakat.

Pengetahuan semacam ini penting bagi masa depan. Bukan berarti kapal modern harus kembali sepenuhnya menggunakan teknologi tradisional atau transportasi nasional menggantikan mesin dengan layar.

Bukan itu intinya. Yang perlu diwarisi adalah cara berpikirnya: memahami lingkungan sebelum bergerak di dalamnya, menggunakan sumber daya secara bijak, dan menyesuaikan teknologi dengan karakter wilayah.

baca juga

Hari Perhubungan Nasional dan Pertanyaan tentang Masa Depan

Hari Perhubungan Nasional akhirnya bisa dibaca lebih luas daripada sekadar peringatan tahunan. Jika transportasi bertugas menghubungkan manusia dan wilayah, Indonesia sebenarnya memiliki warisan panjang tentang bagaimana hubungan itu dibangun.

Pinisi mengajarkan keberanian menjadikan laut sebagai ruang penghubung. Sasi mengajarkan bahwa hubungan dengan laut membutuhkan batas. Sementara pengetahuan pelaut tradisional menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu dimulai dari mesin. Kadang, ia bermula dari kemampuan manusia membaca alam.

Karena itu, ketika Indonesia membicarakan transportasi berkelanjutan, mungkin pertanyaannya bukan hanya teknologi baru apa yang harus kita ciptakan? Namun juga pengetahuan lama apa yang jangan sampai kita lupakan? Sebab Nusantara tidak kekurangan cerita tentang bagaimana manusia menaklukkan jarak.

Yang perlu dipelajari kembali adalah bagaimana menempuh jarak itu tanpa merusak laut yang sejak dahulu menjadi penghubungnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.