Namanya Umar Malin Parmato, tetapi masyarakat lebih akrab memanggilnya Ongku Umar, seorang petani yang sepanjang hidupnya dekat dengan tanah sekaligus dengan kesenian bambu yang nyaris hilang dari pergaulan masyarakat. Ia tinggal di antara lekuk perbukitan Dusun Sungai Cocang, Desa Silungkang Oso, Kota Sawahlunto.
Umar tidak tumbuh sebagai seniman yang belajar di sekolah musik atau sanggar dengan metode tertulis. Ia lahir pada awal abad ke-20 dan menjalani kehidupan dalam lingkungan agraris Minangkabau yang lekat dengan alam serta tradisi lisan, tanpa pendidikan formal dan tanpa mengenal teori musik Barat.
Namun, keterbatasan pendidikan tidak membuatnya jauh dari musik. Alam di sekelilingnya justru menjadi ruang belajar yang membentuk kepekaan telinganya terhadap bunyi, irama, dan perubahan nada.
Kenangan tentang gandang botuang telah melekat dalam dirinya sejak masa kanak-kanak. Pada masa itu, alat musik berbahan bambu tersebut masih dikenal sebagai permainan yang populer di kalangan anak-anak gadis di lingkungan Silungkang, sementara ibunda Umar merupakan salah seorang yang piawai memainkannya.
Bagi Umar, suara gandang botuang bukan sekadar bunyi dari sepotong bambu. Di dalamnya tersimpan suasana rumah, masa kanak-kanak, dan sosok ibunya yang perlahan menjadi bagian dari masa lalu.
Waktu kemudian mengubah keadaan. Ketika sang ibu meninggal dunia, sementara gandang botuang semakin jarang dimainkan dan mulai menghilang dari kehidupan sehari-hari masyarakat, ingatan Umar justru menyimpan bentuk dan bunyinya semakin kuat.
Bertahun-tahun kemudian, sekitar dekade 1990-an, ingatan itu kembali muncul sebagai kegelisahan. Umar melihat alat musik yang pernah akrab dengan kehidupan masa kecilnya semakin sulit ditemukan, sementara generasi yang lebih muda semakin jarang mengenalnya.
Ia kemudian mencoba membuat kembali alat musik tersebut. Tidak ada benda asli yang dapat dijadikan contoh, tidak ada gambar teknis yang lengkap, dan tidak ada cetak biru yang bisa diikuti; yang tersedia hanyalah ingatan Umar tentang bentuk, cara memainkan, serta karakter bunyi yang pernah ia dengar sejak kecil.
Dengan mengandalkan pengalaman dan kepekaan tangannya, Umar mulai memilih bambu yang dianggap sesuai. Ia menggunakan bambu batuang gombong, kemudian mengolahnya secara bertahap hingga menghasilkan bentuk instrumen yang menurut ingatannya mendekati gandang botuang yang pernah dimainkan ibunya.
Dari proses itulah Talempong Batuang kembali terdengar di Silungkang. Instrumen tersebut memperlihatkan hubungan yang kuat antara teknologi sederhana, bahan alam, dan pengetahuan tradisional yang diwariskan melalui pengalaman langsung.
Secara bentuk, Talempong Batuang berbeda dari talempong yang umum dikenal di Sumatera Barat. Jika talempong lazimnya dibuat dari logam seperti kuningan atau tembaga, instrumen yang dikembangkan Umar sepenuhnya bertumpu pada bambu sebagai sumber bahan sekaligus pembentuk resonansinya.
Satu ruas bambu dengan panjang sekitar 60 sentimeter menjadi bagian utama instrumen tersebut. Pada permukaannya, kulit bambu diiris secara hati-hati hingga membentuk beberapa bagian menyerupai senar sembilu, sementara potongan-potongan kayu kecil ditempatkan di bawahnya untuk mengatur ketegangan dan karakter tinggi-rendah nada.
Rongga bambu kemudian bekerja sebagai ruang resonansi alami. Ketika dimainkan, bunyi yang muncul tidak hanya berasal dari petikan senar bambu, tetapi juga dari pertemuan antara getaran, rongga, dan pukulan yang menghasilkan karakter suara khas.
Cara Umar memainkannya pun memiliki teknik tersendiri. Ia duduk bersila sambil mendekap instrumen, tangan kiri memetik bagian senar, sedangkan tangan kanan memukul bagian resonator menggunakan pemukul khusus sehingga lahir rangkaian nada yang ritmis dan berlapis.
Di tengah kehidupan sehari-harinya sebagai petani, musik bambu tersebut tidak dimainkan di panggung besar. Umar lebih sering memainkannya pada waktu senggang, ketika pekerjaan di kebun telah selesai dan suasana kampung mulai tenang.
Dari lereng-lereng bukit Silungkang, bunyi bambu itu kemudian menjadi bagian dari keseharian Umar. Ia memainkan instrumen tersebut bukan sebagai pertunjukan yang dirancang untuk kemeriahan, melainkan sebagai kesenian yang tumbuh dari hubungan panjang antara manusia, alam, dan ingatan.
Perhatian terhadap kesenian tersebut mulai berkembang ketika akademisi, peneliti budaya, dan pemerintah daerah melihat keberadaan Talempong Batuang semakin bergantung pada keluarga Umar. Pengetahuan mengenai cara membuat dan memainkan instrumen itu belum tersebar luas, sehingga keberlangsungannya sangat terkait dengan kemampuan Umar meneruskan keterampilan tersebut.
Pada 5 Januari 2007, Umar kemudian membentuk kelompok pemusik lokal. Dari kelompok tersebut berkembang dua generasi pelestari yang dikenal dengan nama Batuang Saruai dan Batuang Sarumpun, membuka ruang baru bagi Talempong Batuang untuk kembali dimainkan secara berkelompok.
Estafet itu berlangsung ketika usia Umar telah memasuki masa senja. Bahkan setelah berusia lebih dari 90 tahun, ia masih menjadi salah satu figur utama yang memahami teknik permainan dan pembuatan instrumen tersebut.
Pengetahuan itu kemudian diteruskan kepada anak perempuannya, Misriyeni. Dari hubungan antara ayah dan anak tersebut, keterampilan yang sebelumnya tersimpan dalam pengalaman personal Umar mulai memiliki jalur pewarisan yang lebih jelas.
Kesenian yang bermula dari ingatan seorang anak terhadap permainan ibunya perlahan bergerak keluar dari lingkungan keluarga. Kelompok yang dibentuk Umar membawa Talempong Batuang tampil dalam berbagai kegiatan budaya di tingkat regional dan memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas.
Perjalanan tersebut membuat bunyi bambu dari Silungkang tidak lagi hanya terdengar di lingkungan tempat asalnya. Pemerintah daerah melalui kegiatan kebudayaan dan pariwisata turut memperkenalkannya dalam berbagai kesempatan, termasuk ke ruang pertunjukan yang lebih luas.
Kini Umar Malin Parmato telah berpulang. Namun, kisah tentang dirinya tidak berhenti pada seorang lelaki tua yang pernah memainkan bambu di lereng Silungkang, sebab pengetahuan yang ia bangun dari ingatan masa kecil telah berkembang menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan masyarakat setempat.
Jejak paling penting dari perjalanan itu terlihat pada pengakuan terhadap Talempong Batuang sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI). Sebuah instrumen yang lahir dari bambu, dirawat melalui ingatan, dan dimainkan dengan teknik sederhana akhirnya memperoleh tempat dalam catatan kebudayaan Indonesia.
Di balik status tersebut terdapat perjalanan panjang seorang Umar Malin Parmato. Ia tidak meninggalkan teori musik atau buku petunjuk tentang gandang botuang, tetapi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih konkret: bunyi, teknik, bentuk instrumen, dan pengetahuan yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


