Lebih dari 20 tahun mengabdi di Kepulauan Galang, Batam, drg. Zahrotun Riyad tidak membatasi diri pada pekerjaannya sebagai dokter gigi. Tak tanggung-tanggung, ia malah ikut membuka jalan pendidikan bagi anak-anak di pulau terpencil dan menggerakkan ekonomi warga lewat peternakan domba.
Zahra, sapaan akrabnya, merupakan alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair). Meskipun spesialisasinya sebagai dokter gigi, ruang kerjanya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut.
Sejak 2018, ia merintis program beasiswa untuk anak-anak di Kepulauan Galang. Bantuan diberikan mulai jenjang SMP dan SMA hingga perguruan tinggi.
Hingga Agustus 2025 lalu, lebih dari 40–50 anak menerima bantuan rutin untuk membayar SPP. Sementara itu, 10 anak mendapat dukungan untuk melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi.
Beasiswa Dikumpulkan dari Jejaring Relawan
Bagi Zahra, anak-anak di daerah 3T seharusnya mendapat akses pendidikan yang sama. Mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
“Ini merupakan pengakuan kita sebagai manusia Indonesia, sebagaimana di pembukaan UUD yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga bukan hanya terbentuk pada seminar namun pada aksi nyata yang dilakukan,” ujar Zahra.
Nah, dari mana dana yang dikumpulkan untuk program beasiswa itu? Rupanya, program tersebut tidak berdiri dari satu sumber pendanaan. Zahra mengandalkan jejaring relawan yang tersebar di berbagai daerah hingga luar negeri.
Bahkan, sebagian relawan yang berada di Qatar dan Australia juga ikut mengumpulkan dana untuk menjaga agar bantuan pendidikan tetap berjalan.
“Setiap bulan ada dana untuk membayar SMP SMA. Dan setiap 6 bulan mengumpulkan dana untuk 10 orang yang kuliahnya,” kata Zahra.
Pola pendanaan itu membuat bantuan tidak berhenti pada kebutuhan sekolah dasar. Sebagian penerima juga memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Setelah Pendidikan, Zahra Menyasar Ekonomi Warga
Program untuk anak sudah berjalan, Zahra kemudian membuat program pemberdayaan yang menargetkan para orang tua. Ia mencoba membuat kegiatan yang bisa menghasilkan pendapatan. Salah satunya adalah pengelolaan peternakan domba.
Dalam program tersebut, domba dipelihara oleh masyarakat setempat. Hewan ternak kemudian dijual ketika Iduladha. Sebagian keuntungan dikembalikan kepada peternak, sementara sebagian lainnya digunakan sebagai modal untuk membeli domba kembali.
“Saya berharapnya dapat berkembang banyak, dan nantinya bisa meluas ke perikanan,” harapnya.
Kemiskinan Ekstrem Membekas bagi Zahra
Selama lebih dari dua dekade berada di Batam, kemiskinan ekstrem yang ditemuinya di sejumlah wilayah menjadi persoalan yang terus membekas bagi Zahra.
Ia menemukan masyarakat yang hidup tanpa listrik. Sebagian lainnya juga berada jauh dari akses pendidikan dan teknologi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pengabdiannya tidak berhenti pada layanan kesehatan.
Program pendidikan, misalnya menjadi salah satu yang mendapat respons besar. Orang tua dan siswa antusias mengajukan bantuan. Zahra bersama rekan-rekannya kemudian melakukan penggalangan dana untuk berbagai kebutuhan masyarakat.
Tak hanya itu, Zahra juga menyebut angka kehamilan dan persalinan pada usia remaja perlahan menurun.
Anak yang mendapat kesempatan melanjutkan sekolah memiliki pilihan masa depan yang lebih luas. Pada saat yang sama, pengetahuan dan akses informasi juga dapat berpengaruh terhadap keputusan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
“Ada sebuah cahaya yang, meskipun tidak 100 watt, tapi masih ada jalannya mereka untuk merancang masa depan,” tuturnya.
Ingin Memperbanyak Beasiswa dan Membangun Rumah Sakit Terapung
Setelah bertahun-tahun menjalankan berbagai program, Zahra belum ingin berhenti.
Ada dua hal yang ingin diperkuatnya. Pertama, memperbanyak beasiswa agar lebih banyak anak dari daerah terpencil mendapatkan kesempatan belajar. Kedua, mewujudkan gagasan rumah sakit terapung.
Rumah sakit terapung merupakan konsep layanan kesehatan yang menggunakan fasilitas di atas kapal atau sarana terapung untuk menjangkau masyarakat di wilayah kepulauan. Model seperti ini dapat menjadi salah satu pendekatan untuk wilayah yang sulit dijangkau fasilitas kesehatan darat.
Gagasan tersebut sejalan dengan pengalaman Zahra selama mengabdi di kawasan kepulauan. Persoalannya bukan hanya ada atau tidaknya layanan kesehatan, tetapi juga bagaimana layanan itu bisa sampai kepada masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan.
Dari sana, pengabdian Zahra menunjukkan bahwa profesi dokter gigi bisa menjadi pintu masuk untuk persoalan yang lebih luas.
Semua itu berangkat dari keyakinan Zahra bahwa pengabdian tidak cukup berhenti pada kegiatan seremonial.
“Sehingga bukan hanya terbentuk pada seminar namun pada aksi nyata yang dilakukan,” ujarnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


