Bagi penggemar masakan Padang, tentunya sudah tidak asing dengan menu dendeng. Sebab hidangan ini hampir selalu ada di rumah makan Padang, di samping rendang, gulai, dan sambal lado.
Namun, dendeng ternyata tidak hanya memiliki satu jenis saja. Ada berbagai varian seperti dendeng balado, dendeng batokok, dan dendeng lambok. Walaupun sekilas ketiganya tampak mirip, masing-masing punya cara olah, tekstur, dan arti nama yang berbeda. Berikut lima perbedaan yang perlu diketahui.
5 Perbedaan Dendeng Balado vs Dendeng Batokok vs Dendeng Lambok
Namanya sudah menjelaskan proses di dapur
Pada kuliner Minang, nama hidangan jarang muncul tanpa alasan, misalnya batokok yang berasal dari tokok, yang berarti dipukul. Sebab, dalam proses pengolahannya, daging yang sudah matang dan dibumbui lalu dipipihkan agar seratnya terbuka dan bumbu lebih meresap. Biasanya proses pemipihan ini menggunakan alat bantu dari batu ulekan.
Selanjutnya, lambok diartikan dari bahasa Minang berarti lembab atau tidak terlalu kering. Dengan demikian, dendeng lambok sering kali disebut dengan dendeng basah karena dagingnya tidak dibiarkan sampai kering.
Sementara itu, terdapat balado yang merujuk pada teknik memasak khas Minang. Hal ini terlihat saat pengolahannya, yaitu daging nantinya akan dilumuri sambal dari cabai merah yang ditumis bersama bawang hingga harum.
Cara Pengolahannya
Seperti yang sudah sedikit dibahas, perbedaan ketiga dendeng ini lahir dari proses pengolahan dagingnya. Hal ini terlihat dari cara pengolahan dendeng balado yang biasanya memakai irisan daging yang tipis dan lebar, yang nantinya akan disiram sambal setelah daging tersebut direbus, dikeringkan atau dijemur, lalu digoreng hingga garing.
Berbeda dengan itu, dendeng batokok memiliki cara pengolahan lain. Agar bumbu dapat meresap, setelah daging direbus dengan bumbu nantinya akan dipipihkan dengan cara dipukul.
Lalu selanjutnya bisa digoreng ataupun dibakar diatas arang kelapa. Karena tidak digoreng sampai kering total, bagian luarnya agak kering sementara dalamnya tetap empuk.
Sementara dendeng lambok memiliki potongan yang lebih tebal dan dimasak tanpa pengeringan sampai garing. Dagingnya tetap lembab dan juicy.
Penggunaan Jenis Cabai
Masakan khas Minang seringkali memiliki cita rasa yang pedas. Apalagi ketika berada di berbagai rumah makan Padang. Namun, tahukah Kawan GNFI bahwa menurut Detikfood dan penjelasan restoran Pagi Sore, ketiga dendeng ini tidak memakai cabai yang sama.
Sebab dendeng balado pada umumnya akan memakai cabai merah, sehingga rasanya cenderung pedas, gurih, dan sedikit asam. Berbeda dengan dendeng batokok yang lebih sering dipasangkan dengan lado mudo atau sambal cabai hijau yang diulek kasar. Rasanya lebih segar, meski kini banyak rumah makan juga menyajikannya dengan sambal merah.
Sementara itu, dendeng lambok biasanya akan terlihat memakai cabai merah maupun hijau, yang dipotong kasar. Sehingga saat disantap, mungkin saja menemukan potongan cabai yang hampir utuh.
Tekstur yang Berbeda
Karena diolah dengan cara yang berbeda, ketiga dendeng ini memiliki tekstur yang berbeda. Sebab prosesnya ada yang dikeringkan, dipipihkan, atau bahkan dibiarkan saja agar dagingnya tetap basah.
Seperti pada dendeng lambok, yang dibiarkan memiliki tekstur yang lebih lembab. Hal ini karena dagingnya tidak melalui pengeringan sampai garing, sehingga potongannya tetap juicy dan terasa lembut di lidah.
Berbeda dengan dendeng balado yang mengandalkan kerenyahannya. Sebab, daging akan digoreng dengan minyak yang panas agar luarnya kering tapi bagian tengahnya tetap bisa kenyal.
Sementara itu, dendeng batokok akan memiliki tekstur yang lebih berserat tetapi empok. Hal ini, karena pada proses pengelolaannya daging akan dipipihkan terlebih dahulu sebelum digoreng kering ataupun dibakar.
Itulah perbedaan dari dendeng balado, batokok, dan lambok yang perlu diketahui. Sehingga dengan mengetahui perbedaannya, Kawan GNFI dapat memilih makanan sesuai selera.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


