Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang berkisah tentang mengapa orang Panyula mendapatkan titah sebagai pengayuh perahu oleh Raja Bone dulunya. Konon titah ini terjadi karena seekor ayam jagoan yang terkenal dengan kemampuannya.
Berikut kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Selatan tersebut.
Kisah Orang Panyula sebagai Pengayuh Perahu, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
Dikutip GNFI dari buku Jemmain yang berjudul Cerita Rakyat Bugis, alkisah pada zaman dahulu ada sebuah telur penyu yang berada di dekat sumur bubung baranie. Masyarakat yang tinggal di Kampung Panyula tidak mengetahui secara spesifik telur tersebut.
Ada yang mengatakan jika telur itu adalah telur ayam. Ada juga yang mengatakan telur itu merupakan telur penyu.
Namun uniknya, telur ini dierami oleh seekor ular besar. Hal ini membuat tidak ada masyarakat yang berani mendekati telur tersebut untuk memastikannya.
Sebulan kemudian, telur itu menetas. Anak ayam keluar dari dalam telur tersebut.
Walau begitu, ular tersebut masih merawat anak ayam itu dengan baik. Selama empat puluh hari ular itu selalu membawakan makanan untuk anak ayam tersebut.
Setelah empat puluh hari, ayam ini langsung tumbuh dengan pesat. Masyarakat pun memberi nama ayam tersebut Bakkae Maroe.
Uniknya ayam tersebut memiliki kekuatan yang berbeda dengan yang lainnya. Paruh dari ayam tersebut seakan-akan berbisa layaknya ular.
Dengan satu patukan saja, ayam lain akan mati di tempat. Alhasil banyak ayam milik masyarakat panyula yang mati akibat ulah Bakkae Maroe.
Pada suatu masa, muncul kabar jika orang-orang Wajo hendak menyabung ayam dengan orang Bone. Kabar tentang Bakkae Maroe pun terdengar hingga ke telinga Raja Bone.
Sang raja kemudian memerintahkan pengawalnya untuk membawa Bakkae Maroe ke istana. Akhirnya Bakkae Maroe digunakan sebagai ayam sabungan oleh Raja Bone.
Tepat pada hari yang ditentukan, orang-orang Wajo pun datang ke sana. Semua masyarakat juga berkumpul untuk menyaksikan helatan tersebut.
Orang-orang Wajo pun mulai mengeluarkan ayam aduannya. Di sisi lain, Raja Bone juga memerintahkan pengawalnya untuk mengeluarkan Bakkae Maroe.
Arena sabung ayam kemudian dimulai saat itu juga. Benar saja, Bakkae Maroe bisa menang dengan mudah.
Hanya dengan satu patokan saja, ayam yang menjadi lawannya mati seketika. Alhasil semua ayam aduan milik orang Wajo berhasil dikalahkan oleh Bakkae Maroe.
Semua orang terpana melihat hal tersebut. Mereka belum pernah menyaksikan ayam jagoan seperti Bakkae Maroe sebelumnya.
Akhirnya Raja Bone berhasil memenangkan pertarungan tersebut. Masyarakat yang menyaksikan pun pulang setelah puas menonton helatan sabung ayam.
Bakkae Maroe kemudian dimasukkan ke kandang oleh Raja Bone. Ternyata kurungan ini justru membuat ayam tersebut menjadi tidak nyaman.
Pada suatu malam, Bakkae Maroe berhasil keluar dari kurungannya. Dia pun pergi ke Sungai Cenrana dan bertengger di atas batang pisang yang hanyut oleh aliran air.
Bakkae Maroe terbawa aliran tersebut hingga Muara Palline. Setelah itu, dia pun pindah ke kayu lapuk yang hanyut di sungai dan terbawa hingga ke Muara Panyula.
Orang-orang Panyula khawatir dengan keberadaan Bakkae Maroe. Mereka tidak ingin ayam-ayamnya mati oleh Bakkae Maroe.
Akhirnya Bakkae Maroe ditangkap dan dipotong. Setelah itu, masyarakat memakan Bakkae Maroe bersama-sama dan hanya menyisakan bulu serta tulangnya saja.
Kabar kehilangan Bakkae Maroe tentu membuat istana heboh. Raja Bone memerintahkan para pengawal untuk mencari ayam tersebut.
Anjing penjaga pun melacak bau Bakkae Maroe hingga ke Panyula. Setibanya di sana, anjing tersebut hanya menemukan tulang dan bulu ayam saja.
Raja Bone pun yakin jika orang-orang Panyula sudah memakan Bakkae Maroe. Akhirnya sang raja mengeluarkan titah jika orang-orang Panyula akan menjadi pengayuh perahu hingga anak keturunannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


